<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>4 Polisi Tewas Ditembak</title><description>Hal itu terjadi pada 2013. Semakin mengejutkan karena  pelaku mengincar beraksi di wilayah hukum Polda Metro  Jaya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2013/12/26/337/917531/4-polisi-tewas-ditembak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2013/12/26/337/917531/4-polisi-tewas-ditembak"/><item><title>4 Polisi Tewas Ditembak</title><link>https://news.okezone.com/read/2013/12/26/337/917531/4-polisi-tewas-ditembak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2013/12/26/337/917531/4-polisi-tewas-ditembak</guid><pubDate>Kamis 26 Desember 2013 09:52 WIB</pubDate><dc:creator>Tri Kurniawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2013/12/26/337/917531/zsyDHj20R4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Prosesi pelepasan jenazah Sukardi di Sanggita Asrama Brimob, Rabu (11/9/2013), foto: Heru Haryono</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2013/12/26/337/917531/zsyDHj20R4.jpg</image><title>Prosesi pelepasan jenazah Sukardi di Sanggita Asrama Brimob, Rabu (11/9/2013), foto: Heru Haryono</title></images><description>JAKARTA - Polisi  menembak penjahat mungkin biasa. Tapi, apa jadinya jika polisi yang ditembak  mati pelaku kriminal. Hal itu terjadi pada 2013. Semakin mengejutkan karena  pelaku mengincar beraksi di wilayah hukum Polda Metro  Jaya.
&amp;nbsp;
1. Peluru menembus  dada Aipda Patah Saktiyono,
&amp;nbsp;
Sabtu, 27 Juli 2013,  merupakan awal petaka bagi anggota Polri. Aipda Patah Saktiyono, ditembak orang  tak dikenal di Jalan Cireundeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, sekira pukul  04.30 WIB.
&amp;nbsp;
Mungkin, Patah tak  punya firasat jika pagi itu akan nahas. Saat warga lain masih terlelap dengan  mimpi, polisi lalu lintas Polres Metro Jakarta Pusat itu berangkat kerja dari  kediamannya di Bojongsari, Depok.
&amp;nbsp;
Tiba-tiba, dua orang  yang mengendarai sepeda motor mengokang senjata api dan menembak dada kiri pria  berusia 53 tahun itu, hingga tembus. Jarak pelaku dengan korban diduga sangat  dekat.
&amp;nbsp;
Setelah ditembak,  Patah yang saat itu mengenakan kaus dinas bertuliskan polisi, masih berusaha  mengendarai kendaraannya sejauh 200 meter sampai di sebuah masjid. Berkat  pertolongan warga, nyawanya bisa diselamatkan. Selanjutnya dia dibawa ke Rumah  Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.
&amp;nbsp;
2. Aiptu Dwiyatna  ditembak di kepala hingga tewas,
&amp;nbsp;
10 hari kemudian,  pelaku penembakan kembali beraksi. Sasarannya masih anggota Korps Bhayangkara.  Rabu, 7 Agustus 2013, Aiptu Dwiyatna (50), terkapar tak bernyawa setelah peluru  menembus helm dan bersarang di kepalanya.
&amp;nbsp;
Penembakan terhadap  anggota satuan Pembinaan Masyarakat (Bimas) Polsek Metro Cilandak itu terjadi di Jalan Otista Raya,  Ciputat, Tangerang Selatan. Pelaku lagi-lagi beraksi pada pagi hari, sekira  pukul 05.00 WIB.
&amp;nbsp;
Niat korban berangkat  ke Lebak Bulus untuk memberikan ceramah akhirnya pupus. Kabid Humas Polda Metro  Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan, dugaan sementara penembakan terhadap  Dwiyatna berkaitan dengan penembakan terhadap penembakan Aipda  Patah.
&amp;nbsp;
Mendengar keterangan  saksi, memang ada kesamaan fakta penembakan terhadap keduanya. Fakta pertama,  pelaku memepet korban yang mengendarai sepeda motor Suzuki Smash 2643-31 VII. 
&amp;nbsp;
Pelakunya juga dua  orang yang mengendarai sepeda motor. Fakta lainnya, pelaku juga nekat menembak  Dwiyatna dari jarak dekat.
&amp;nbsp;
&quot;Korban ditembak pada  bagian kepala. Penembakan dilakukan dari jarak dekat. Kami menduga ini masih  berhubungan,&quot; kata Rikwanto, saat itu.
&amp;nbsp;
3. Polisi narkoba,  AKP Tulam Nyaris Jadi Korban,
&amp;nbsp;
Suara letusan senjata  mengejutkan warga Perumahan Banjar Wijaya, Kelurahan Cipete Pinang, Kota  Tangerang, 13 Agustus 2013. Rumah anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya,  AKP Tulam yang ada di Cluster Yunani, perumahan tersebut ditembak orang tak  dikenal.
&amp;nbsp;
AKP Tulam nyaris jadi  korban karena penembakan terjadi tak lama setelah dia keluar rumah untuk  berangkat dinas, sekira pukul 06.00 WIB. Dor! suara tembakan terdengar. Peluru  memecahkan kaca rumah dua lantai itu.
&amp;nbsp;
Istri Tulam yang baru  saja beranjak dari pintu gerbang untuk mengantar suaminya kerja, terkejut. Tulam  memutuskan untuk kembali masuk rumah dan mengecek kejadian  itu.
&amp;nbsp;
Hasil olah tempat  kejadian perkara, aparat tidak menemukan proyektil. Diduga, pelaku menembak dari  luar pintu gerbang, menggunakan airsoft gun. 
&amp;nbsp;
4. Pelaku Tembak Mati  2 Polisi Sekaligus
&amp;nbsp;
Rentetan penembakan  terhadap anggota polisi belum berhenti. Sabtu, 17 Agustus 2013, orang tak  dikenal menembak mati dua anggota Polsek Pondok Aren. Kejadian berlangsung  sekira pukul 22.00 WIB, di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Kota  Tangerang.
&amp;nbsp;
Dua orang pelaku  awalnya mengincar Aipda Kus Hendratna. Pelaku yang mengendarai sepeda motor  Yamaha Mio warna hitam mempet sepeda motor Aipda Kus yang saat itu menuju Polsek  Pondok Aren untuk ikut apel persiapan operasi cipta kondisi. 
&amp;nbsp;
Tiba-tiba, pelaku  mengokang senjata dan menembak bagian belakang kepala Aipda Kus. Polri kembali  berduka karena Aipda Kus tewas saat itu juga.
&amp;nbsp;
Rupanya, saat itu ada  Tim Buru Sergap yang hendak melintas menggunakan mobil Toyota Avanza dari arah  yang sama. Di dalamnya ada empat anggota. Melihat kejadian itu, mereka langsung  mengejar dan menabrak motor pelaku.
&amp;nbsp;
Sayang, mobil yang  dikemudikan Bripka Maulana terperosok ke got. Kemudian, Bripka Maulana berusaha  keluar dari mobil. Pelaku turun dari motornya dan menembak Bripka Maulana hingga  tewas.
&amp;nbsp;
Sempat terjadi baku  tembak antara tiga rekan Bripka Maulana dengan pelaku. Aksi itu tak berhasil  melumpuhkan pelaku. Pelaku kemudian merampas sepeda motor milik warga dan kabur  ke arah Pamulang.
&amp;nbsp;
Saksi di lokasi  melihat pelaku ada yang terluka dan memegang senjata api. Sedangkan sepeda motor  pelaku, tertinggal di lokasi kejadian.
&amp;nbsp;
Polda Metro Jaya  kemudian merilis sketsa dua pelaku penembakan di Pondok Aren, berdasarkan  keterangan saksi di lokasi. Pelaku pertama diperkirakan berusia 30 tahun, dengan  tinggi 170 sentimeter (cm), berbadan gemuk, dan berkulit  hitam.
&amp;nbsp;
Sedangkan pelaku  kedua, diperkirakan berusia kurang lebih 27 tahun, tinggi 168 cm, kulit hitam,  bertubuh kurus dengan rambut ikal tipis.
&amp;nbsp;
Jumat, 30 Agustus  2013, Polda Metro Jaya menetapkan dua orang dalam daftar pencarian orang, Hendi  Albar (29) dan Nurul Haq (26). Keduanya diduga terlibat penembakan polisi. 
&amp;nbsp;
Saat pengejaran  terhadap keduanya dilakukan, penembakan terhadap anggota polisi kembali  terjadi.
&amp;nbsp;
5. Bripka Sukardi  Tewas dengan Tiga Tembakan
&amp;nbsp;
Setelah beraksi di  pinggir Ibu Kota, pelaku penembakan mengincar polisi di tengah kota. Adalah  anggota Provost Bripka Sukardi yang jadi korban. Dia diberondong peluru di depan  Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jalan Rasuna Said, Jakarta  Selatan.
&amp;nbsp;
Pelaku tiga orang  mengendarai dua sepeda motor beraksi sekira pukul 22.20 WIB, Selasa, 10  September 2013. Saat itu, korban mengendarai sepeda motor Supra X 125 sedang  mengawal perjalanan truk untuk proyek di Jalan Rasuna  Said.
&amp;nbsp;
Pelaku mungkin sudah  membututi korban. Persis di depan Gedung KPK, pelaku menyalip laju sepeda motor  Sukardi. Tanpa basa-basi, pelaku langsung menembak Sukardi sebanyak tiga kali.  Melihat Sukardi tak berdaya, pelaku mangambil senjata Revolver yang terselip di  pinggang Sukardi, lalu kabur.
&amp;nbsp;
Peluru menembus dada  dan perut warga Jalan Cipinang Baru Raya, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, itu.  Darah segar keluar hingga menembus seragam warna cokelat. 
&amp;nbsp;
Sontak saja, arus  lalu lintas di Jalan Rasuna Said yang sudah mulai sepi, kembali ramai. Polisi,  wartawan dan warga berdatangan ke lokasi kejadian. Jasad pria yang dikenal  senang gotong royong itu dibawa ke Rumah Sakit Polri.
&amp;nbsp;
Usai Sukardi menjadi  korban, Polri mengimbau kepada jajarannya untuk meningkat kewaspadaan. Beragam  komentar soal latar belakang pelaku bermunculan. Ada yang menyebut ini ulah  teroris, namun tak sedikit juga yang ragu.
&amp;nbsp;
***
&amp;nbsp;
Senin, 16 Desember  2013, di depan anggota Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Sutarman mengklaim telah  menangkap tujuh pelaku penembakan terhadap polisi.
&amp;nbsp;
&quot;Polri berhasil  tangkap tersangka tujuh orang yang diduga jaringan penembakan anggota  kepolisian,&quot; kata Sutarman dalam rapat dengan anggota Komisi  III.
&amp;nbsp;
Nama-nama pelaku  penembakan yang berhasil diringkus oleh Polri adalah Iqbal, Asep, Budi Alamsyah,  Arif, Widagdo, Suyono dan Cahyo.
&amp;nbsp;
Menurut Sutarman,  Polri juga masih berusaha menangkap Nurul Haq dan Hendi Albar. &quot;Ini yang  langsung menembak anggota Polri yang menjadi korban beberapa saat lalu,&quot;  paparnya.
&amp;nbsp;
***
&amp;nbsp;
Bagaiamanapun,  masyarakat menaruh harapan besar kepada Polri untuk mampu menangkap semua orang  yang terlibat dalam kejadian itu. Jika tidak, kredibilitas Polri juga yang akan  jadi taruhannya. Akan muncul juga pertanyaan, jika polisi saja tidak aman, lalu  bagaimana dengan masyarakat sipil?
&amp;nbsp;
Kasus penembakan  terhadap Polri juga menunjukkan jika pelaku teror semakin berani dalam  menjalankan aksinya. Namun, Polri tak boleh kalah, apalagi sampai takut. Pelaku  teror harus ditumpas sampai ke akar-akarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Polisi  menembak penjahat mungkin biasa. Tapi, apa jadinya jika polisi yang ditembak  mati pelaku kriminal. Hal itu terjadi pada 2013. Semakin mengejutkan karena  pelaku mengincar beraksi di wilayah hukum Polda Metro  Jaya.
&amp;nbsp;
1. Peluru menembus  dada Aipda Patah Saktiyono,
&amp;nbsp;
Sabtu, 27 Juli 2013,  merupakan awal petaka bagi anggota Polri. Aipda Patah Saktiyono, ditembak orang  tak dikenal di Jalan Cireundeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, sekira pukul  04.30 WIB.
&amp;nbsp;
Mungkin, Patah tak  punya firasat jika pagi itu akan nahas. Saat warga lain masih terlelap dengan  mimpi, polisi lalu lintas Polres Metro Jakarta Pusat itu berangkat kerja dari  kediamannya di Bojongsari, Depok.
&amp;nbsp;
Tiba-tiba, dua orang  yang mengendarai sepeda motor mengokang senjata api dan menembak dada kiri pria  berusia 53 tahun itu, hingga tembus. Jarak pelaku dengan korban diduga sangat  dekat.
&amp;nbsp;
Setelah ditembak,  Patah yang saat itu mengenakan kaus dinas bertuliskan polisi, masih berusaha  mengendarai kendaraannya sejauh 200 meter sampai di sebuah masjid. Berkat  pertolongan warga, nyawanya bisa diselamatkan. Selanjutnya dia dibawa ke Rumah  Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.
&amp;nbsp;
2. Aiptu Dwiyatna  ditembak di kepala hingga tewas,
&amp;nbsp;
10 hari kemudian,  pelaku penembakan kembali beraksi. Sasarannya masih anggota Korps Bhayangkara.  Rabu, 7 Agustus 2013, Aiptu Dwiyatna (50), terkapar tak bernyawa setelah peluru  menembus helm dan bersarang di kepalanya.
&amp;nbsp;
Penembakan terhadap  anggota satuan Pembinaan Masyarakat (Bimas) Polsek Metro Cilandak itu terjadi di Jalan Otista Raya,  Ciputat, Tangerang Selatan. Pelaku lagi-lagi beraksi pada pagi hari, sekira  pukul 05.00 WIB.
&amp;nbsp;
Niat korban berangkat  ke Lebak Bulus untuk memberikan ceramah akhirnya pupus. Kabid Humas Polda Metro  Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan, dugaan sementara penembakan terhadap  Dwiyatna berkaitan dengan penembakan terhadap penembakan Aipda  Patah.
&amp;nbsp;
Mendengar keterangan  saksi, memang ada kesamaan fakta penembakan terhadap keduanya. Fakta pertama,  pelaku memepet korban yang mengendarai sepeda motor Suzuki Smash 2643-31 VII. 
&amp;nbsp;
Pelakunya juga dua  orang yang mengendarai sepeda motor. Fakta lainnya, pelaku juga nekat menembak  Dwiyatna dari jarak dekat.
&amp;nbsp;
&quot;Korban ditembak pada  bagian kepala. Penembakan dilakukan dari jarak dekat. Kami menduga ini masih  berhubungan,&quot; kata Rikwanto, saat itu.
&amp;nbsp;
3. Polisi narkoba,  AKP Tulam Nyaris Jadi Korban,
&amp;nbsp;
Suara letusan senjata  mengejutkan warga Perumahan Banjar Wijaya, Kelurahan Cipete Pinang, Kota  Tangerang, 13 Agustus 2013. Rumah anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya,  AKP Tulam yang ada di Cluster Yunani, perumahan tersebut ditembak orang tak  dikenal.
&amp;nbsp;
AKP Tulam nyaris jadi  korban karena penembakan terjadi tak lama setelah dia keluar rumah untuk  berangkat dinas, sekira pukul 06.00 WIB. Dor! suara tembakan terdengar. Peluru  memecahkan kaca rumah dua lantai itu.
&amp;nbsp;
Istri Tulam yang baru  saja beranjak dari pintu gerbang untuk mengantar suaminya kerja, terkejut. Tulam  memutuskan untuk kembali masuk rumah dan mengecek kejadian  itu.
&amp;nbsp;
Hasil olah tempat  kejadian perkara, aparat tidak menemukan proyektil. Diduga, pelaku menembak dari  luar pintu gerbang, menggunakan airsoft gun. 
&amp;nbsp;
4. Pelaku Tembak Mati  2 Polisi Sekaligus
&amp;nbsp;
Rentetan penembakan  terhadap anggota polisi belum berhenti. Sabtu, 17 Agustus 2013, orang tak  dikenal menembak mati dua anggota Polsek Pondok Aren. Kejadian berlangsung  sekira pukul 22.00 WIB, di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Kota  Tangerang.
&amp;nbsp;
Dua orang pelaku  awalnya mengincar Aipda Kus Hendratna. Pelaku yang mengendarai sepeda motor  Yamaha Mio warna hitam mempet sepeda motor Aipda Kus yang saat itu menuju Polsek  Pondok Aren untuk ikut apel persiapan operasi cipta kondisi. 
&amp;nbsp;
Tiba-tiba, pelaku  mengokang senjata dan menembak bagian belakang kepala Aipda Kus. Polri kembali  berduka karena Aipda Kus tewas saat itu juga.
&amp;nbsp;
Rupanya, saat itu ada  Tim Buru Sergap yang hendak melintas menggunakan mobil Toyota Avanza dari arah  yang sama. Di dalamnya ada empat anggota. Melihat kejadian itu, mereka langsung  mengejar dan menabrak motor pelaku.
&amp;nbsp;
Sayang, mobil yang  dikemudikan Bripka Maulana terperosok ke got. Kemudian, Bripka Maulana berusaha  keluar dari mobil. Pelaku turun dari motornya dan menembak Bripka Maulana hingga  tewas.
&amp;nbsp;
Sempat terjadi baku  tembak antara tiga rekan Bripka Maulana dengan pelaku. Aksi itu tak berhasil  melumpuhkan pelaku. Pelaku kemudian merampas sepeda motor milik warga dan kabur  ke arah Pamulang.
&amp;nbsp;
Saksi di lokasi  melihat pelaku ada yang terluka dan memegang senjata api. Sedangkan sepeda motor  pelaku, tertinggal di lokasi kejadian.
&amp;nbsp;
Polda Metro Jaya  kemudian merilis sketsa dua pelaku penembakan di Pondok Aren, berdasarkan  keterangan saksi di lokasi. Pelaku pertama diperkirakan berusia 30 tahun, dengan  tinggi 170 sentimeter (cm), berbadan gemuk, dan berkulit  hitam.
&amp;nbsp;
Sedangkan pelaku  kedua, diperkirakan berusia kurang lebih 27 tahun, tinggi 168 cm, kulit hitam,  bertubuh kurus dengan rambut ikal tipis.
&amp;nbsp;
Jumat, 30 Agustus  2013, Polda Metro Jaya menetapkan dua orang dalam daftar pencarian orang, Hendi  Albar (29) dan Nurul Haq (26). Keduanya diduga terlibat penembakan polisi. 
&amp;nbsp;
Saat pengejaran  terhadap keduanya dilakukan, penembakan terhadap anggota polisi kembali  terjadi.
&amp;nbsp;
5. Bripka Sukardi  Tewas dengan Tiga Tembakan
&amp;nbsp;
Setelah beraksi di  pinggir Ibu Kota, pelaku penembakan mengincar polisi di tengah kota. Adalah  anggota Provost Bripka Sukardi yang jadi korban. Dia diberondong peluru di depan  Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jalan Rasuna Said, Jakarta  Selatan.
&amp;nbsp;
Pelaku tiga orang  mengendarai dua sepeda motor beraksi sekira pukul 22.20 WIB, Selasa, 10  September 2013. Saat itu, korban mengendarai sepeda motor Supra X 125 sedang  mengawal perjalanan truk untuk proyek di Jalan Rasuna  Said.
&amp;nbsp;
Pelaku mungkin sudah  membututi korban. Persis di depan Gedung KPK, pelaku menyalip laju sepeda motor  Sukardi. Tanpa basa-basi, pelaku langsung menembak Sukardi sebanyak tiga kali.  Melihat Sukardi tak berdaya, pelaku mangambil senjata Revolver yang terselip di  pinggang Sukardi, lalu kabur.
&amp;nbsp;
Peluru menembus dada  dan perut warga Jalan Cipinang Baru Raya, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, itu.  Darah segar keluar hingga menembus seragam warna cokelat. 
&amp;nbsp;
Sontak saja, arus  lalu lintas di Jalan Rasuna Said yang sudah mulai sepi, kembali ramai. Polisi,  wartawan dan warga berdatangan ke lokasi kejadian. Jasad pria yang dikenal  senang gotong royong itu dibawa ke Rumah Sakit Polri.
&amp;nbsp;
Usai Sukardi menjadi  korban, Polri mengimbau kepada jajarannya untuk meningkat kewaspadaan. Beragam  komentar soal latar belakang pelaku bermunculan. Ada yang menyebut ini ulah  teroris, namun tak sedikit juga yang ragu.
&amp;nbsp;
***
&amp;nbsp;
Senin, 16 Desember  2013, di depan anggota Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Sutarman mengklaim telah  menangkap tujuh pelaku penembakan terhadap polisi.
&amp;nbsp;
&quot;Polri berhasil  tangkap tersangka tujuh orang yang diduga jaringan penembakan anggota  kepolisian,&quot; kata Sutarman dalam rapat dengan anggota Komisi  III.
&amp;nbsp;
Nama-nama pelaku  penembakan yang berhasil diringkus oleh Polri adalah Iqbal, Asep, Budi Alamsyah,  Arif, Widagdo, Suyono dan Cahyo.
&amp;nbsp;
Menurut Sutarman,  Polri juga masih berusaha menangkap Nurul Haq dan Hendi Albar. &quot;Ini yang  langsung menembak anggota Polri yang menjadi korban beberapa saat lalu,&quot;  paparnya.
&amp;nbsp;
***
&amp;nbsp;
Bagaiamanapun,  masyarakat menaruh harapan besar kepada Polri untuk mampu menangkap semua orang  yang terlibat dalam kejadian itu. Jika tidak, kredibilitas Polri juga yang akan  jadi taruhannya. Akan muncul juga pertanyaan, jika polisi saja tidak aman, lalu  bagaimana dengan masyarakat sipil?
&amp;nbsp;
Kasus penembakan  terhadap Polri juga menunjukkan jika pelaku teror semakin berani dalam  menjalankan aksinya. Namun, Polri tak boleh kalah, apalagi sampai takut. Pelaku  teror harus ditumpas sampai ke akar-akarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
