<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penyelesaian Konflik Sampang Lamban, Soekarwo Dinilai Cari Dukungan</title><description>Konflik antarawarga di Sampang, Jawa Timur, yang hingga kini belum  terselesaikan dinilai sebagai kesalahan dan ketidaktegasan Gubernur  Soekarwo.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/01/02/519/920588/penyelesaian-konflik-sampang-lamban-soekarwo-dinilai-cari-dukungan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/01/02/519/920588/penyelesaian-konflik-sampang-lamban-soekarwo-dinilai-cari-dukungan"/><item><title>Penyelesaian Konflik Sampang Lamban, Soekarwo Dinilai Cari Dukungan</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/01/02/519/920588/penyelesaian-konflik-sampang-lamban-soekarwo-dinilai-cari-dukungan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/01/02/519/920588/penyelesaian-konflik-sampang-lamban-soekarwo-dinilai-cari-dukungan</guid><pubDate>Kamis 02 Januari 2014 13:06 WIB</pubDate><dc:creator>Nurul Arifin</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/01/02/519/920588/j7FlgQYu1A.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Warga Syiah Sampang di pengungsian (dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/01/02/519/920588/j7FlgQYu1A.jpg</image><title>Warga Syiah Sampang di pengungsian (dok. Okezone)</title></images><description>SURABAYA - Konflik antarawarga di Sampang, Jawa Timur, yang hingga kini belum terselesaikan dinilai sebagai kesalahan dan ketidaktegasan Gubernur Soekarwo. Pengamat Politik Universitas Airlangga, Haryadi, menyebut, orang nomor satu di Provinsi itu terjebak dalam kepentingan untuk mencari dukungan. &quot;Khusus untuk kasus ini, Soekarwo salah langkah karena terjebak dalam kepentingan mencari dukungan, sehingga tidak tegas terhadap prinsip-prinsip multikulturalisme,&quot; kata Haryadi dalam sebuah diskusi di Surabaya, Rabu (2/1/2014). Sebagai Gubernur, Soekarwo seyogyanya paham mengenai multikultarilsme karena itu mewarnai kehidupan masyarakat di sana. Kasus itu menjadi pekerjaan rumah dan harus menjadi bahan refleksi di 2014.Dia menyayangkan terusirnya ratusan warga dari rumah mereka sendiri lantaran alasan keamanan, terlebih yang berinisiatif mengungsikan mereka adalah pemerintah dengan alasan keamanan. Alih-alih untuk menertibkan kekuatan yang intoleransi, justru negara telah mengakomodasi kekuatan tersebut.&quot;Dalam kacamata multikulturalisme, negara tidak boleh mentolerir kekuatan-kekuatan yang intoleransi. Itulah kenapa kasus Sampang ini menjadi berkepanjangan walaupun sudah ada upaya penanganan,&quot; ujar dosen Ilmu Politik Unair itu.Dia berpandangan, tidak ada kekuatan asing yang menyebabkan penyelesaian konflik berjalan lambat. Ini mengingat adanya kunjungan perwakilan kedutaan besar di pengungsian warga Sampang. &quot;Kenapa Kekuatan International itu turun, karena untuk memastikan apakah intoleransi benar-benar terjadi di tempat itu,&quot; tutupnya. Sampai saat ini, sebanyak 67 kepala keluarga mengungsi di Rumah Susun (Rusun) Jemdundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Para pengungsi belum kembali ke kampung halaman lantaran takut menjadi sasaran amuk massa.</description><content:encoded>SURABAYA - Konflik antarawarga di Sampang, Jawa Timur, yang hingga kini belum terselesaikan dinilai sebagai kesalahan dan ketidaktegasan Gubernur Soekarwo. Pengamat Politik Universitas Airlangga, Haryadi, menyebut, orang nomor satu di Provinsi itu terjebak dalam kepentingan untuk mencari dukungan. &quot;Khusus untuk kasus ini, Soekarwo salah langkah karena terjebak dalam kepentingan mencari dukungan, sehingga tidak tegas terhadap prinsip-prinsip multikulturalisme,&quot; kata Haryadi dalam sebuah diskusi di Surabaya, Rabu (2/1/2014). Sebagai Gubernur, Soekarwo seyogyanya paham mengenai multikultarilsme karena itu mewarnai kehidupan masyarakat di sana. Kasus itu menjadi pekerjaan rumah dan harus menjadi bahan refleksi di 2014.Dia menyayangkan terusirnya ratusan warga dari rumah mereka sendiri lantaran alasan keamanan, terlebih yang berinisiatif mengungsikan mereka adalah pemerintah dengan alasan keamanan. Alih-alih untuk menertibkan kekuatan yang intoleransi, justru negara telah mengakomodasi kekuatan tersebut.&quot;Dalam kacamata multikulturalisme, negara tidak boleh mentolerir kekuatan-kekuatan yang intoleransi. Itulah kenapa kasus Sampang ini menjadi berkepanjangan walaupun sudah ada upaya penanganan,&quot; ujar dosen Ilmu Politik Unair itu.Dia berpandangan, tidak ada kekuatan asing yang menyebabkan penyelesaian konflik berjalan lambat. Ini mengingat adanya kunjungan perwakilan kedutaan besar di pengungsian warga Sampang. &quot;Kenapa Kekuatan International itu turun, karena untuk memastikan apakah intoleransi benar-benar terjadi di tempat itu,&quot; tutupnya. Sampai saat ini, sebanyak 67 kepala keluarga mengungsi di Rumah Susun (Rusun) Jemdundo, Kecamatan Taman, Sidoarjo. Para pengungsi belum kembali ke kampung halaman lantaran takut menjadi sasaran amuk massa.</content:encoded></item></channel></rss>
