<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Nih, Cara Obati Pembesaran Prostat Anda   </title><description>Beragam cara bisa dilakukan  untuk mengobati  penderita   pembesaran prostat. Hanya saja,  pengobatan yang dilakukan harus tepat  agar keluhan bisa  diminimalisir.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/03/28/486/962056/nih-cara-obati-pembesaran-prostat-anda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/03/28/486/962056/nih-cara-obati-pembesaran-prostat-anda"/><item><title>Nih, Cara Obati Pembesaran Prostat Anda   </title><link>https://news.okezone.com/read/2014/03/28/486/962056/nih-cara-obati-pembesaran-prostat-anda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/03/28/486/962056/nih-cara-obati-pembesaran-prostat-anda</guid><pubDate>Jum'at 28 Maret 2014 11:54 WIB</pubDate><dc:creator>Qalbinur Nawawi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/03/28/486/962056/X3uNw0G3tM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembesaran prostat, (Foto: Healthmeup)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/03/28/486/962056/X3uNw0G3tM.jpg</image><title>Pembesaran prostat, (Foto: Healthmeup)</title></images><description>BERAGAM cara bisa dilakukan  untuk mengobati  penderita  pembesaran prostat. Hanya saja,  pengobatan yang dilakukan harus tepat agar keluhan bisa  diminimalisir.Menurut Dr. Gideon Tampubolon,  SpU, Ahli Bedah Saluran Kemih RS. Primere Bintaro, cara mengobati pembesaran  prostat bisa dimulai dari minum obat-obatan sampai melakukan operasi untuk  mengatasi keluhan nyeri. Namun untuk upaya  pengobatan, hal itu bisa  dilakukan bisa gejala belum parah. Bila pembesaran prostat sudah parah, upaya  operasi seperti trans urethral  resection thermotheraphy, pemasangan stent, ataupun  operasi dengan laser bisa dijadikan pilihan.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau pembesaran prostat masih  ringan, saya biasanya obeservasi dan tidak perlu memberikan obat-obatan, dan  menyuruh enam bulan datang lagi. Hal itu untuk melihat apakah memang orang itu  benar-benar mengalami pembesaran prostat atau tidak. Kalau pasien mau minum  fitofarmaka atau jamu untuk mengobatinya, memang sebagian kecil  menolong, tapi sebagian besar  efektif. Ini menurut peneliti yang kami buat,&quot; katanya ditemui Okezone di  Gedung Annex, Tangerang, baru-baru ini.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau gejalanya sedang, baru  bisa diberikan obat misalnya alfa bloker dan 5&amp;alpha;-reduktase inhibitor. Obat ini  untuk membuka saluran kencing, mencegah pembesaran prostat, namun harus diminum  seumur hidup,&quot; imbuhnya
&amp;nbsp;
Sementara untuk operasi,  dia lebih menganjurkan  melakukan laser karena minim pendarahan dan efek  samping, serta  cepat  masa penyembuhannya. Kalau penderita memakai trans urethral  resection yang merupakan standar  pengobatan di seluruh dunia, karena operasi ini penangananya dikerok prostat yang membesar oleh alat medis, hingga risiko operasi ini bisa membuat impotensi. Sementara memasang stent,  biasanya opsi ini dilakukan saat kondisi pasien lemah, di mana dia dibius lokal. Dan  stent akan mengembang, tapi efek samping dari operasi teknik ini, kalau  sedang ereksi banyak yang mengeluh sakit. Hal itu terjadi karena memang  lokasinya berdekatan dengan alat vital dan stent-nya pun ada risiko untuk  masuk ke kantung kemih.
&amp;nbsp;
&quot;Yang paling aman memang dengan  laser. Dengan gelombang elektromagnetik akan menghasilkan panas yang terarah.  Tapi aman jangkauannya, yakni kurang dari dua milimeter. Tentu dari dokternya juga  harus berhati-hati saat melakukannya,&quot; terangnya.</description><content:encoded>BERAGAM cara bisa dilakukan  untuk mengobati  penderita  pembesaran prostat. Hanya saja,  pengobatan yang dilakukan harus tepat agar keluhan bisa  diminimalisir.Menurut Dr. Gideon Tampubolon,  SpU, Ahli Bedah Saluran Kemih RS. Primere Bintaro, cara mengobati pembesaran  prostat bisa dimulai dari minum obat-obatan sampai melakukan operasi untuk  mengatasi keluhan nyeri. Namun untuk upaya  pengobatan, hal itu bisa  dilakukan bisa gejala belum parah. Bila pembesaran prostat sudah parah, upaya  operasi seperti trans urethral  resection thermotheraphy, pemasangan stent, ataupun  operasi dengan laser bisa dijadikan pilihan.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau pembesaran prostat masih  ringan, saya biasanya obeservasi dan tidak perlu memberikan obat-obatan, dan  menyuruh enam bulan datang lagi. Hal itu untuk melihat apakah memang orang itu  benar-benar mengalami pembesaran prostat atau tidak. Kalau pasien mau minum  fitofarmaka atau jamu untuk mengobatinya, memang sebagian kecil  menolong, tapi sebagian besar  efektif. Ini menurut peneliti yang kami buat,&quot; katanya ditemui Okezone di  Gedung Annex, Tangerang, baru-baru ini.
&amp;nbsp;
&quot;Kalau gejalanya sedang, baru  bisa diberikan obat misalnya alfa bloker dan 5&amp;alpha;-reduktase inhibitor. Obat ini  untuk membuka saluran kencing, mencegah pembesaran prostat, namun harus diminum  seumur hidup,&quot; imbuhnya
&amp;nbsp;
Sementara untuk operasi,  dia lebih menganjurkan  melakukan laser karena minim pendarahan dan efek  samping, serta  cepat  masa penyembuhannya. Kalau penderita memakai trans urethral  resection yang merupakan standar  pengobatan di seluruh dunia, karena operasi ini penangananya dikerok prostat yang membesar oleh alat medis, hingga risiko operasi ini bisa membuat impotensi. Sementara memasang stent,  biasanya opsi ini dilakukan saat kondisi pasien lemah, di mana dia dibius lokal. Dan  stent akan mengembang, tapi efek samping dari operasi teknik ini, kalau  sedang ereksi banyak yang mengeluh sakit. Hal itu terjadi karena memang  lokasinya berdekatan dengan alat vital dan stent-nya pun ada risiko untuk  masuk ke kantung kemih.
&amp;nbsp;
&quot;Yang paling aman memang dengan  laser. Dengan gelombang elektromagnetik akan menghasilkan panas yang terarah.  Tapi aman jangkauannya, yakni kurang dari dua milimeter. Tentu dari dokternya juga  harus berhati-hati saat melakukannya,&quot; terangnya.</content:encoded></item></channel></rss>
