<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gaji Kecil, Guru Honorer Banting Setir Jadi Joki 3 in 1</title><description>Guru honorer berinisal DGW (39) dari Bondowoso, Jawa Timur, terbuai  mimpi yang &quot;ditawarkan&quot; Ibu Kota untuk dapat mengubah nasibnya. Tak  ayal, ia pun rela menjadi joki 3 in 1 di kawasan Jakarta Selatan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/03/28/500/962106/gaji-kecil-guru-honorer-banting-setir-jadi-joki-3-in-1</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/03/28/500/962106/gaji-kecil-guru-honorer-banting-setir-jadi-joki-3-in-1"/><item><title>Gaji Kecil, Guru Honorer Banting Setir Jadi Joki 3 in 1</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/03/28/500/962106/gaji-kecil-guru-honorer-banting-setir-jadi-joki-3-in-1</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/03/28/500/962106/gaji-kecil-guru-honorer-banting-setir-jadi-joki-3-in-1</guid><pubDate>Jum'at 28 Maret 2014 13:39 WIB</pubDate><dc:creator>Angkasa Yudhistira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/03/28/500/962106/qHfa7l04VY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dokumentasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/03/28/500/962106/qHfa7l04VY.jpg</image><title>Dokumentasi Okezone</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Guru honorer berinisal DGW (39) dari Bondowoso, Jawa Timur, terbuai mimpi yang &quot;ditawarkan&quot; Ibu Kota untuk dapat mengubah nasibnya. Tak ayal, ia pun rela menjadi joki 3 in 1 di kawasan Jakarta Selatan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda, mengatakan, langkah yang diambil DGW lantaran malu karena selalu gagal dalam tes CPNS.
&amp;nbsp;
&quot;Dia mengaku ingin mengubah nasib di Jakarta. Karena sudah mengajar bertahun-tahun di kampung halaman tapi enggak ada perubahan nasib. 'Saya sudah tes CPNS berkali-kali tapi selalu gagal. Terakhir, kemarin tes saya gagal tapi istri saya lulus. Saya tambah malu sama istri,' begitu katanya,&quot; ujar Huda menirukan perkataan DGW, kepada Okezone, Jumat (28/3/2014).
&amp;nbsp;
Huda menjelaskan, DGW kerap mangkal di Jalan Patimura di depan Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta Selatan. &quot;Baru sebulan yang lalu dia di Jakarta. Menurut pengakuannya, dia di kampung menjadi guru SD bersama istrinya, WDS, dengan gaji hanya Rp150.000 sampai Rp200.000,&quot; terangnya.
&amp;nbsp;
DGW, kata Huda, mempunyai seorang anak yang masih berusia lima tahun. Karena frustrasi tidak lulus CPNS ia nekat ke Jakarta hanya dengan membawa uang Rp500.000, tanpa pamit ke anak dan istrinya.
&amp;nbsp;
Karena itu, ketika terjaring razia gabungan Satpol PP dengan Dinsos, DGW mengaku kualat akibat tak pamit.
&amp;nbsp;
Dijelaskan Huda, DGW merupakan sarjana pendidikan. Setelah terjaring razia, DGW mengaku kapok dan memilih untuk pulang ke kampung halamannya. &quot;Paman DGW, Sujadi (49) mengurus administrasi kepulangannya merasa bingung karena petani kampung,&quot; tandas Hadi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Guru honorer berinisal DGW (39) dari Bondowoso, Jawa Timur, terbuai mimpi yang &quot;ditawarkan&quot; Ibu Kota untuk dapat mengubah nasibnya. Tak ayal, ia pun rela menjadi joki 3 in 1 di kawasan Jakarta Selatan.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda, mengatakan, langkah yang diambil DGW lantaran malu karena selalu gagal dalam tes CPNS.
&amp;nbsp;
&quot;Dia mengaku ingin mengubah nasib di Jakarta. Karena sudah mengajar bertahun-tahun di kampung halaman tapi enggak ada perubahan nasib. 'Saya sudah tes CPNS berkali-kali tapi selalu gagal. Terakhir, kemarin tes saya gagal tapi istri saya lulus. Saya tambah malu sama istri,' begitu katanya,&quot; ujar Huda menirukan perkataan DGW, kepada Okezone, Jumat (28/3/2014).
&amp;nbsp;
Huda menjelaskan, DGW kerap mangkal di Jalan Patimura di depan Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta Selatan. &quot;Baru sebulan yang lalu dia di Jakarta. Menurut pengakuannya, dia di kampung menjadi guru SD bersama istrinya, WDS, dengan gaji hanya Rp150.000 sampai Rp200.000,&quot; terangnya.
&amp;nbsp;
DGW, kata Huda, mempunyai seorang anak yang masih berusia lima tahun. Karena frustrasi tidak lulus CPNS ia nekat ke Jakarta hanya dengan membawa uang Rp500.000, tanpa pamit ke anak dan istrinya.
&amp;nbsp;
Karena itu, ketika terjaring razia gabungan Satpol PP dengan Dinsos, DGW mengaku kualat akibat tak pamit.
&amp;nbsp;
Dijelaskan Huda, DGW merupakan sarjana pendidikan. Setelah terjaring razia, DGW mengaku kapok dan memilih untuk pulang ke kampung halamannya. &quot;Paman DGW, Sujadi (49) mengurus administrasi kepulangannya merasa bingung karena petani kampung,&quot; tandas Hadi.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
