<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rumah Sakit Sering Tolak Pasien karena Utang Pemerintah Numpuk</title><description>Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, Marius  Widjajarta, menuturkan, maraknya pasien miskin ditolak rumah sakit saat  berobat lantaran utang yang belum dibayarkan pemerintah terhadap rumah  sakit terbilang banyak.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/04/01/337/963394/rumah-sakit-sering-tolak-pasien-karena-utang-pemerintah-numpuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/04/01/337/963394/rumah-sakit-sering-tolak-pasien-karena-utang-pemerintah-numpuk"/><item><title>Rumah Sakit Sering Tolak Pasien karena Utang Pemerintah Numpuk</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/04/01/337/963394/rumah-sakit-sering-tolak-pasien-karena-utang-pemerintah-numpuk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/04/01/337/963394/rumah-sakit-sering-tolak-pasien-karena-utang-pemerintah-numpuk</guid><pubDate>Selasa 01 April 2014 07:06 WIB</pubDate><dc:creator>Dony Aprian</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/04/01/337/963394/xzf3TIE6Qi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/04/01/337/963394/xzf3TIE6Qi.jpg</image><title>Ilustrasi Okezone</title></images><description>JAKARTA - Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, Marius Widjajarta, menuturkan, maraknya pasien miskin ditolak rumah sakit saat berobat lantaran utang yang belum dibayarkan pemerintah terhadap rumah sakit terbilang banyak.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&quot;Terus terang itu tidak bisa menyalahkan pihak rumah sakit, karena pemerintah mempunyai utang yang banyak kepada rumah sakit. Jumlahnya bisa mencapai Rp50 juta per bulannya,&quot; kata Marius kepada Okezone, Senin (31/3/2014).
&amp;nbsp;
Dijelaskan Marius, utang tersebut belum dibayarkan pemerintah sejak beberapa bulan yang lalu. Sedangkan pihak rumah sakit, lanjut dia, memiliki kebutuhan operasional termasuk belanja obat-obatan.
&amp;nbsp;
&quot;Semua pimpinan rumah sakit termasuk RSCM, ada dari RS Cikini, RS Islam mempunyai hutang dari bulan Agustus-Desember 2013 untuk membayar obat-obatan kepada pabrik obat. Janjinya bulan Oktober 2014 dibayarkan 50 persen, tetapi saat ini pembayarannya tidak jelas,&quot; ucapnya.
&amp;nbsp;
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa kelas 3 SMP asal Padang Pariaman, Sumater Barat, M Ali (16), terancam tidak bisa mengikuti ujian karena pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menolak melakukan operasi tumor ganas yang dideritanya.
&amp;nbsp;
&quot;Akhirnya Ali muntah darah dari hidung dan mulut dan dalam keadaan koma, dibawa ke IGD RSCM. Satu hari dirawat di IGD, disuruh bawa pulang dengan alasan rawat inap penuh,&quot; kata Ketua Satuan Petugas (Satgas) Perlindungan Anak (PA), M Ihsan.
&amp;nbsp;
Beberapa hari berikutnya, lanjut Ihsan, peserta BPJS itu kembali muntah darah dari hidung dan mulut dan akhirnya dirawat kembali di RSCM. &quot;Baru dua malam dirawat inap, dokter kembali suruh pulang. Padahal dari enam tempat tidur, baru terisi tiga orang,&quot; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Orangtua Ali, kata Ihsan, sampai meminjam uang kepada orangtuanya di kampung karena uang mereka habis untuk proses CT Scan yang dilakukan RSCM secara berulang-ulang tanpa ada kepastian.
&amp;nbsp;
&quot;RSCM tetap mengusir mereka dan sekarang mereka hampir putus asa karena belum tahu kapan anaknya akan dioperasi dan dokter pun kembali menyuruh mereka pulang,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;
Ihsan berharap, Direktur RSCM bisa terketuk hatinya untuk segera memberikan pengobatan yang layak kepada Ali.
&amp;nbsp;
&quot;Tolong Direktur RSCM dan Menkes punya sedikit rasa kemanusiaan pada orang miskin. Ali terancam tidak bisa ikut ujian nasional. Dia tidak minta apa-apa. Dia hanya ingin cepat dioperasi sehingga bisa pulang ke Sumbar,&quot; tutupnya.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia, Marius Widjajarta, menuturkan, maraknya pasien miskin ditolak rumah sakit saat berobat lantaran utang yang belum dibayarkan pemerintah terhadap rumah sakit terbilang banyak.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;
&quot;Terus terang itu tidak bisa menyalahkan pihak rumah sakit, karena pemerintah mempunyai utang yang banyak kepada rumah sakit. Jumlahnya bisa mencapai Rp50 juta per bulannya,&quot; kata Marius kepada Okezone, Senin (31/3/2014).
&amp;nbsp;
Dijelaskan Marius, utang tersebut belum dibayarkan pemerintah sejak beberapa bulan yang lalu. Sedangkan pihak rumah sakit, lanjut dia, memiliki kebutuhan operasional termasuk belanja obat-obatan.
&amp;nbsp;
&quot;Semua pimpinan rumah sakit termasuk RSCM, ada dari RS Cikini, RS Islam mempunyai hutang dari bulan Agustus-Desember 2013 untuk membayar obat-obatan kepada pabrik obat. Janjinya bulan Oktober 2014 dibayarkan 50 persen, tetapi saat ini pembayarannya tidak jelas,&quot; ucapnya.
&amp;nbsp;
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa kelas 3 SMP asal Padang Pariaman, Sumater Barat, M Ali (16), terancam tidak bisa mengikuti ujian karena pihak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menolak melakukan operasi tumor ganas yang dideritanya.
&amp;nbsp;
&quot;Akhirnya Ali muntah darah dari hidung dan mulut dan dalam keadaan koma, dibawa ke IGD RSCM. Satu hari dirawat di IGD, disuruh bawa pulang dengan alasan rawat inap penuh,&quot; kata Ketua Satuan Petugas (Satgas) Perlindungan Anak (PA), M Ihsan.
&amp;nbsp;
Beberapa hari berikutnya, lanjut Ihsan, peserta BPJS itu kembali muntah darah dari hidung dan mulut dan akhirnya dirawat kembali di RSCM. &quot;Baru dua malam dirawat inap, dokter kembali suruh pulang. Padahal dari enam tempat tidur, baru terisi tiga orang,&quot; ungkapnya.
&amp;nbsp;
Orangtua Ali, kata Ihsan, sampai meminjam uang kepada orangtuanya di kampung karena uang mereka habis untuk proses CT Scan yang dilakukan RSCM secara berulang-ulang tanpa ada kepastian.
&amp;nbsp;
&quot;RSCM tetap mengusir mereka dan sekarang mereka hampir putus asa karena belum tahu kapan anaknya akan dioperasi dan dokter pun kembali menyuruh mereka pulang,&quot; tuturnya.
&amp;nbsp;
Ihsan berharap, Direktur RSCM bisa terketuk hatinya untuk segera memberikan pengobatan yang layak kepada Ali.
&amp;nbsp;
&quot;Tolong Direktur RSCM dan Menkes punya sedikit rasa kemanusiaan pada orang miskin. Ali terancam tidak bisa ikut ujian nasional. Dia tidak minta apa-apa. Dia hanya ingin cepat dioperasi sehingga bisa pulang ke Sumbar,&quot; tutupnya.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
