<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Awas! Jangan Terjebak Partai yang Ngaku Nasionalis</title><description>Pakar Komunikasi Politik Univesitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing  menyatakan, untuk menilai layak atau tidaknya pencapresan Joko Widodo  bukan saja diukur dari platform partai.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/04/05/568/965963/awas-jangan-terjebak-partai-yang-ngaku-nasionalis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/04/05/568/965963/awas-jangan-terjebak-partai-yang-ngaku-nasionalis"/><item><title>Awas! Jangan Terjebak Partai yang Ngaku Nasionalis</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/04/05/568/965963/awas-jangan-terjebak-partai-yang-ngaku-nasionalis</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/04/05/568/965963/awas-jangan-terjebak-partai-yang-ngaku-nasionalis</guid><pubDate>Sabtu 05 April 2014 15:48 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://e.okezone.com/error.png" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://e.okezone.com/error.png</image><title></title></images><description>JAKARTA- Pakar Komunikasi Politik Univesitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyatakan, untuk menilai layak atau tidaknya pencapresan Joko Widodo bukan saja diukur dari platform partai. Namun masyarakat juga harus melihat faktor konsistensinya yang ditegaskan dalam bentuk ucapan dan perbuatan.&quot;Jangan kita terjebak partai nasionalis, tetapi belum tentu nasionalis. Perbuatan dan tindakan harus sama&quot; kata Emrus, di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/4/2014).Menurutnya, untuk melihat kemampuan Jokowi bisa dimulai dari janjinya saat pertama kali mempimpin DKI. Saat itu Jokowi berjanji untuk membangun Ibu kota. &quot;Lalu Jokowi meninggalkan tugasnya dan lebih memilih RI 1 bagian dari sikap tak konsisten darinya. Kemampuan Jokowi untuk memperbaiki Jakarta, masih belum teruji dan terbukti. Capres punya kemampuan harus kita akui, tapi kelemahannya harus kita bongkar,&quot; bebernya.Oleh karena itu, sambung Emrus,&amp;nbsp; masyarakat jangan terjebak dengan partai yang mengusung slogan nasionalis. &quot;PDIP meski mengaku sebagai partai nasionalis, tetapi masih menganut sistem dinasti kepartaian. Ini jebakan politisi. Tidak terukur, hebat itu apa. Membangun sekian-sekian tapi masih konseptual, belum operasional,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA- Pakar Komunikasi Politik Univesitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menyatakan, untuk menilai layak atau tidaknya pencapresan Joko Widodo bukan saja diukur dari platform partai. Namun masyarakat juga harus melihat faktor konsistensinya yang ditegaskan dalam bentuk ucapan dan perbuatan.&quot;Jangan kita terjebak partai nasionalis, tetapi belum tentu nasionalis. Perbuatan dan tindakan harus sama&quot; kata Emrus, di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/4/2014).Menurutnya, untuk melihat kemampuan Jokowi bisa dimulai dari janjinya saat pertama kali mempimpin DKI. Saat itu Jokowi berjanji untuk membangun Ibu kota. &quot;Lalu Jokowi meninggalkan tugasnya dan lebih memilih RI 1 bagian dari sikap tak konsisten darinya. Kemampuan Jokowi untuk memperbaiki Jakarta, masih belum teruji dan terbukti. Capres punya kemampuan harus kita akui, tapi kelemahannya harus kita bongkar,&quot; bebernya.Oleh karena itu, sambung Emrus,&amp;nbsp; masyarakat jangan terjebak dengan partai yang mengusung slogan nasionalis. &quot;PDIP meski mengaku sebagai partai nasionalis, tetapi masih menganut sistem dinasti kepartaian. Ini jebakan politisi. Tidak terukur, hebat itu apa. Membangun sekian-sekian tapi masih konseptual, belum operasional,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
