<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Emansipasi Wanita Masih Diperlukan </title><description>Dulu, pada masa kehidupan RA Kartini, perjuangan menegakkan  emansipasi wanita sangat gencar. Kartini muda tidak gentar  memperjuangkan hak kaum perempuan agar setara dengan kaum laki-laki. </description><link>https://news.okezone.com/read/2014/04/21/560/973549/emansipasi-wanita-masih-diperlukan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/04/21/560/973549/emansipasi-wanita-masih-diperlukan"/><item><title>Emansipasi Wanita Masih Diperlukan </title><link>https://news.okezone.com/read/2014/04/21/560/973549/emansipasi-wanita-masih-diperlukan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/04/21/560/973549/emansipasi-wanita-masih-diperlukan</guid><pubDate>Senin 21 April 2014 19:27 WIB</pubDate><dc:creator>Rachmad Faisal Harahap</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/04/21/560/973549/pUlSjIsKj9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pramudi Bus Transjakarta mengenakan kebaya di Hari Kartini. (Foto: dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/04/21/560/973549/pUlSjIsKj9.jpg</image><title>Pramudi Bus Transjakarta mengenakan kebaya di Hari Kartini. (Foto: dok. Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Dulu, pada masa kehidupan Raden Ajeng Kartini,&amp;nbsp; perjuangan menegakkan emansipasi wanita sangat gencar. Kartini muda tidak gentar memperjuangkan hak kaum perempuan agar setara dengan kaum laki-laki. Ketika itu, kaum perempuan Indonesia selalu di bawah ketiak laki-laki. Bahkan, perempuan Indonesia juga dilarang bersekolah, hanya laki-lakilah yang boleh menuntut ilmu. Di era serba modern ini, bagaimanakah posisi emansipasi wanita di mata anak muda Indonesia? Menurut siswi SMAN 1 Pontianak, Malia Leigenda Anggiane, emansipasi wanita masih sangat dibutuhkan kaum perempuan modern. Saat ini masih ada emansipasi wanita walaupun tidak sekuat dulu. &quot;Zaman sekarang ini banyak contohnya; wanita yang sekolah hingga ke jenjang S-3, pernah menjadi Presiden. Perempuan yang bercita-cita menjadi calon legislator (caleg) juga bisa mewujudkannya, dengan syarat mempunyai suara minimal 30 persen,&quot; ujar siswi kelas XI IPA itu saat dihubungi Okezone, Senin (21/4/2014).Malia menilai, isu emansipasi wanita ini pun perlu disuarakan lagi. Menurutnya, derajat wanita tidak boleh di bawah kaum laki-laki, tetapi seimbang. Laki-laki dan perempuan, kata Malia, harus setara, saling melengkapi dan tidak boleh memihak siapa posisi yang lebih tinggi.&quot;Harus sama-sama saling melengkapi. Jadi, tidak boleh melebihi derajat laki-laki namun tidak juga di bawah laki-laki,&quot; ucapnya.&amp;nbsp;Ingin rafting gratis di Citarik? Buka link ini</description><content:encoded>JAKARTA - Dulu, pada masa kehidupan Raden Ajeng Kartini,&amp;nbsp; perjuangan menegakkan emansipasi wanita sangat gencar. Kartini muda tidak gentar memperjuangkan hak kaum perempuan agar setara dengan kaum laki-laki. Ketika itu, kaum perempuan Indonesia selalu di bawah ketiak laki-laki. Bahkan, perempuan Indonesia juga dilarang bersekolah, hanya laki-lakilah yang boleh menuntut ilmu. Di era serba modern ini, bagaimanakah posisi emansipasi wanita di mata anak muda Indonesia? Menurut siswi SMAN 1 Pontianak, Malia Leigenda Anggiane, emansipasi wanita masih sangat dibutuhkan kaum perempuan modern. Saat ini masih ada emansipasi wanita walaupun tidak sekuat dulu. &quot;Zaman sekarang ini banyak contohnya; wanita yang sekolah hingga ke jenjang S-3, pernah menjadi Presiden. Perempuan yang bercita-cita menjadi calon legislator (caleg) juga bisa mewujudkannya, dengan syarat mempunyai suara minimal 30 persen,&quot; ujar siswi kelas XI IPA itu saat dihubungi Okezone, Senin (21/4/2014).Malia menilai, isu emansipasi wanita ini pun perlu disuarakan lagi. Menurutnya, derajat wanita tidak boleh di bawah kaum laki-laki, tetapi seimbang. Laki-laki dan perempuan, kata Malia, harus setara, saling melengkapi dan tidak boleh memihak siapa posisi yang lebih tinggi.&quot;Harus sama-sama saling melengkapi. Jadi, tidak boleh melebihi derajat laki-laki namun tidak juga di bawah laki-laki,&quot; ucapnya.&amp;nbsp;Ingin rafting gratis di Citarik? Buka link ini</content:encoded></item></channel></rss>
