<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Alasan Pendidikan Papua Tak Kunjung Maju</title><description>Pemerintah bercita-cita agar seluruh wilayah Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang merata. Namun, masih banyak daerah di Nusantara yang kualitas pendidikannya terbelakang, termasuk Papua.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/06/03/373/993345/banyak-alasan-pendidikan-papua-tak-kunjung-maju</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/06/03/373/993345/banyak-alasan-pendidikan-papua-tak-kunjung-maju"/><item><title>Banyak Alasan Pendidikan Papua Tak Kunjung Maju</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/06/03/373/993345/banyak-alasan-pendidikan-papua-tak-kunjung-maju</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/06/03/373/993345/banyak-alasan-pendidikan-papua-tak-kunjung-maju</guid><pubDate>Selasa 03 Juni 2014 16:02 WIB</pubDate><dc:creator>Margaret Puspitarini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/06/03/373/993345/vlQUjs8UVC.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto : UGM</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/06/03/373/993345/vlQUjs8UVC.jpg</image><title>Foto : UGM</title></images><description>  Normal 0     false false false  EN-AU X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              JAKARTA - Pemerintah bercita-cita agar seluruh wilayah Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang merata. Namun, masih banyak daerah di Nusantara yang kualitas pendidikannya terbelakang, termasuk Papua.
&amp;nbsp;
Pengembangan pendidikan di Papua dinilai belum berjalan maksimal. Maka, rendahnya tingkat pendidikan rata-rata masyarakat Papua menjadi akar permasalahan yang berdampak pada persoalan lain, yakni politik, sosial, maupun ekonomi.
&amp;nbsp;
Topik tersebut yang diangkat dalam diskusi bertajuk &amp;lsquo;Prespektif Pengembangan Pendidikan di Papua:Problematika dan Strategi Pengembangan Pendidikan di Papua&amp;rsquo; yang digelar Keluarga Mahasiswa Papua Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang bisa disebut Kempagama.
&amp;nbsp;
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pokja Papua UGM Bambang Purwoko menjelaskan data kondisi pendidikan di Papua. Bambang menilai, data yang disajikan oleh BPS selama ini tidak sesuai dengan realita yang ada.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Realita di lapangan lebih rendah dari data yang ada. Contohnya, angka melek huruf di Provinsi Papua pada 2012 berkisar 75,83 persen. Padahal realita di lapangan tidak demikian. Banyak daerah-daerah di pegunungan yang kondisinya lebih buruk. Ketika kita bicara Papua, kita tidak hanya bicara soal Jayapura, Merauke, namun juga bicara soal (Kabupaten-red) Intan Jaya, Deiyai, Puncak,&amp;rdquo; tegas Bambang, seperti disitat dari situs UGM, Selasa (3/6/2014).
&amp;nbsp;
Menurut Bambang, ada banyak penyebab tertinggalnya pendidikan di Papua dibandingkan daerah lain di Indonesia. Dari segi pemerintahan, dia merasa sangsi komitmen dan terobosan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan.
&amp;nbsp;
Selain itu, rendahnya kualitas pengajar dan sarana prasarana yang belum memadai menjadi penghambat peningkatan kualitas pendidikan di Papua. &amp;ldquo;Tidak hanya dari pemerintah, masyarakat yang belum sadar arti penting pendidikan juga menjadi salah satu penghambat,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;nbsp;
Tapi, Bambang menilai Papua memiliki peluang untuk meningkatkan pendidikan mereka. Anggaran dana Otonomi Khusus (otsus) yang dimiliki Papua, lanjutnya, merupakan sebuah peluang baik jika digunakan secara tepat. &amp;ldquo;Belum lagi perhatian pihak luar seperti LSM dan masyarakat untuk Papua,&amp;rdquo; ungkap Dosen Fisipol UGM itu.                                                                                                                                            

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:&quot;&quot;;
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

</description><content:encoded>  Normal 0     false false false  EN-AU X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              JAKARTA - Pemerintah bercita-cita agar seluruh wilayah Indonesia memiliki kualitas pendidikan yang merata. Namun, masih banyak daerah di Nusantara yang kualitas pendidikannya terbelakang, termasuk Papua.
&amp;nbsp;
Pengembangan pendidikan di Papua dinilai belum berjalan maksimal. Maka, rendahnya tingkat pendidikan rata-rata masyarakat Papua menjadi akar permasalahan yang berdampak pada persoalan lain, yakni politik, sosial, maupun ekonomi.
&amp;nbsp;
Topik tersebut yang diangkat dalam diskusi bertajuk &amp;lsquo;Prespektif Pengembangan Pendidikan di Papua:Problematika dan Strategi Pengembangan Pendidikan di Papua&amp;rsquo; yang digelar Keluarga Mahasiswa Papua Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang bisa disebut Kempagama.
&amp;nbsp;
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pokja Papua UGM Bambang Purwoko menjelaskan data kondisi pendidikan di Papua. Bambang menilai, data yang disajikan oleh BPS selama ini tidak sesuai dengan realita yang ada.
&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Realita di lapangan lebih rendah dari data yang ada. Contohnya, angka melek huruf di Provinsi Papua pada 2012 berkisar 75,83 persen. Padahal realita di lapangan tidak demikian. Banyak daerah-daerah di pegunungan yang kondisinya lebih buruk. Ketika kita bicara Papua, kita tidak hanya bicara soal Jayapura, Merauke, namun juga bicara soal (Kabupaten-red) Intan Jaya, Deiyai, Puncak,&amp;rdquo; tegas Bambang, seperti disitat dari situs UGM, Selasa (3/6/2014).
&amp;nbsp;
Menurut Bambang, ada banyak penyebab tertinggalnya pendidikan di Papua dibandingkan daerah lain di Indonesia. Dari segi pemerintahan, dia merasa sangsi komitmen dan terobosan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan.
&amp;nbsp;
Selain itu, rendahnya kualitas pengajar dan sarana prasarana yang belum memadai menjadi penghambat peningkatan kualitas pendidikan di Papua. &amp;ldquo;Tidak hanya dari pemerintah, masyarakat yang belum sadar arti penting pendidikan juga menjadi salah satu penghambat,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;nbsp;
Tapi, Bambang menilai Papua memiliki peluang untuk meningkatkan pendidikan mereka. Anggaran dana Otonomi Khusus (otsus) yang dimiliki Papua, lanjutnya, merupakan sebuah peluang baik jika digunakan secara tepat. &amp;ldquo;Belum lagi perhatian pihak luar seperti LSM dan masyarakat untuk Papua,&amp;rdquo; ungkap Dosen Fisipol UGM itu.                                                                                                                                            

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:&quot;&quot;;
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

</content:encoded></item></channel></rss>
