<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Berkah Musim Kemarau bagi Warga Grobogan</title><description>Tiap kesulitan pasti ada jalan. Mungkin kalimat itulah yang dipegang teguh warga Tambakan, Kabupaten Grobogan menyikapi kemarau yang melanda sejak empat bulan lalu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/09/18/513/1040813/berkah-musim-kemarau-bagi-warga-grobogan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/09/18/513/1040813/berkah-musim-kemarau-bagi-warga-grobogan"/><item><title>Berkah Musim Kemarau bagi Warga Grobogan</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/09/18/513/1040813/berkah-musim-kemarau-bagi-warga-grobogan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/09/18/513/1040813/berkah-musim-kemarau-bagi-warga-grobogan</guid><pubDate>Kamis 18 September 2014 11:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rustaman Nusantara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/09/18/513/1040813/gUdzFshDgY.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penambang pasar musiman di Sungai Tuntang (foto: Rustaman Nusantara/Sindo TV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/09/18/513/1040813/gUdzFshDgY.jpg</image><title>Penambang pasar musiman di Sungai Tuntang (foto: Rustaman Nusantara/Sindo TV)</title></images><description>GROBOGAN &amp;ndash; Kekeringan yang melada wilayah Grobogan, Jawa Tengah, sejak empat bulan lalu tidak sepenuhnya memberikan dampak buruk bagi warga. Di Desa Tambakan, Kecamatan Gubug, misalnya, ibu-ibu memanfaatkan kondisi Sungai Tuntang yang mengering dengan menambang pasir untuk dijual.Penambangan pasar di Sungai Tuntang berlangsug secara sederhana. Para ibu mengeruk pasir dari dasar sungai menggunakan pacul lalu dimasukkan ke keranjang. Kemudian keranjang berisi pasir diangkut ke bibir sungai.Biasanya, ibu-ibu berangkat dari rumah pukul 08.00 WIB dan bekerja sampai pukul 17.00 WIB. Selama itu, mereka bisa 50 kali bolak-balik mengangkat keranjang pasir dari dasar sungai.Suparmi, salah satu penambang, mengatakan, tumpukan pasir baru bisa dijual ke tengkulak setelah terkumpul satu truk kecil. Untuk mengumpulkan pasir sebanyak itu, butuh waktu dua sampai tiga hari.&amp;nbsp; &amp;ldquo;Satu truk kecilnya dihargai Rp80 ribu,&amp;rdquo; aku Suparmi di lokasi, Kamis (18/9/2014).Ketika pembeli pasir datang, sambungnya, ia dan teman-temannya sementara waktu tidak mengeruk pasir di dasar sungai, melainkan menjadi buruh angkut pasir ke truk.Upah yang didapat selama menambang, diakuinya mampu menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga, meski tidak sebanyak penghasilannya sebagai petani.Menurut Suparmi, menjadi penambang musiman sudah dilakoni warga desa sejak puluhan tahun lalu. Saat kemarau, sawah warga yang merupakan sawah tadah hujan kering sehingga mereka tidak bisa bercocok tanam.</description><content:encoded>GROBOGAN &amp;ndash; Kekeringan yang melada wilayah Grobogan, Jawa Tengah, sejak empat bulan lalu tidak sepenuhnya memberikan dampak buruk bagi warga. Di Desa Tambakan, Kecamatan Gubug, misalnya, ibu-ibu memanfaatkan kondisi Sungai Tuntang yang mengering dengan menambang pasir untuk dijual.Penambangan pasar di Sungai Tuntang berlangsug secara sederhana. Para ibu mengeruk pasir dari dasar sungai menggunakan pacul lalu dimasukkan ke keranjang. Kemudian keranjang berisi pasir diangkut ke bibir sungai.Biasanya, ibu-ibu berangkat dari rumah pukul 08.00 WIB dan bekerja sampai pukul 17.00 WIB. Selama itu, mereka bisa 50 kali bolak-balik mengangkat keranjang pasir dari dasar sungai.Suparmi, salah satu penambang, mengatakan, tumpukan pasir baru bisa dijual ke tengkulak setelah terkumpul satu truk kecil. Untuk mengumpulkan pasir sebanyak itu, butuh waktu dua sampai tiga hari.&amp;nbsp; &amp;ldquo;Satu truk kecilnya dihargai Rp80 ribu,&amp;rdquo; aku Suparmi di lokasi, Kamis (18/9/2014).Ketika pembeli pasir datang, sambungnya, ia dan teman-temannya sementara waktu tidak mengeruk pasir di dasar sungai, melainkan menjadi buruh angkut pasir ke truk.Upah yang didapat selama menambang, diakuinya mampu menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga, meski tidak sebanyak penghasilannya sebagai petani.Menurut Suparmi, menjadi penambang musiman sudah dilakoni warga desa sejak puluhan tahun lalu. Saat kemarau, sawah warga yang merupakan sawah tadah hujan kering sehingga mereka tidak bisa bercocok tanam.</content:encoded></item></channel></rss>
