<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ari &quot;si Kulit Ular&quot; Tetap Tegar Jalani Hidup</title><description>Ari &quot;si kulit ular&quot; tetap tegas jalani hidup, meski sekujur tubuhnya mengering dan kaku. Tiap menit dia harus menyiramkan air ke tubuhnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/09/30/337/1046390/ari-si-kulit-ular-tetap-tegar-jalani-hidup</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/09/30/337/1046390/ari-si-kulit-ular-tetap-tegar-jalani-hidup"/><item><title>Ari &quot;si Kulit Ular&quot; Tetap Tegar Jalani Hidup</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/09/30/337/1046390/ari-si-kulit-ular-tetap-tegar-jalani-hidup</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/09/30/337/1046390/ari-si-kulit-ular-tetap-tegar-jalani-hidup</guid><pubDate>Selasa 30 September 2014 16:07 WIB</pubDate><dc:creator>Susi Fatimah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/09/30/337/1046390/hvzRCXcnoV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ari &quot;si Kulit Ular&quot; Tetap Tegar Jalani Hidup (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/09/30/337/1046390/hvzRCXcnoV.jpg</image><title>Ari &quot;si Kulit Ular&quot; Tetap Tegar Jalani Hidup (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Akhir September 2014, masyarakat kembali simpati atas pemberitaan di media massa yang mengisahkan perjuangan panjang anak 16 tahun menderita penyakit kulit tidak biasa. Pemberitaan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga media luar negeri.
&amp;nbsp;
Ari Wibowo, tak pernah menginginkan kulit tubuhnya kaku dan mengelupas seperti ular. Dia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan. Sejak dilahirkan, kulit Ari berwarna merah, menginjak usia satu tahun sisik di tubuh Ari mulai muncul. Kulitnya mengering dan pecah-pecah. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengobati Ari.
&amp;nbsp;
16 tahun sudah dijalani Ari dengan perjuangan. Tiap beberapa menit dia harus menyiramkan air ke sekujur tubuhnya agar agar tidak kering. Sang nenek, Masnah yang setia membantu Ari untuk membalurinya dengan salep khusus.
&amp;nbsp;
Kulit di sekujur tubuhnya tampak kering dan pecah-pecah, bahkan jemari tangannya pun terlihat tidak tumbuh dengan sempurna, daun telinganya harus melekat dengan kulit kepala. Rambut pun tak tumbuh di kepalanya.
&amp;nbsp;
Bukan hanya itu, bagian matanya sulit untuk berkedip karena kelopaknya merekat dengan kulit di bawah alisnya. Kendati demikian, anak pertama dari dua bersaudara ini masih bisa mendengar dan berbicara, walau ia tampak kesulitan untuk mengucap dengan mulutnya yang juga tampak mengering.
&amp;nbsp;
Ari yang tinggal di Jalan Palem Indah, RT 07/01, Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten, ini mengaku tidak merasa sakit dengan kondisi kulitnya itu.
&amp;nbsp;
&quot;Enggak sakit,&quot; tuturnya saat Okezone bertandang ke rumahnya beberapa waktu lalu.
&amp;nbsp;
Dia hanya merasa risih ketika tidur, karena dengan kondisi kulit yang mengering tubuhnya menjadi kaku atau sulit digerakkan.
&amp;nbsp;
Buah hati pasangan Mutali dan Ernawati ini nampak sabar dengan kondisi yang dialaminya. Hari-harinya diisi dengan menjaga warung internet (warnet) dan mengaji di masjid. Saat menjaga warnet itulah, Ari menghabiskan waktunya untuk bermain games bersama teman-temannya.
&amp;nbsp;
Ari pernah mengenyam bangku sekolah saat berusia enam tahun, namun pihak sekolah menolak kondisi Ari karena khawatir akan membuat siswa lain terganggu. Sang nenek tak patah semangat, dia mencoba memasukan Ari ke sekolah lain, namun tetap ditolak. Keluarga berharap ada pihak yang membantu Ari dalam pengobatannya. Baik itu pemerintah maupun sukarelawan.
&amp;nbsp;</description><content:encoded>JAKARTA - Akhir September 2014, masyarakat kembali simpati atas pemberitaan di media massa yang mengisahkan perjuangan panjang anak 16 tahun menderita penyakit kulit tidak biasa. Pemberitaan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga media luar negeri.
&amp;nbsp;
Ari Wibowo, tak pernah menginginkan kulit tubuhnya kaku dan mengelupas seperti ular. Dia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan. Sejak dilahirkan, kulit Ari berwarna merah, menginjak usia satu tahun sisik di tubuh Ari mulai muncul. Kulitnya mengering dan pecah-pecah. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengobati Ari.
&amp;nbsp;
16 tahun sudah dijalani Ari dengan perjuangan. Tiap beberapa menit dia harus menyiramkan air ke sekujur tubuhnya agar agar tidak kering. Sang nenek, Masnah yang setia membantu Ari untuk membalurinya dengan salep khusus.
&amp;nbsp;
Kulit di sekujur tubuhnya tampak kering dan pecah-pecah, bahkan jemari tangannya pun terlihat tidak tumbuh dengan sempurna, daun telinganya harus melekat dengan kulit kepala. Rambut pun tak tumbuh di kepalanya.
&amp;nbsp;
Bukan hanya itu, bagian matanya sulit untuk berkedip karena kelopaknya merekat dengan kulit di bawah alisnya. Kendati demikian, anak pertama dari dua bersaudara ini masih bisa mendengar dan berbicara, walau ia tampak kesulitan untuk mengucap dengan mulutnya yang juga tampak mengering.
&amp;nbsp;
Ari yang tinggal di Jalan Palem Indah, RT 07/01, Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten, ini mengaku tidak merasa sakit dengan kondisi kulitnya itu.
&amp;nbsp;
&quot;Enggak sakit,&quot; tuturnya saat Okezone bertandang ke rumahnya beberapa waktu lalu.
&amp;nbsp;
Dia hanya merasa risih ketika tidur, karena dengan kondisi kulit yang mengering tubuhnya menjadi kaku atau sulit digerakkan.
&amp;nbsp;
Buah hati pasangan Mutali dan Ernawati ini nampak sabar dengan kondisi yang dialaminya. Hari-harinya diisi dengan menjaga warung internet (warnet) dan mengaji di masjid. Saat menjaga warnet itulah, Ari menghabiskan waktunya untuk bermain games bersama teman-temannya.
&amp;nbsp;
Ari pernah mengenyam bangku sekolah saat berusia enam tahun, namun pihak sekolah menolak kondisi Ari karena khawatir akan membuat siswa lain terganggu. Sang nenek tak patah semangat, dia mencoba memasukan Ari ke sekolah lain, namun tetap ditolak. Keluarga berharap ada pihak yang membantu Ari dalam pengobatannya. Baik itu pemerintah maupun sukarelawan.
&amp;nbsp;</content:encoded></item></channel></rss>
