<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Setumpuk PR Sosial Menanti Jokowi</title><description>Setumpuk pekerjaan rumah (PR) di bidang politik, sosial dan ekonomi, menanti Presiden Terpilih, Joko Widodo.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/10/13/337/1051768/setumpuk-pr-sosial-menanti-jokowi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/10/13/337/1051768/setumpuk-pr-sosial-menanti-jokowi"/><item><title>Setumpuk PR Sosial Menanti Jokowi</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/10/13/337/1051768/setumpuk-pr-sosial-menanti-jokowi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/10/13/337/1051768/setumpuk-pr-sosial-menanti-jokowi</guid><pubDate>Senin 13 Oktober 2014 21:27 WIB</pubDate><dc:creator>Dede Suryana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/10/13/337/1051768/wb69SN7mT9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jokowi bersama Bos Facebook (Foto: Dede/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/10/13/337/1051768/wb69SN7mT9.jpg</image><title>Jokowi bersama Bos Facebook (Foto: Dede/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Setumpuk pekerjaan rumah (PR) di bidang politik, sosial dan ekonomi, menanti Presiden Terpilih, Joko Widodo. Khusus di bidang sosial, Jokowi bakal dihadapkan pada masih maraknya anak jalanan, lansia terlantar, dan persoalan kemiskinan. Sekjen Kementerian Sosial, Toto Utomo Budi Santosa menggambarkan, Indonesia masih memiliki 230 ribu anak jalanan, 2,4 juta lansia terlantar, 7 juta penyandang disabilitas, 2,3 juta rumah tidak layak huni, serta 230 ribu kepala keluarga yang tinggal di daerah terpencil. &amp;ldquo;Kondisi ini membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkompetensi dan professional untuk menangani masalah sosial yang semakin dinamis dan kompleks,&amp;rdquo; kata Toto di Bandung, Jawa Barat, kemarin. SDM berkompetensi dimaksud adalah pekerja sosial (peksos). Ujian bagi mereka yang sudah di depan mata, antara lain mengatasi konflik sosial dan ketidakberdayaan pada sebagian warga miskin yang membutuhkan penanganan serius pihak terkait.Kata Toto, dibutuhkan peksos dengan jiwa dan semangat membara, namun tulus ikhlas dalam bekerja serta mengedepankan sifat humanis dan professional. &amp;ldquo;Tidak mudah memang, tapi sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab,  prinsip dasar keilmuan ini, bersifat praktis yang cocok sebagai alat akselerasi penanganan masalah sosial,&amp;rdquo; ujarnya.Meski belum sebanding, Toto mengatakan, Kementerian Sosial membutuhkan tak kurang dari 15 ribu pekerja sosial yang akan fokus pada  peningkatan keterampilan masyarakat. Toto mengakui, profesi peksos saat belum sepopuler  dokter dan advokat. Kendati,  fungsi strategis dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat sangat jelas.&quot;Masalah sosial itu unik dan beragam, menjadikan pola penanganan berbeda dengan cara khusus. Salah satunya, penanganan bagi bekas pecandu narkotika yang membutuhkan sentuhan, advokasi dan motivasi agar berubah,&amp;rdquo; tandasnya.Pemberdayaan warga di pedalaman, juga membutuhkan pendekatan budaya, mediasi serta partisipasi. Berbagai pendekatan tersebut, sebagai bagian dari disiplin keilmuan peksos. Manfaat keilmuan akan teruji, bila mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan.Pada tingkat keilmuan paling mendekati dalam penanganan masalah sosial selain dengan sosiologi, antropologi, psikologi, serta peksos.  Kelak keilmuan peksos melahirkan cara yang disesuaikan dengan zaman.</description><content:encoded>JAKARTA - Setumpuk pekerjaan rumah (PR) di bidang politik, sosial dan ekonomi, menanti Presiden Terpilih, Joko Widodo. Khusus di bidang sosial, Jokowi bakal dihadapkan pada masih maraknya anak jalanan, lansia terlantar, dan persoalan kemiskinan. Sekjen Kementerian Sosial, Toto Utomo Budi Santosa menggambarkan, Indonesia masih memiliki 230 ribu anak jalanan, 2,4 juta lansia terlantar, 7 juta penyandang disabilitas, 2,3 juta rumah tidak layak huni, serta 230 ribu kepala keluarga yang tinggal di daerah terpencil. &amp;ldquo;Kondisi ini membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkompetensi dan professional untuk menangani masalah sosial yang semakin dinamis dan kompleks,&amp;rdquo; kata Toto di Bandung, Jawa Barat, kemarin. SDM berkompetensi dimaksud adalah pekerja sosial (peksos). Ujian bagi mereka yang sudah di depan mata, antara lain mengatasi konflik sosial dan ketidakberdayaan pada sebagian warga miskin yang membutuhkan penanganan serius pihak terkait.Kata Toto, dibutuhkan peksos dengan jiwa dan semangat membara, namun tulus ikhlas dalam bekerja serta mengedepankan sifat humanis dan professional. &amp;ldquo;Tidak mudah memang, tapi sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab,  prinsip dasar keilmuan ini, bersifat praktis yang cocok sebagai alat akselerasi penanganan masalah sosial,&amp;rdquo; ujarnya.Meski belum sebanding, Toto mengatakan, Kementerian Sosial membutuhkan tak kurang dari 15 ribu pekerja sosial yang akan fokus pada  peningkatan keterampilan masyarakat. Toto mengakui, profesi peksos saat belum sepopuler  dokter dan advokat. Kendati,  fungsi strategis dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat sangat jelas.&quot;Masalah sosial itu unik dan beragam, menjadikan pola penanganan berbeda dengan cara khusus. Salah satunya, penanganan bagi bekas pecandu narkotika yang membutuhkan sentuhan, advokasi dan motivasi agar berubah,&amp;rdquo; tandasnya.Pemberdayaan warga di pedalaman, juga membutuhkan pendekatan budaya, mediasi serta partisipasi. Berbagai pendekatan tersebut, sebagai bagian dari disiplin keilmuan peksos. Manfaat keilmuan akan teruji, bila mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan.Pada tingkat keilmuan paling mendekati dalam penanganan masalah sosial selain dengan sosiologi, antropologi, psikologi, serta peksos.  Kelak keilmuan peksos melahirkan cara yang disesuaikan dengan zaman.</content:encoded></item></channel></rss>
