<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>17 Tahun Dibakar, Hutan Indonesia Tinggal Cerita </title><description>17 tahun hutan Indonesia terutama di wilayah Riau dibakar oleh pengusaha sebagai alih fungsi lahan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/10/23/340/1055864/17-tahun-dibakar-hutan-indonesia-tinggal-cerita</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/10/23/340/1055864/17-tahun-dibakar-hutan-indonesia-tinggal-cerita"/><item><title>17 Tahun Dibakar, Hutan Indonesia Tinggal Cerita </title><link>https://news.okezone.com/read/2014/10/23/340/1055864/17-tahun-dibakar-hutan-indonesia-tinggal-cerita</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/10/23/340/1055864/17-tahun-dibakar-hutan-indonesia-tinggal-cerita</guid><pubDate>Kamis 23 Oktober 2014 08:48 WIB</pubDate><dc:creator>Banda Haruddin Tanjung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/10/23/340/1055864/17-tahun-dibakar-hutan-indonesia-tinggal-cerita-qTpZ7Dnhg7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">17 Tahun Dibakar, Hutan Indonesia Tinggal Cerita  (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/10/23/340/1055864/17-tahun-dibakar-hutan-indonesia-tinggal-cerita-qTpZ7Dnhg7.jpg</image><title>17 Tahun Dibakar, Hutan Indonesia Tinggal Cerita  (Foto: Antara)</title></images><description>  Normal 0     false false false  EN-AU X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              
PEKANBARU - Hutan Indonesia, terutama yang berada di wilayah Riau, terancam musnah akibat kasus pembakaran liar.
&amp;nbsp;
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau mencatat sedikitnya 160.000 hektare hutan Riau setiap tahunnya musnah. Penyebab selain kebakaran, ada juga akibat alih fungsi lahan perambahan.
&amp;nbsp;
&quot;Setiap tahun ratusan ribu hektare hutan Riau hancur akibat alih fungsi lahan. Saat ini kondisi hutan Riau krisis,&quot; kata Direktur Eksekutif Walhi Riau Rico kepada Okezone, Kamis (23/10/2014).
&amp;nbsp;
Walhi menyebutkan, hutan dan lahan di Riau yang terbakar merupakan areal konsesi perusahaan. Ironisnya, kebakaran hutan dan lahan di Riau sudah terjadi sejak sejak 1997. Artinya, sudah 17 tahun bencana asap terus berulang setiap tahun. Bahkan, dalam setahun bisa terjadi dua kali musim asap.&amp;nbsp; 
&amp;nbsp;

&amp;nbsp;
&amp;rdquo;Pada 2013, kami melaporkan ratusan perusahaan di Riau yang terindikasi membakar lahan. Karena kami temukan daerah konsesi mereka terbakar. Karena memang cara efektif membuka lahan adalah dengan membakar. Selain cepat, tentu juga murah. Setiap tahunnya perusahaan itu-itu saja yang membakar lahan. Dari ratusan perusahaan yang kami laporkan, hanya delapan yang diproses. Itu pun cuma satu yang saat ini jelas proses hukumnya, yakni perusahaan sawit asal Malaysia, PT Adei Plantation,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;
Akibat kebakaran hutan dan perambahan yang terus terjadi di Riau dia memperkirakan saat ini kawasan lindung di Riau saat ini hanya 1 juta hektare. Lambat laun jika ini tidak ditangani dengan baik oleh semua hutan Riau akan musnah.
                                                                                                                                            

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:&quot;&quot;;
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

</description><content:encoded>  Normal 0     false false false  EN-AU X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              
PEKANBARU - Hutan Indonesia, terutama yang berada di wilayah Riau, terancam musnah akibat kasus pembakaran liar.
&amp;nbsp;
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau mencatat sedikitnya 160.000 hektare hutan Riau setiap tahunnya musnah. Penyebab selain kebakaran, ada juga akibat alih fungsi lahan perambahan.
&amp;nbsp;
&quot;Setiap tahun ratusan ribu hektare hutan Riau hancur akibat alih fungsi lahan. Saat ini kondisi hutan Riau krisis,&quot; kata Direktur Eksekutif Walhi Riau Rico kepada Okezone, Kamis (23/10/2014).
&amp;nbsp;
Walhi menyebutkan, hutan dan lahan di Riau yang terbakar merupakan areal konsesi perusahaan. Ironisnya, kebakaran hutan dan lahan di Riau sudah terjadi sejak sejak 1997. Artinya, sudah 17 tahun bencana asap terus berulang setiap tahun. Bahkan, dalam setahun bisa terjadi dua kali musim asap.&amp;nbsp; 
&amp;nbsp;

&amp;nbsp;
&amp;rdquo;Pada 2013, kami melaporkan ratusan perusahaan di Riau yang terindikasi membakar lahan. Karena kami temukan daerah konsesi mereka terbakar. Karena memang cara efektif membuka lahan adalah dengan membakar. Selain cepat, tentu juga murah. Setiap tahunnya perusahaan itu-itu saja yang membakar lahan. Dari ratusan perusahaan yang kami laporkan, hanya delapan yang diproses. Itu pun cuma satu yang saat ini jelas proses hukumnya, yakni perusahaan sawit asal Malaysia, PT Adei Plantation,&quot; jelasnya.
&amp;nbsp;
Akibat kebakaran hutan dan perambahan yang terus terjadi di Riau dia memperkirakan saat ini kawasan lindung di Riau saat ini hanya 1 juta hektare. Lambat laun jika ini tidak ditangani dengan baik oleh semua hutan Riau akan musnah.
                                                                                                                                            

 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:&quot;&quot;;
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

</content:encoded></item></channel></rss>
