<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ritual Peutroen Aneuk yang Tak Lekang Zaman</title><description>Ritual peutroen aneuk dan peucicap merupakan tradisi sakral bagi masyarakat bumi Serambi Makkah yang dilakoni turun-temurun.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1059991/ritual-peutroen-aneuk-yang-tak-lekang-zaman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1059991/ritual-peutroen-aneuk-yang-tak-lekang-zaman"/><item><title>Ritual Peutroen Aneuk yang Tak Lekang Zaman</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1059991/ritual-peutroen-aneuk-yang-tak-lekang-zaman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1059991/ritual-peutroen-aneuk-yang-tak-lekang-zaman</guid><pubDate>Minggu 02 November 2014 11:54 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/11/02/340/1059991/ritual-peutroen-aneuk-yang-tak-lekang-zaman-CYtytCE8Qh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ritual {Peutroen Aneuk} yang Tak Lekang Zaman (Foto: Salman M/okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/11/02/340/1059991/ritual-peutroen-aneuk-yang-tak-lekang-zaman-CYtytCE8Qh.jpg</image><title>Ritual {Peutroen Aneuk} yang Tak Lekang Zaman (Foto: Salman M/okezone)</title></images><description>
Raut wajah Yusri (34) tampak bahagia, pagi itu. Putra kesayangannya genap berusia 44 hari, secara adat sudah layak untuk di bawa ke luar rumah. Sebuah hajatan syukuran digelar di rumah mertuanya, Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Anak kedua buah cinta Yusri dengan Salmawati (30) ini resmi keluar rumah melalui ritual peutroen aneuk (turun tanah anak) dan peucicap (sentuh rasa). Lewat prosesi yang dibalut dengan khanduri (kenduri) akikah ini, ia dibubuhi nama Naufal Ghiffari.
&amp;ldquo;Nama ini dari bahasa Arab, artinya juga indah &amp;lsquo;pemuda tampan dan murah hati&amp;rsquo;,&amp;rdquo; kata Salmawati di sela acara yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Ritual peutroen aneuk dan peucicap merupakan tradisi sakral bagi masyarakat bumi Serambi Makkah yang dilakoni turun-temurun. Ritual mengeluarkan bayi dari rumah dan menginjak kaki ke bumi ini dilaksanakan saat anak cukup umur; genap berusia 44 hari, bisa juga 3, 5, atau 7 bulan.
Sebelum ritual ini digelar, biasanya si bayi pantang dibawa keluar kecuali dalam kondisi tertentu atau darurat. Upacara ini sering digelar bersamaan dengan kenduri akikah.
Seperti halnya Yusri, dibantu anak-anak muda kampung, ia terus menyiapkan masakan gulai kambing. Dua ekor kambing disembelih sebagai syarat akikah atau wujud rasa syukur kepada Allah. Keluarga dari kedua pihak berkumpul di rumah tersebut.
Prosesi peutroen aneuk dan peucicap khidmat dan penuh nuansa religi. Razali (62), sang mertua Yusri, mengundang seorang ulama setempat Teungku Muhammad Azhawahiry, untuk memimpin upacara sakral bagi cucunya.
Layaknya pengantin sebelum acara berlangsung Naufal dimandikan dulu, kemudian dikenakan pakaian baru serta cincin perhiasan di jari manisnya.
Mulanya bayi mungil itu dipeusijuek (ditepung tawari) disertai pembacaan doa untuk keberkahan. Di dalam baki terhampar aneka makanan seperti ketan kuning, teumpoe, paha ayam goreng, air zam-zam, hati ayam, sari kurma dan bermacam buah manis.
Muhammad memangku Naufal, ujung jarinya mencolek satu-satu menu di baki, kemudian disentuhkan ke lidah si bayi agar alat perasanya lebih sensitif. Prosesi ini disebut peucicap.
Sejurus kemudian, Muhammad membolak-balikkan hati ayam sebagai isyarat agar si anak ini ketika besar nanti cerdas, kreatif dalam berpikir, otaknya tak buntu.
Tahap selanjutnya adalah puncak ritual. Naufal digendong keluar, sementara dua orang menyambut dengan mengelar kain di muka rumah. Sambil berdiri di pintu, Muhammad menyeru &amp;ldquo;Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh&amp;rdquo;.
&amp;ldquo;Waalaikumsalam,&amp;rdquo; jawab sejumlah orang yang sudah berkumpul di luar rumah. Seiring Muhammad melangkah, alunan shalawat terdengar dari mulut mereka. Muhammad berhenti sejenak di halaman kemudian jongkok, menginjakkan kaki si bayi ke bumi. Sambil dipayungi, dari atas kain, sebuah kelapa dibelah.
Trap&amp;hellip;!!! Airnya mengucur menembus kain, membasahi pelindung. Sebelah dari kelapa itu diberikan kepada Yusri, satu lagi ke Salmawati. Sebuah simbol isyarat agar ikatan batin anak dengan kedua orangtuanya tetap kekal.
Naufal kemudian dibawa keliling halaman. Sambil menggendong, Muhammad menyalami orang-orang dan bertegur sapa, menunjukkan sikap ramah agar kelak bisa ditiru oleh sang bayi saat menginjak besar.
Di saat bersamaan, orang-orang juga ikut menampilkan pelajaran saling menghargai dan mencintai lingkungan, lewat &amp;lsquo;akting&amp;rsquo; saling salaman beramah tamah, menyapu, bersih-bersih halaman rumah, menanam bunga. Uniknya lagi ada aksi bakar petasan (mercon), agar si bayi berani dan tak ciut dengan suara-suara ledakan.
Beberapa saat di luar, Naufal kembali dininabobokan dalam ayunan. Ia tidur dengan pulas. Para tamu memberikan sedekah kepada bayi ini dengan meletakkan dalam ayunan.
Lepas ritual ini, acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama. Gulai kambing yang sudah masak dihidangkan untuk para tamu yang hadir. Sebagiannya dibagikan kepada warga kurang mampu.
Malam tiba, sejumlah kaum lelaki dewasa kembali berkumpul di rumah ini untuk berdoa bersama dan membaca Surat Yasin, agar si bayi dan keluarganya lekas mendapat keberkahan.
</description><content:encoded>
Raut wajah Yusri (34) tampak bahagia, pagi itu. Putra kesayangannya genap berusia 44 hari, secara adat sudah layak untuk di bawa ke luar rumah. Sebuah hajatan syukuran digelar di rumah mertuanya, Gampong Meunasah Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Anak kedua buah cinta Yusri dengan Salmawati (30) ini resmi keluar rumah melalui ritual peutroen aneuk (turun tanah anak) dan peucicap (sentuh rasa). Lewat prosesi yang dibalut dengan khanduri (kenduri) akikah ini, ia dibubuhi nama Naufal Ghiffari.
&amp;ldquo;Nama ini dari bahasa Arab, artinya juga indah &amp;lsquo;pemuda tampan dan murah hati&amp;rsquo;,&amp;rdquo; kata Salmawati di sela acara yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Ritual peutroen aneuk dan peucicap merupakan tradisi sakral bagi masyarakat bumi Serambi Makkah yang dilakoni turun-temurun. Ritual mengeluarkan bayi dari rumah dan menginjak kaki ke bumi ini dilaksanakan saat anak cukup umur; genap berusia 44 hari, bisa juga 3, 5, atau 7 bulan.
Sebelum ritual ini digelar, biasanya si bayi pantang dibawa keluar kecuali dalam kondisi tertentu atau darurat. Upacara ini sering digelar bersamaan dengan kenduri akikah.
Seperti halnya Yusri, dibantu anak-anak muda kampung, ia terus menyiapkan masakan gulai kambing. Dua ekor kambing disembelih sebagai syarat akikah atau wujud rasa syukur kepada Allah. Keluarga dari kedua pihak berkumpul di rumah tersebut.
Prosesi peutroen aneuk dan peucicap khidmat dan penuh nuansa religi. Razali (62), sang mertua Yusri, mengundang seorang ulama setempat Teungku Muhammad Azhawahiry, untuk memimpin upacara sakral bagi cucunya.
Layaknya pengantin sebelum acara berlangsung Naufal dimandikan dulu, kemudian dikenakan pakaian baru serta cincin perhiasan di jari manisnya.
Mulanya bayi mungil itu dipeusijuek (ditepung tawari) disertai pembacaan doa untuk keberkahan. Di dalam baki terhampar aneka makanan seperti ketan kuning, teumpoe, paha ayam goreng, air zam-zam, hati ayam, sari kurma dan bermacam buah manis.
Muhammad memangku Naufal, ujung jarinya mencolek satu-satu menu di baki, kemudian disentuhkan ke lidah si bayi agar alat perasanya lebih sensitif. Prosesi ini disebut peucicap.
Sejurus kemudian, Muhammad membolak-balikkan hati ayam sebagai isyarat agar si anak ini ketika besar nanti cerdas, kreatif dalam berpikir, otaknya tak buntu.
Tahap selanjutnya adalah puncak ritual. Naufal digendong keluar, sementara dua orang menyambut dengan mengelar kain di muka rumah. Sambil berdiri di pintu, Muhammad menyeru &amp;ldquo;Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh&amp;rdquo;.
&amp;ldquo;Waalaikumsalam,&amp;rdquo; jawab sejumlah orang yang sudah berkumpul di luar rumah. Seiring Muhammad melangkah, alunan shalawat terdengar dari mulut mereka. Muhammad berhenti sejenak di halaman kemudian jongkok, menginjakkan kaki si bayi ke bumi. Sambil dipayungi, dari atas kain, sebuah kelapa dibelah.
Trap&amp;hellip;!!! Airnya mengucur menembus kain, membasahi pelindung. Sebelah dari kelapa itu diberikan kepada Yusri, satu lagi ke Salmawati. Sebuah simbol isyarat agar ikatan batin anak dengan kedua orangtuanya tetap kekal.
Naufal kemudian dibawa keliling halaman. Sambil menggendong, Muhammad menyalami orang-orang dan bertegur sapa, menunjukkan sikap ramah agar kelak bisa ditiru oleh sang bayi saat menginjak besar.
Di saat bersamaan, orang-orang juga ikut menampilkan pelajaran saling menghargai dan mencintai lingkungan, lewat &amp;lsquo;akting&amp;rsquo; saling salaman beramah tamah, menyapu, bersih-bersih halaman rumah, menanam bunga. Uniknya lagi ada aksi bakar petasan (mercon), agar si bayi berani dan tak ciut dengan suara-suara ledakan.
Beberapa saat di luar, Naufal kembali dininabobokan dalam ayunan. Ia tidur dengan pulas. Para tamu memberikan sedekah kepada bayi ini dengan meletakkan dalam ayunan.
Lepas ritual ini, acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama. Gulai kambing yang sudah masak dihidangkan untuk para tamu yang hadir. Sebagiannya dibagikan kepada warga kurang mampu.
Malam tiba, sejumlah kaum lelaki dewasa kembali berkumpul di rumah ini untuk berdoa bersama dan membaca Surat Yasin, agar si bayi dan keluarganya lekas mendapat keberkahan.
</content:encoded></item></channel></rss>
