<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Makna di Balik Peutroen Anuek &amp; Puecicap</title><description>Tradisi peutron aneuk dan peucicap ternyata memiliki nilai religi dan filosofi yang tinggi bagi warga Aceh.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1060103/makna-di-balik-peutroen-anuek-puecicap</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1060103/makna-di-balik-peutroen-anuek-puecicap"/><item><title>Makna di Balik Peutroen Anuek &amp; Puecicap</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1060103/makna-di-balik-peutroen-anuek-puecicap</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/11/02/340/1060103/makna-di-balik-peutroen-anuek-puecicap</guid><pubDate>Minggu 02 November 2014 18:36 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/11/02/340/1060103/makna-di-balik-peutroen-anuek-puecicap-oQSIa690ew.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Makna di Balik Peutroen Anuek &amp; Puecicap (ilustrasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/11/02/340/1060103/makna-di-balik-peutroen-anuek-puecicap-oQSIa690ew.jpg</image><title>Makna di Balik Peutroen Anuek &amp; Puecicap (ilustrasi)</title></images><description>
TRADISI peutron aneuk dan peucicap yang dilakoni turun-temurun bagi masyarakat Aceh, memiliki nilai religi dan filosofi yang tinggi. Prosesi ini dimaksudkan sebagai media untuk membangun tanggung jawab bersama terhadap tumbuh kembang si bayi.

&amp;ldquo;Ada makna filosofi yang sangat dalam di situ,&amp;rdquo; kata Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail kepada Okezone di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Dia mencontohkan, gerakan dalam ritual peucicap. Ini bukan sekadar untuk menyentuh rasa agar lidah si bayi lebih sensitif, tapi rasa-rasa manis yang disentuh ke organ perasa si anak juga disyaratkan diikuti dengan akhlaknya yang manis (baik) pula. &amp;ldquo;Supaya akhlaknya si anak juga manis nanti, seperti buah-buah itu,&amp;rdquo; ujarnya.

Begitu juga dengan prosesi menginjakkan kaki bayi ke tanah. Biasanya, kata Badruzzaman, orang yang memimpin peutroen aneuk atau yang menyentuhkan kakinya pertama kali ke bumi saat ritual itu, akan diisyaratkan kepada si bayi agar memiliki pendirian teguh dan iman yang kekal, sebagaimana sifat tanah, kekal.

Dalam hal ini, orang yang menginjakkan kaki si bayi ke tanah biasanya akan mengucapkan secara lisan isyarah dengan diawali hitungan dari satu sampai tujuh, atau ada juga yang sekadar meniatkan saja dalam hati sambil menyentuh kaki bayi ke bumi.

Menurutnya, prosesi ini sekaligus sebagai simbol memperkenalkan tanah dan lingkungan kepada si anak, supaya ia memperoleh keserasian dan kecintaan terhadap lingkungan. &amp;ldquo;Ada pengaruh satu sama lain,&amp;rdquo; jelas Badruzzaman.

Kennduri peutroen aneuk sendiri, kata dia, sarat makna silaturrahmi. Tetua kampung dan keluarga dari kedua pihak (ayah dan ibu) si bayi diundang bukan sekadar untuk makan-makan, tapi juga membangun sikap saling melindungi, mengasuh, membimbing dan memahami bahwa si bayi merupakan bagian dari kaum kita. &amp;ldquo;Itulah filosofi di dalamnya,&amp;rdquo; tukas Badruzzaman.

Menurutnya, gerak ritual dalam Peutron Anuek bukan hanya ditujukan kepada si anak semata, namun juga diarahkan kepada kaum yang hadir. Tujuannya agar senantiasa memilihara nilai-nilai yang terkandung untuk membimbing si anak.

&amp;ldquo;Ini semacam agreement keluarga agar si anak ini menjadi tanggung jawab bersama,&amp;rdquo; sebutnya.
</description><content:encoded>
TRADISI peutron aneuk dan peucicap yang dilakoni turun-temurun bagi masyarakat Aceh, memiliki nilai religi dan filosofi yang tinggi. Prosesi ini dimaksudkan sebagai media untuk membangun tanggung jawab bersama terhadap tumbuh kembang si bayi.

&amp;ldquo;Ada makna filosofi yang sangat dalam di situ,&amp;rdquo; kata Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Badruzzaman Ismail kepada Okezone di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Dia mencontohkan, gerakan dalam ritual peucicap. Ini bukan sekadar untuk menyentuh rasa agar lidah si bayi lebih sensitif, tapi rasa-rasa manis yang disentuh ke organ perasa si anak juga disyaratkan diikuti dengan akhlaknya yang manis (baik) pula. &amp;ldquo;Supaya akhlaknya si anak juga manis nanti, seperti buah-buah itu,&amp;rdquo; ujarnya.

Begitu juga dengan prosesi menginjakkan kaki bayi ke tanah. Biasanya, kata Badruzzaman, orang yang memimpin peutroen aneuk atau yang menyentuhkan kakinya pertama kali ke bumi saat ritual itu, akan diisyaratkan kepada si bayi agar memiliki pendirian teguh dan iman yang kekal, sebagaimana sifat tanah, kekal.

Dalam hal ini, orang yang menginjakkan kaki si bayi ke tanah biasanya akan mengucapkan secara lisan isyarah dengan diawali hitungan dari satu sampai tujuh, atau ada juga yang sekadar meniatkan saja dalam hati sambil menyentuh kaki bayi ke bumi.

Menurutnya, prosesi ini sekaligus sebagai simbol memperkenalkan tanah dan lingkungan kepada si anak, supaya ia memperoleh keserasian dan kecintaan terhadap lingkungan. &amp;ldquo;Ada pengaruh satu sama lain,&amp;rdquo; jelas Badruzzaman.

Kennduri peutroen aneuk sendiri, kata dia, sarat makna silaturrahmi. Tetua kampung dan keluarga dari kedua pihak (ayah dan ibu) si bayi diundang bukan sekadar untuk makan-makan, tapi juga membangun sikap saling melindungi, mengasuh, membimbing dan memahami bahwa si bayi merupakan bagian dari kaum kita. &amp;ldquo;Itulah filosofi di dalamnya,&amp;rdquo; tukas Badruzzaman.

Menurutnya, gerak ritual dalam Peutron Anuek bukan hanya ditujukan kepada si anak semata, namun juga diarahkan kepada kaum yang hadir. Tujuannya agar senantiasa memilihara nilai-nilai yang terkandung untuk membimbing si anak.

&amp;ldquo;Ini semacam agreement keluarga agar si anak ini menjadi tanggung jawab bersama,&amp;rdquo; sebutnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
