<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>2014, Tahunnya Arogansi Politik</title><description>Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) menetapkan bahwa 2014 sebagai tahunnya arogansi politik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2014/12/17/337/1080529/2014-tahunnya-arogansi-politik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2014/12/17/337/1080529/2014-tahunnya-arogansi-politik"/><item><title>2014, Tahunnya Arogansi Politik</title><link>https://news.okezone.com/read/2014/12/17/337/1080529/2014-tahunnya-arogansi-politik</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2014/12/17/337/1080529/2014-tahunnya-arogansi-politik</guid><pubDate>Rabu 17 Desember 2014 15:28 WIB</pubDate><dc:creator>Feri Agus Setyawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2014/12/17/337/1080529/2014-tahunnya-arogansi-politik-uvzmHCe6mL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">diskusi Soegeng Sarjadi Syndicate (Foto: Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2014/12/17/337/1080529/2014-tahunnya-arogansi-politik-uvzmHCe6mL.jpg</image><title>diskusi Soegeng Sarjadi Syndicate (Foto: Dok. Okezone)</title></images><description>
JAKARTA - Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) menetapkan bahwa 2014 sebagai tahunnya arogansi politik. Kesimpulan ini diambil berdasarkan panasnya situasi politik baik saat penyelenggaraan Pemilihan Presiden 2014 maupun setelahnya.
&quot;Kontestasi arogansi ini berawal saat Pilpres lalu dan masih berlangsung setelah penyelenggaraan pemilu,&quot; ujar peneliti SSS, Toto Sugiarto, di Wisma Kodel, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/12/2014).
Menurut Toto, keberlanjutan kontestasi dari arogansi politik itu telah masuk ke DPR (KMP-KIH) dan hingga ke internal partai (PPP-Golkar).
&quot;Hal ini diakibatkan karena kampanye yang personal saat itu (Pilpers) dan perilaku politisi yang tidak melihat batasan hukum dan batasan etika,&quot; ujarnya.
Sementara itu, Chairman SSS, Sukardi Rinakit mengatakan, arogansi politik ini timbul akibat konglomerasi politik yang dilakukan para tokoh.
&quot;Praktis politik di Indonesia itu kan konglomerasi politik, di mana pengusaha juga menjadi politisi bahkan jadi ketua umum partai. Dari situ arogansinya muncul,&quot; ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/10/29/16950/105586_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selain itu, menurut Sukardi arogansi politik ini muncul karena mendapat dukungan dari publik yang luas. &quot;Dukungan publik yang luas dan kuat ini akab membuat orang menjadi arogan,&quot; tambahnya.
Dia juga memprediksi perkembangan situasi politik paska Pilpres 2014 yang disebut sebagai tahun arogansi politik. &quot;Jadi pada 2015 nanti lebih pada introspeksi politik, lalu 2016 akan masuk kembali ke konsolidasi politik. Karena ribut-ribut atau arogansi ini enggak akan lama,&quot; tutupnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) menetapkan bahwa 2014 sebagai tahunnya arogansi politik. Kesimpulan ini diambil berdasarkan panasnya situasi politik baik saat penyelenggaraan Pemilihan Presiden 2014 maupun setelahnya.
&quot;Kontestasi arogansi ini berawal saat Pilpres lalu dan masih berlangsung setelah penyelenggaraan pemilu,&quot; ujar peneliti SSS, Toto Sugiarto, di Wisma Kodel, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (17/12/2014).
Menurut Toto, keberlanjutan kontestasi dari arogansi politik itu telah masuk ke DPR (KMP-KIH) dan hingga ke internal partai (PPP-Golkar).
&quot;Hal ini diakibatkan karena kampanye yang personal saat itu (Pilpers) dan perilaku politisi yang tidak melihat batasan hukum dan batasan etika,&quot; ujarnya.
Sementara itu, Chairman SSS, Sukardi Rinakit mengatakan, arogansi politik ini timbul akibat konglomerasi politik yang dilakukan para tokoh.
&quot;Praktis politik di Indonesia itu kan konglomerasi politik, di mana pengusaha juga menjadi politisi bahkan jadi ketua umum partai. Dari situ arogansinya muncul,&quot; ujarnya.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2014/10/29/16950/105586_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Selain itu, menurut Sukardi arogansi politik ini muncul karena mendapat dukungan dari publik yang luas. &quot;Dukungan publik yang luas dan kuat ini akab membuat orang menjadi arogan,&quot; tambahnya.
Dia juga memprediksi perkembangan situasi politik paska Pilpres 2014 yang disebut sebagai tahun arogansi politik. &quot;Jadi pada 2015 nanti lebih pada introspeksi politik, lalu 2016 akan masuk kembali ke konsolidasi politik. Karena ribut-ribut atau arogansi ini enggak akan lama,&quot; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
