<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Myanmar Protes PBB Soal Penyebutan Rohingya </title><description>Myanmar melakukan protes kepada PBB yang menggunakan kata Rohingya, untuk mendeskripsikan kaum minoritas yang sedang teraniaya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/02/04/18/1101501/myanmar-protes-pbb-soal-penyebutan-rohingya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/02/04/18/1101501/myanmar-protes-pbb-soal-penyebutan-rohingya"/><item><title>Myanmar Protes PBB Soal Penyebutan Rohingya </title><link>https://news.okezone.com/read/2015/02/04/18/1101501/myanmar-protes-pbb-soal-penyebutan-rohingya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/02/04/18/1101501/myanmar-protes-pbb-soal-penyebutan-rohingya</guid><pubDate>Rabu 04 Februari 2015 19:34 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/02/04/18/1101501/myanmar-protes-pbb-soal-penyebutan-rohingya-x3flKUJZA1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Myanmar Protes PBB Soal Penyebutan Rohingnya</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/02/04/18/1101501/myanmar-protes-pbb-soal-penyebutan-rohingya-x3flKUJZA1.jpg</image><title>Myanmar Protes PBB Soal Penyebutan Rohingnya</title></images><description>
NAYPYIDAW- Pemerintah Myanmar  melakukan protes kepada pejabat PBB yang menggunakan kata Rohingya, untuk mendeskripsikan kaum minoritas yang sedang teraniaya.

Padahal menurut pemerintah Myanmar kaum yang dimaksud oleh  PBB itu adalah kaum Bengali yang merupakan pendatang gelap dari negara tetangga mereka Bangladesh.

&amp;ldquo;Penggunaan kata seperti itu oleh PBB akan mengundang kebencian dari warga Myanmar, dan membuat usaha pemerintah untuk memperbaiki keadaan akan menjadi semakin sulit,&amp;rdquo; demikian kutipan dari Kementrian Luar Negeri Myanmar, seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (04/02/2015).

Sebagian besar dari etnis Rohingya di Myanmar yang berjumlah sebanyak 1,1 juta orang saat ini tidak mempunyai kewarganegaraan dan hidup dalam intimidasi di negaranya sendiri.

Pemerintah Myanmar melakukan praktek verifikasi kewarganegaraan yang kontroversial, dimana para etnis Rohingya diharuskan untuk mendaftarkan identitas mereka sebagai Bengali.

Pejabat PBB untuk Hak Asasi Manusia di Myanmar Yanghee Lee, mengatakan bahwa kondisi hidup mereka sangat buruk di sebuah kamp sekira 140 ribu Rohingya menetap setelah pertikaian dengan etnis Rakhine yang beragama Buddha pada 2012 silam.

Lee menyebutkan bahwa pernyataan pemerintah Myanmar mengenai penyebutan Rohingya dan Bengali itu bukanlah sesuatu yang produktif., dan meminta masyarakat lebih fokus untuk melihat kepentingan kebutuhan kemanusiaan dan pemenuhan hak asasi manusia disana.


</description><content:encoded>
NAYPYIDAW- Pemerintah Myanmar  melakukan protes kepada pejabat PBB yang menggunakan kata Rohingya, untuk mendeskripsikan kaum minoritas yang sedang teraniaya.

Padahal menurut pemerintah Myanmar kaum yang dimaksud oleh  PBB itu adalah kaum Bengali yang merupakan pendatang gelap dari negara tetangga mereka Bangladesh.

&amp;ldquo;Penggunaan kata seperti itu oleh PBB akan mengundang kebencian dari warga Myanmar, dan membuat usaha pemerintah untuk memperbaiki keadaan akan menjadi semakin sulit,&amp;rdquo; demikian kutipan dari Kementrian Luar Negeri Myanmar, seperti dilansir oleh Reuters, Rabu (04/02/2015).

Sebagian besar dari etnis Rohingya di Myanmar yang berjumlah sebanyak 1,1 juta orang saat ini tidak mempunyai kewarganegaraan dan hidup dalam intimidasi di negaranya sendiri.

Pemerintah Myanmar melakukan praktek verifikasi kewarganegaraan yang kontroversial, dimana para etnis Rohingya diharuskan untuk mendaftarkan identitas mereka sebagai Bengali.

Pejabat PBB untuk Hak Asasi Manusia di Myanmar Yanghee Lee, mengatakan bahwa kondisi hidup mereka sangat buruk di sebuah kamp sekira 140 ribu Rohingya menetap setelah pertikaian dengan etnis Rakhine yang beragama Buddha pada 2012 silam.

Lee menyebutkan bahwa pernyataan pemerintah Myanmar mengenai penyebutan Rohingya dan Bengali itu bukanlah sesuatu yang produktif., dan meminta masyarakat lebih fokus untuk melihat kepentingan kebutuhan kemanusiaan dan pemenuhan hak asasi manusia disana.


</content:encoded></item></channel></rss>
