<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ahok Terlalu!</title><description>Pernyataan Ahok yang terlontar saat wawancara di salah satu stasiun televisi sudah sangat keterlaluan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/03/22/338/1122388/ahok-terlalu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/03/22/338/1122388/ahok-terlalu"/><item><title>Ahok Terlalu!</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/03/22/338/1122388/ahok-terlalu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/03/22/338/1122388/ahok-terlalu</guid><pubDate>Minggu 22 Maret 2015 05:55 WIB</pubDate><dc:creator>Qur'anul Hidayat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/03/22/338/1122388/ahok-terlalu-2ikQpDmu4Y.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ahok Terlalu! (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/03/22/338/1122388/ahok-terlalu-2ikQpDmu4Y.jpg</image><title>Ahok Terlalu! (Foto: Okezone)</title></images><description>
JAKARTA - Psikolog politik dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen menilai, tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan ucapan kasar Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam sebuah wawancaranya di stasiun televisi.
Kata Dewi, hak setiap orang untuk berpikiran jelek tentang suatu hal. Namun, ada baiknya pemikiran itu diungkapkan secara beretika di ranah publik. Terlebih, tindak-tanduk publik figur seperti Ahok disaksikan oleh berbagai kalangan, termasuk anak di bawah umur.
&quot;Mau ngomong apa pun sebagai alasan, ucapan itu tidak pantas, tidak bermoral dan tidak ada pembenaran. Kalau itu dibenarkan, apa jadinya negara ini?,&quot; kata Dewi saat berbincang dengan Okezone, di Jakarta, Sabtu (21/3/2015).
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2015/02/27/18703/116765_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Penulis buku berjudul Personal Branding itu menyebut, tingkah mantan Bupati Belitung Timur itu kali ini sudah keterlaluan. Hal itulah menurutnya yang akan merugikan Ahok sendiri ke depannya.
&quot;Kalau saya bilang ibarat orang Jawa, ngono yo ngono ning ojo ngono. Kalau Rhoma Irama bilang, terlalu! Jangan berlebihan,&quot; tegasnya.
Dewi menambahkan, elektabilitas yang dibangun seorang politikus ada batasnya. Jika terlalu berlebihan, ada titik jenuh yang akhirnya akan membuatnya merosot.
&quot;Kalau keterlaluan itu, elektabilitas kalau terlalu manis (banyak pencitraan) orang muntah juga. Elektabilitas itu ada peak-nya. Begitu sudah puncak dan terus seperti itu, akhirnya menurun. Terlebih orang melihat masalah banjir saja enggak ada perbaikan,&quot; simpulnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNS8wMy8xMy8yMi81OTk1NC80MTA4MzQzMTU5MDAx&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
</description><content:encoded>
JAKARTA - Psikolog politik dari Universitas Indonesia (UI) Dewi Haroen menilai, tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan ucapan kasar Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam sebuah wawancaranya di stasiun televisi.
Kata Dewi, hak setiap orang untuk berpikiran jelek tentang suatu hal. Namun, ada baiknya pemikiran itu diungkapkan secara beretika di ranah publik. Terlebih, tindak-tanduk publik figur seperti Ahok disaksikan oleh berbagai kalangan, termasuk anak di bawah umur.
&quot;Mau ngomong apa pun sebagai alasan, ucapan itu tidak pantas, tidak bermoral dan tidak ada pembenaran. Kalau itu dibenarkan, apa jadinya negara ini?,&quot; kata Dewi saat berbincang dengan Okezone, di Jakarta, Sabtu (21/3/2015).
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2015/02/27/18703/116765_medium.jpg&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Penulis buku berjudul Personal Branding itu menyebut, tingkah mantan Bupati Belitung Timur itu kali ini sudah keterlaluan. Hal itulah menurutnya yang akan merugikan Ahok sendiri ke depannya.
&quot;Kalau saya bilang ibarat orang Jawa, ngono yo ngono ning ojo ngono. Kalau Rhoma Irama bilang, terlalu! Jangan berlebihan,&quot; tegasnya.
Dewi menambahkan, elektabilitas yang dibangun seorang politikus ada batasnya. Jika terlalu berlebihan, ada titik jenuh yang akhirnya akan membuatnya merosot.
&quot;Kalau keterlaluan itu, elektabilitas kalau terlalu manis (banyak pencitraan) orang muntah juga. Elektabilitas itu ada peak-nya. Begitu sudah puncak dan terus seperti itu, akhirnya menurun. Terlebih orang melihat masalah banjir saja enggak ada perbaikan,&quot; simpulnya.
&amp;nbsp;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;http://video.okezone.com/embed/MjAxNS8wMy8xMy8yMi81OTk1NC80MTA4MzQzMTU5MDAx&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
</content:encoded></item></channel></rss>
