<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title> Kisah Perempuan Tangguh yang Jadi Pabentor di Makassar </title><description>Sinar Daeng Kebe, ibu satu anak yang mengadu nasib di Makassar dengan menjadi pabentor atau tukang becak motor.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/04/03/340/1128621/kisah-perempuan-tangguh-yang-jadi-pabentor-di-makassar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/04/03/340/1128621/kisah-perempuan-tangguh-yang-jadi-pabentor-di-makassar"/><item><title> Kisah Perempuan Tangguh yang Jadi Pabentor di Makassar </title><link>https://news.okezone.com/read/2015/04/03/340/1128621/kisah-perempuan-tangguh-yang-jadi-pabentor-di-makassar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/04/03/340/1128621/kisah-perempuan-tangguh-yang-jadi-pabentor-di-makassar</guid><pubDate>Jum'at 03 April 2015 11:57 WIB</pubDate><dc:creator>Salviah Ika Padmasari</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/04/03/340/1128621/kisah-perempuan-tangguh-yang-jadi-pabentor-di-makassar-lyyW2KKc6Z.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/04/03/340/1128621/kisah-perempuan-tangguh-yang-jadi-pabentor-di-makassar-lyyW2KKc6Z.jpg</image><title></title></images><description>
MAKASSAR &amp;ndash; Pabentor atau tukang becak motor di Makassar biasanya mayoritas dilakoni kaum pria di Kota Daeng Makassar. Tapi yang ini adalah pabentor perempuan, ibu satu anak berusia 30 tahun namanya Sinar Daeng Kebe, warga urban asal Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Sudah tujuh tahun bermukim di Makassar, Daeng Kabe mengadu nasib namun keberuntungan akan hidup layak belum juga dicapainya.
Daeng Kabe hidup sendiri setelah suaminya memilih mengadu nasib ke tanah Papua sebagai sopir angkot. Tidak hanya jauh dari suaminya, Sinar juga harus merasakan penderitaan jauh dari anak semata wayang, Muhammad Reza Maulana (5) karena untuk sementara Ia titip ke neneknya di Kabupaten Jeneponto.
lalu penghasilan seadanya, hanya cukup untuk makan kadang membuatnya kerap merasa teriris. Tapi hidup harus tetap berlanjut, harus mencari uang meski dari profesi yang mayoritas dilakoni laki-laki.
Ditemui di pinggir Jalan Hertasning Daeng Kebe tengah mengelap bentornya sembari menunggu calon penumpang. Penampilannya terlihat bersih dan rapi, masker di wajahnya jarang dilepas agar tidak banyak menghirup udara kotor.
Dia mengaku, sempat mengecap pendidikan hingga bangku SMA. Sementara rekan pabentornya yang lain, asyik bercanda dan mendengar alunan musik dari ponselnya. Tersisa tujuh bulan lagi, Bentor atau Becak Motor itu jadi milik Daeng Kebe sepenuhnya. Pasalnya, Bentor tersebut status cicil senilai Rp 900 ribu per bulannya.
Saat disapa, Daeng Kebe dengan ramah menyambut. Nada suaranya pelan seolah menyimpan miris yang begitu dalam.Hingga saat ditanya kabar anaknya, pelupuk mata Daeng Kebe langsung berkaca-kaca lalu akhirnya air mata tumpah.
&amp;ldquo;Anak saya di kampung sekarang, di Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto sama neneknya,&amp;rdquo; tutur Daeng Kebe dengan nada terisak.
Dirinya kemudian bercerita ketika bersama Rahim Daeng Nompo suaminya, (30), tinggal di Kabupaten Jeneponto bekerja sebagi buruh tani. Di daerah itu, panen padi hanya satu kali setahun. Sekali panen dapat 20 karung tapi itu dibagi lagi dengan pemilik sawah dan pekerja tanam sehingga bersih yang diterima tujuh karung. Saat sudah jadi beras hanya dapat 210 liter. Jika harga beras Rp8.000 maka hanya dapat Rp 1.680.000.
&amp;ldquo;Penghasilan selama setahun itu sekitar Rp 1 jutaan sangat tidak cukup untuk membiayai keluarga olehnya saya dan suami sepakat merantau ke Makassar,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>
MAKASSAR &amp;ndash; Pabentor atau tukang becak motor di Makassar biasanya mayoritas dilakoni kaum pria di Kota Daeng Makassar. Tapi yang ini adalah pabentor perempuan, ibu satu anak berusia 30 tahun namanya Sinar Daeng Kebe, warga urban asal Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Sudah tujuh tahun bermukim di Makassar, Daeng Kabe mengadu nasib namun keberuntungan akan hidup layak belum juga dicapainya.
Daeng Kabe hidup sendiri setelah suaminya memilih mengadu nasib ke tanah Papua sebagai sopir angkot. Tidak hanya jauh dari suaminya, Sinar juga harus merasakan penderitaan jauh dari anak semata wayang, Muhammad Reza Maulana (5) karena untuk sementara Ia titip ke neneknya di Kabupaten Jeneponto.
lalu penghasilan seadanya, hanya cukup untuk makan kadang membuatnya kerap merasa teriris. Tapi hidup harus tetap berlanjut, harus mencari uang meski dari profesi yang mayoritas dilakoni laki-laki.
Ditemui di pinggir Jalan Hertasning Daeng Kebe tengah mengelap bentornya sembari menunggu calon penumpang. Penampilannya terlihat bersih dan rapi, masker di wajahnya jarang dilepas agar tidak banyak menghirup udara kotor.
Dia mengaku, sempat mengecap pendidikan hingga bangku SMA. Sementara rekan pabentornya yang lain, asyik bercanda dan mendengar alunan musik dari ponselnya. Tersisa tujuh bulan lagi, Bentor atau Becak Motor itu jadi milik Daeng Kebe sepenuhnya. Pasalnya, Bentor tersebut status cicil senilai Rp 900 ribu per bulannya.
Saat disapa, Daeng Kebe dengan ramah menyambut. Nada suaranya pelan seolah menyimpan miris yang begitu dalam.Hingga saat ditanya kabar anaknya, pelupuk mata Daeng Kebe langsung berkaca-kaca lalu akhirnya air mata tumpah.
&amp;ldquo;Anak saya di kampung sekarang, di Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto sama neneknya,&amp;rdquo; tutur Daeng Kebe dengan nada terisak.
Dirinya kemudian bercerita ketika bersama Rahim Daeng Nompo suaminya, (30), tinggal di Kabupaten Jeneponto bekerja sebagi buruh tani. Di daerah itu, panen padi hanya satu kali setahun. Sekali panen dapat 20 karung tapi itu dibagi lagi dengan pemilik sawah dan pekerja tanam sehingga bersih yang diterima tujuh karung. Saat sudah jadi beras hanya dapat 210 liter. Jika harga beras Rp8.000 maka hanya dapat Rp 1.680.000.
&amp;ldquo;Penghasilan selama setahun itu sekitar Rp 1 jutaan sangat tidak cukup untuk membiayai keluarga olehnya saya dan suami sepakat merantau ke Makassar,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
