<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tertutup Awan, Fenomena Blood Moon Gagal Terlihat Jelas</title><description>Akibat tertutup awan, para pecinta astronomi Semarang gagal menikmati fenomena gerhana bulan &quot;blood moon&quot;.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/04/04/340/1129181/tertutup-awan-fenomena-blood-moon-gagal-terlihat-jelas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/04/04/340/1129181/tertutup-awan-fenomena-blood-moon-gagal-terlihat-jelas"/><item><title>Tertutup Awan, Fenomena Blood Moon Gagal Terlihat Jelas</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/04/04/340/1129181/tertutup-awan-fenomena-blood-moon-gagal-terlihat-jelas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/04/04/340/1129181/tertutup-awan-fenomena-blood-moon-gagal-terlihat-jelas</guid><pubDate>Sabtu 04 April 2015 20:16 WIB</pubDate><dc:creator>Mustholih</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/04/04/340/1129181/tertutup-awan-fenomena-blood-moon-gagal-terlihat-jelas-JBNdX7SN3m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gerhana sulit terlihat karena tertutup awan (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/04/04/340/1129181/tertutup-awan-fenomena-blood-moon-gagal-terlihat-jelas-JBNdX7SN3m.jpg</image><title>Gerhana sulit terlihat karena tertutup awan (Foto: Reuters)</title></images><description>
SEMARANG - Sejumlah pecinta astronomi dari Himpunan Astronomi Amatir Semarang (HAAS), melakukan pengamatan atas fenomena gerhana bulan total 'blood moon' di atas Taman Tabanas, Semarang, Jawa Tengah. Mereka berkumpul di atas lapangan yang terletak di dataran tinggi Gombel, Semarang, untuk melihat detik-detik terjadinya gerhana bulan sejak pukul 17.00 WIB.
Namun, mereka gagal mengamati puncak gerhana bulan yang berlangsung hanya enam menit karena langit tertutup awan.
Puncak gerhana yang terjadi dari pukul 19.00 WIB hingga 19.06 WIB tidak dapat dilihat meski mereka sudah mengamati bulan dengan menggunakan teropong.
&quot;Kita jadi gagal melihat warna merah darah dari gerhana bulan. Dengan teropong saja tidak bisa terlihat apalagi dengan mata telanjang,&quot; kata Dwi Lestari, koordinator HAAS, Sabtu (4/4/2015).
Menjelang puncak gerhana bulan, sebenarnya awan di langit Kota Semarang terlihat cerah. Namun, begitu memasuki puncak gerhana, awan berlahan-lahan menutupi bulan sehingga gerhana tidak dapat terlihat meski menggunakan alat bantu.
Menurut Dwi Lestari, fenomena gerhana bulan total apalagi disertai dengan warna merah terang seperti darah (blood moon) merupakan fenomena langka. &quot;Ini langka, ini bisa terjadi gerhana total lagi sampai 2018. Jadi tiga tiga tahun lagi kita baru bisa melihat gerhana bulan total lagi,&quot; imbuhnya
Dari pantauan Okezone, pecinta astronomi yang ingin melihat gerhana bulan berdarah berjumlah di atas angka 100. Padahal, kata Dwi Lestari, anggota komunitasnya sendiri hanya berjumlah 15 orang.
Meski demikian, pecinta astronomi yang tergabung dari HAAS juga ada yang masih pelajar Sekolah Menengah Pertama. Menurut Zarek Gemagalgani, siswa SMP Negeri 21 Semarang yang menjadi anggota HAAS dan turut mengamati fenomena gerhana bulan berdarah menyatakan, akhirnya menunggu fase umbra dan penumbra akhir.
Menurut Zaker, fase umbra adalah fenomena bulan yang secara berlahan-lahan sudah mulai terlihat normal. &quot;Kalau fase penumbra akhir, gerhana tinggal setitik. Fase ini bulan kelihatan seperti bola yang mau lepas,&quot; ungkap Zaker menambahkan.
Gerhana bulan baru bisa terpantau bahkan dengan mata telanjang saat gerhana memasuki fase umbra. Gerhana bulan berdarah yang semula tertutup awan berlahan-lahan mulai terlihat membentuk bulan sabit. Namun, karena langit tidak mendukung, fenomena umbra bulan berdarah juga sesekali tertutup awan sehingga kurang bisa dinikmati.
</description><content:encoded>
SEMARANG - Sejumlah pecinta astronomi dari Himpunan Astronomi Amatir Semarang (HAAS), melakukan pengamatan atas fenomena gerhana bulan total 'blood moon' di atas Taman Tabanas, Semarang, Jawa Tengah. Mereka berkumpul di atas lapangan yang terletak di dataran tinggi Gombel, Semarang, untuk melihat detik-detik terjadinya gerhana bulan sejak pukul 17.00 WIB.
Namun, mereka gagal mengamati puncak gerhana bulan yang berlangsung hanya enam menit karena langit tertutup awan.
Puncak gerhana yang terjadi dari pukul 19.00 WIB hingga 19.06 WIB tidak dapat dilihat meski mereka sudah mengamati bulan dengan menggunakan teropong.
&quot;Kita jadi gagal melihat warna merah darah dari gerhana bulan. Dengan teropong saja tidak bisa terlihat apalagi dengan mata telanjang,&quot; kata Dwi Lestari, koordinator HAAS, Sabtu (4/4/2015).
Menjelang puncak gerhana bulan, sebenarnya awan di langit Kota Semarang terlihat cerah. Namun, begitu memasuki puncak gerhana, awan berlahan-lahan menutupi bulan sehingga gerhana tidak dapat terlihat meski menggunakan alat bantu.
Menurut Dwi Lestari, fenomena gerhana bulan total apalagi disertai dengan warna merah terang seperti darah (blood moon) merupakan fenomena langka. &quot;Ini langka, ini bisa terjadi gerhana total lagi sampai 2018. Jadi tiga tiga tahun lagi kita baru bisa melihat gerhana bulan total lagi,&quot; imbuhnya
Dari pantauan Okezone, pecinta astronomi yang ingin melihat gerhana bulan berdarah berjumlah di atas angka 100. Padahal, kata Dwi Lestari, anggota komunitasnya sendiri hanya berjumlah 15 orang.
Meski demikian, pecinta astronomi yang tergabung dari HAAS juga ada yang masih pelajar Sekolah Menengah Pertama. Menurut Zarek Gemagalgani, siswa SMP Negeri 21 Semarang yang menjadi anggota HAAS dan turut mengamati fenomena gerhana bulan berdarah menyatakan, akhirnya menunggu fase umbra dan penumbra akhir.
Menurut Zaker, fase umbra adalah fenomena bulan yang secara berlahan-lahan sudah mulai terlihat normal. &quot;Kalau fase penumbra akhir, gerhana tinggal setitik. Fase ini bulan kelihatan seperti bola yang mau lepas,&quot; ungkap Zaker menambahkan.
Gerhana bulan baru bisa terpantau bahkan dengan mata telanjang saat gerhana memasuki fase umbra. Gerhana bulan berdarah yang semula tertutup awan berlahan-lahan mulai terlihat membentuk bulan sabit. Namun, karena langit tidak mendukung, fenomena umbra bulan berdarah juga sesekali tertutup awan sehingga kurang bisa dinikmati.
</content:encoded></item></channel></rss>
