<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IMI Rancang Pesawat Tanpa Awak</title><description>IMI terus lakukan inovasi teknologi dirgantara maritim dengan melakukan  riset pembutan flying boat yang diberi nama OS-Wifanusa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/04/20/337/1137154/imi-rancang-pesawat-tanpa-awak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/04/20/337/1137154/imi-rancang-pesawat-tanpa-awak"/><item><title>IMI Rancang Pesawat Tanpa Awak</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/04/20/337/1137154/imi-rancang-pesawat-tanpa-awak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/04/20/337/1137154/imi-rancang-pesawat-tanpa-awak</guid><pubDate>Senin 20 April 2015 16:43 WIB</pubDate><dc:creator>Fahmi Firdaus </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/04/20/337/1137154/imi-rancang-pesawat-tanpa-awak-AwTJ1Dit9R.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pesawat Tanpa Awak Buatan IMI</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/04/20/337/1137154/imi-rancang-pesawat-tanpa-awak-AwTJ1Dit9R.jpg</image><title>Pesawat Tanpa Awak Buatan IMI</title></images><description>
JAKARTA - Indonesia Maritime Institute (IMI) terus lakukan inovasi teknologi dirgantara maritim dengan melakukan riset pembutan flying boat yang diberi nama OS-Wifanusa.

IMI sudah berhasi membuat prototype skala 1:3 terbang sempurna, dan sekarang memasuki proses pembuatan skala 1:1 yang nantinya bisa diawaki 4 orang.

&quot;Flyingboat skala 1:3 ini kami sudah mantapkan untuk jadi Marine UAV (pesawat tanpa awak). System UAV dibuat sendiri oleh tim ahli kami di IMI,&quot; kata Direktur Eksekutif IMI,  Y Paonganan, kepada wartawan, Senin (20/4/2015).

Menurutnya, kemampuan marine UAV ini nantinya mampu terbang selama 3 jam dengan kemampuan jelajah 129 km/jam dengan ketinggian minimum jelajah 300 m.

&quot;Dilengkapi kamera video daynight resolusi tinggi dan lensa infra merah sehingga juga bisa diterbangkan pada malam hari,&quot; bebernya.

Pria yang akrab disapa Ongen ini menambahkan, flyingboat ini juga dilengkapi landing gear optional sehingga selain bisa landing dan take off dari laut, juga bisa dioperasikan di daratan.

&quot;Ground control station kami gunakan mobil minibus yang dimodifikasi menjadi stasiun kontrol yang lengkap dengan monitor dan antene helical,&quot;sambungnya.

Menurutnya, ini akan memudahkan dalam pengoperasian pesawat tanpa awak tersebut.

&quot;Kami juga sedang merancang ground control station menggunakan speed boat untuk penggunaan di wilayan pulau-pulau kecil, jadi akan lebih efektif jika penggunaannya untuk maritime surveillance,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Indonesia Maritime Institute (IMI) terus lakukan inovasi teknologi dirgantara maritim dengan melakukan riset pembutan flying boat yang diberi nama OS-Wifanusa.

IMI sudah berhasi membuat prototype skala 1:3 terbang sempurna, dan sekarang memasuki proses pembuatan skala 1:1 yang nantinya bisa diawaki 4 orang.

&quot;Flyingboat skala 1:3 ini kami sudah mantapkan untuk jadi Marine UAV (pesawat tanpa awak). System UAV dibuat sendiri oleh tim ahli kami di IMI,&quot; kata Direktur Eksekutif IMI,  Y Paonganan, kepada wartawan, Senin (20/4/2015).

Menurutnya, kemampuan marine UAV ini nantinya mampu terbang selama 3 jam dengan kemampuan jelajah 129 km/jam dengan ketinggian minimum jelajah 300 m.

&quot;Dilengkapi kamera video daynight resolusi tinggi dan lensa infra merah sehingga juga bisa diterbangkan pada malam hari,&quot; bebernya.

Pria yang akrab disapa Ongen ini menambahkan, flyingboat ini juga dilengkapi landing gear optional sehingga selain bisa landing dan take off dari laut, juga bisa dioperasikan di daratan.

&quot;Ground control station kami gunakan mobil minibus yang dimodifikasi menjadi stasiun kontrol yang lengkap dengan monitor dan antene helical,&quot;sambungnya.

Menurutnya, ini akan memudahkan dalam pengoperasian pesawat tanpa awak tersebut.

&quot;Kami juga sedang merancang ground control station menggunakan speed boat untuk penggunaan di wilayan pulau-pulau kecil, jadi akan lebih efektif jika penggunaannya untuk maritime surveillance,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
