<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tolak Sabda Raja, Adik Sultan: Paling Disantet</title><description>Adik Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku siap menerima konsekuensi atas penolakan Sabda Raja.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/07/340/1146347/tolak-sabda-raja-adik-sultan-paling-disantet</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/05/07/340/1146347/tolak-sabda-raja-adik-sultan-paling-disantet"/><item><title>Tolak Sabda Raja, Adik Sultan: Paling Disantet</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/07/340/1146347/tolak-sabda-raja-adik-sultan-paling-disantet</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/05/07/340/1146347/tolak-sabda-raja-adik-sultan-paling-disantet</guid><pubDate>Kamis 07 Mei 2015 22:35 WIB</pubDate><dc:creator>Prabowo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/07/340/1146347/tolak-sabda-raja-adik-sultan-paling-disantet-V4SiQweO3p.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/07/340/1146347/tolak-sabda-raja-adik-sultan-paling-disantet-V4SiQweO3p.jpg</image><title></title></images><description>
YOGYAKARTA - GBPH Yudhaningrat dengan tegas menolak Sabda Raja. Adik Sri Sultan Hamengku Buwono X itu mengaku siap menerima konsekuensi atas penolakan tersebut. Saat ditanya wartawan apa konsekuensinya? Dia menyebut sesuatu yang tidak rasional.
&quot;Paling-paling disantet,&quot; kata Gusti Yudha, sapaan akrab GBPH Yudhaningrat, pada wartawan di Ndalem Yudhanegaran saat menerima aspirasi masyarakat Yogyakarta, Kamis (7/5/2015).
Konsekuensi itu siap diterima jika memang benar terjadi. Namun, Gusti Yudho berharap Sultan menarik kembali ucapannya atas Sabda Raja. &quot;Engak usah malu menelan ludah sendiri, apa yang sudah diucapkan,&quot; ujarnya.
Dalam Keraton, kata dia, tidak ada Sabda Raja sepanjang sejarah Keraton Yogyakarta. Jika ada itu namanya Sabdo Noto, dan itu tidak merombak tatanan yang sudah ada. &quot;Ada Sabdo Noto itu sifatnya imbauan, tidak kemudian merombak tatanan yang sudah ada,&quot; katanya.
Gusti Yudha juga tidak mengakui adanya putri Mahkota seperti dalam Sabda Raja Sultan HB X kedua. Meski mengetahui putri mahkota itu adalah keponakannya sendiri, yakni GKR Mangkubumi yang sebelumnya bergelar GKR Pembayun.
&quot;Kita tidak kenal putri mahkota, bukan berarti kita saudara-saudara lain ingin jadi Sultan, tidak. Kita ingin meluruskan kekeliruan yang dilakukan Ngarsodalem,&quot; ujarnya.
Tak pernah terpikir di benak Gusti Yudha untuk mengantikan posisi Sultan. Begitu juga beberapa adik laki-laki Sultan HB X lainnya. Mereka ingin pelurusan 'kekhilafan' yang dilakukan Sultan. &quot;Kita ingin luruskan sesuai aturan, itu saja,&quot; imbuhnya.
Gusti Yudha juga menyingung saat Sabda Raja disampaikan. Saat itu, undangan melalui pesan singkat yang diterima juga cukup mendadak, sehingga tak mungkin bisa hadir. &quot;Saat Sabda Raja itu saya di Solo, tinggal 30 menit kok disuruh datang, kon mabor opo (disuruh terbang apa),&quot; ujarnya.

</description><content:encoded>
YOGYAKARTA - GBPH Yudhaningrat dengan tegas menolak Sabda Raja. Adik Sri Sultan Hamengku Buwono X itu mengaku siap menerima konsekuensi atas penolakan tersebut. Saat ditanya wartawan apa konsekuensinya? Dia menyebut sesuatu yang tidak rasional.
&quot;Paling-paling disantet,&quot; kata Gusti Yudha, sapaan akrab GBPH Yudhaningrat, pada wartawan di Ndalem Yudhanegaran saat menerima aspirasi masyarakat Yogyakarta, Kamis (7/5/2015).
Konsekuensi itu siap diterima jika memang benar terjadi. Namun, Gusti Yudho berharap Sultan menarik kembali ucapannya atas Sabda Raja. &quot;Engak usah malu menelan ludah sendiri, apa yang sudah diucapkan,&quot; ujarnya.
Dalam Keraton, kata dia, tidak ada Sabda Raja sepanjang sejarah Keraton Yogyakarta. Jika ada itu namanya Sabdo Noto, dan itu tidak merombak tatanan yang sudah ada. &quot;Ada Sabdo Noto itu sifatnya imbauan, tidak kemudian merombak tatanan yang sudah ada,&quot; katanya.
Gusti Yudha juga tidak mengakui adanya putri Mahkota seperti dalam Sabda Raja Sultan HB X kedua. Meski mengetahui putri mahkota itu adalah keponakannya sendiri, yakni GKR Mangkubumi yang sebelumnya bergelar GKR Pembayun.
&quot;Kita tidak kenal putri mahkota, bukan berarti kita saudara-saudara lain ingin jadi Sultan, tidak. Kita ingin meluruskan kekeliruan yang dilakukan Ngarsodalem,&quot; ujarnya.
Tak pernah terpikir di benak Gusti Yudha untuk mengantikan posisi Sultan. Begitu juga beberapa adik laki-laki Sultan HB X lainnya. Mereka ingin pelurusan 'kekhilafan' yang dilakukan Sultan. &quot;Kita ingin luruskan sesuai aturan, itu saja,&quot; imbuhnya.
Gusti Yudha juga menyingung saat Sabda Raja disampaikan. Saat itu, undangan melalui pesan singkat yang diterima juga cukup mendadak, sehingga tak mungkin bisa hadir. &quot;Saat Sabda Raja itu saya di Solo, tinggal 30 menit kok disuruh datang, kon mabor opo (disuruh terbang apa),&quot; ujarnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
