<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bentrok Warga di Bali, Tiga Rumah Dirusak</title><description>Warga merobohkan rumah lantaran bangunan tersebut berdiri di atas tanah Catuspata.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/11/340/1148248/bentrok-warga-di-bali-tiga-rumah-dirusak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/05/11/340/1148248/bentrok-warga-di-bali-tiga-rumah-dirusak"/><item><title>Bentrok Warga di Bali, Tiga Rumah Dirusak</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/11/340/1148248/bentrok-warga-di-bali-tiga-rumah-dirusak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/05/11/340/1148248/bentrok-warga-di-bali-tiga-rumah-dirusak</guid><pubDate>Senin 11 Mei 2015 23:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rohmat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/11/340/1148248/bentrok-warga-di-bali-tiga-rumah-dirusak-4U5r7Abcs3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bentrok Warga di Bali, Tiga Rumah Dirusak (Foto: Ilustrasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/11/340/1148248/bentrok-warga-di-bali-tiga-rumah-dirusak-4U5r7Abcs3.jpg</image><title>Bentrok Warga di Bali, Tiga Rumah Dirusak (Foto: Ilustrasi)</title></images><description>
JEMBRANA - Ratusan warga Desa Pakraman Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (11/5/2015) sekira pukul 18.00 Wita, tiba-tiba mengamuk di lokasi tanah Catuspata (Perpetan Agung) yang berlokasi di pinggir Sungai Tukadaya.

Warga yang tersulut emosi sambil membawa linggis, palu dan kayu langsung merobohkan tiga unit bangunan rumah tinggal dan satu bangunan belum jadi milik Samsi (50), warga Desa Tukadaya, hingga rata dengan tanah. Rumah dirobohkan warga, lantaran berdiri di atas tanah adat yang sebenarnya digunakan sebagai Catuspata oleh Desa Pakraman setempat.
Samsi telah membangun tiga unit rumah yang kemudian dikontrakan kepada orang lain sejak setahun yang lalu. Setelah dia pindah dari Dusun Pebuahan, Kecamatan Negara, Jembrana.

Sebenarnya, aparat Desa Pakraman dan Desa Tukadaya berulang-ulang mengingatkan Samsi agar tidak melanjutkan pembangunan di atas tanah Catuspata. Namun, peringatan tersebut tidak digubris.

&amp;rdquo;Tadi pagi saya dengan kepala desa sudah langsung mendatangi Samsi dan memperingatkan agar menghentikan aktivitas pembangunan. Saat itu, Samsi menyanggupinya,&amp;rdquo; terang Camat Melaya I Putu Eka Suartama dikonfirmasi di lokasi kejadian.
&amp;nbsp;
Warga yang mengetahui aksi samsi dan kelompoknya tersulut emosi akhirnya merobohkan tiga unit rumah dan satu bangunan belum jadi milik Samsi hingga rata dengan tanah.

&quot;Saya tidak tahu apa-apa pak. Saya disini hanya ngontrak. Saya kaget tiba-tiba banyak warga datang mengamuk,&amp;rdquo; ujar Kartini (40), warga asal Jember yang mengaku baru empat bulan mengontrak rumah Samsi.

Menurutnya, warga datang ada yang membawa kayu, linggis, palu dan benda lainnya. Namun karena khawatir dengan keselamatan dirinya, dia kemudian lari ke pasar tidak jauh dari rumahnya. Kejadian itu mendapat pengamanan ketat puluhan aparat kepolisian dari Polsek Melaya dan Polres Jembrana yang dipimpin Waka Polres Jembrana Kompol Anak Agung Rai Laba.

Untuk mengantisipasi kerusuhan lebih luas, Waka Polres Jembrana bersama Camat Melaya dan Kepala Desa Tukadaya langsung memediasi warga yang bentrok di kantor desa setempat. Hingga pukul 21.00 wita mediasi melibatkan pihak bertikai masih berlangsung.
</description><content:encoded>
JEMBRANA - Ratusan warga Desa Pakraman Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Senin (11/5/2015) sekira pukul 18.00 Wita, tiba-tiba mengamuk di lokasi tanah Catuspata (Perpetan Agung) yang berlokasi di pinggir Sungai Tukadaya.

Warga yang tersulut emosi sambil membawa linggis, palu dan kayu langsung merobohkan tiga unit bangunan rumah tinggal dan satu bangunan belum jadi milik Samsi (50), warga Desa Tukadaya, hingga rata dengan tanah. Rumah dirobohkan warga, lantaran berdiri di atas tanah adat yang sebenarnya digunakan sebagai Catuspata oleh Desa Pakraman setempat.
Samsi telah membangun tiga unit rumah yang kemudian dikontrakan kepada orang lain sejak setahun yang lalu. Setelah dia pindah dari Dusun Pebuahan, Kecamatan Negara, Jembrana.

Sebenarnya, aparat Desa Pakraman dan Desa Tukadaya berulang-ulang mengingatkan Samsi agar tidak melanjutkan pembangunan di atas tanah Catuspata. Namun, peringatan tersebut tidak digubris.

&amp;rdquo;Tadi pagi saya dengan kepala desa sudah langsung mendatangi Samsi dan memperingatkan agar menghentikan aktivitas pembangunan. Saat itu, Samsi menyanggupinya,&amp;rdquo; terang Camat Melaya I Putu Eka Suartama dikonfirmasi di lokasi kejadian.
&amp;nbsp;
Warga yang mengetahui aksi samsi dan kelompoknya tersulut emosi akhirnya merobohkan tiga unit rumah dan satu bangunan belum jadi milik Samsi hingga rata dengan tanah.

&quot;Saya tidak tahu apa-apa pak. Saya disini hanya ngontrak. Saya kaget tiba-tiba banyak warga datang mengamuk,&amp;rdquo; ujar Kartini (40), warga asal Jember yang mengaku baru empat bulan mengontrak rumah Samsi.

Menurutnya, warga datang ada yang membawa kayu, linggis, palu dan benda lainnya. Namun karena khawatir dengan keselamatan dirinya, dia kemudian lari ke pasar tidak jauh dari rumahnya. Kejadian itu mendapat pengamanan ketat puluhan aparat kepolisian dari Polsek Melaya dan Polres Jembrana yang dipimpin Waka Polres Jembrana Kompol Anak Agung Rai Laba.

Untuk mengantisipasi kerusuhan lebih luas, Waka Polres Jembrana bersama Camat Melaya dan Kepala Desa Tukadaya langsung memediasi warga yang bentrok di kantor desa setempat. Hingga pukul 21.00 wita mediasi melibatkan pihak bertikai masih berlangsung.
</content:encoded></item></channel></rss>
