<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Boedi Oetomo dan Latar Belakang Kebangkitan Nasional</title><description>Dari Renaissance Asia, lahirlah rasa kesadaran nasional para bangsa Asia sampai menular ke nusantara hingga berdiri Boedi Oetomo.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/20/337/1152209/boedi-oetomo-dan-latar-belakang-kebangkitan-nasional</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/05/20/337/1152209/boedi-oetomo-dan-latar-belakang-kebangkitan-nasional"/><item><title>Boedi Oetomo dan Latar Belakang Kebangkitan Nasional</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/20/337/1152209/boedi-oetomo-dan-latar-belakang-kebangkitan-nasional</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/05/20/337/1152209/boedi-oetomo-dan-latar-belakang-kebangkitan-nasional</guid><pubDate>Rabu 20 Mei 2015 06:03 WIB</pubDate><dc:creator>Syamsul Anwar Khoemaeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/19/337/1152209/boedi-oetomo-dan-latar-belakang-kebangkitan-nasional-lzbONGdksB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pergerakan Pemuda Boedi Oetomo (Foto: Wikipedia)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/19/337/1152209/boedi-oetomo-dan-latar-belakang-kebangkitan-nasional-lzbONGdksB.jpg</image><title>Pergerakan Pemuda Boedi Oetomo (Foto: Wikipedia)</title></images><description>
JAKARTA - Lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia lewat Proklamasi 17 Agustus 1945, bukanlah peristiwa yang serta merta. Terdapat rangkaian kejadian yang mencerminkan sebuah keinginan untuk lepas dari penjajahan.
Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta, memaparkan adanya pergerakan nasional yang kemudian membidani munculnya kebangkitan nasional. Dalam sebuah karyanya yang berjudul &amp;lsquo;Permulaan Gerakan Nasional&amp;rsquo;, kesadaran berbangsa dilatarbelakangi dengan adanya peristiwa Renaissance Asia.
&quot;Bermula dari menangnya (armada) Jepang atas Rusia pada 1905 (di Pertempuran Tsushima), orang menyebutnya fajar menyingsing bagi Asia. Dari situ kemudian berpengaruh bagi Indonesia,&quot; tulis Hatta di buku tersebut.
Kemenangan negeri Sakura itu lantas membuat para intelektual dapat merasakan suasana baru. Terlebih dengan adanya gerakan di China yang dipelopori oleh Sun Yat Sen yang ingin mendirikan Republik China.
Para keturunan Tionghoa yang berada di Hindia-Belanda (Indonesia) pun merasa bangga atas ide sekaligus perjuangan tersebut. Kaum terpelajar yang mengerti kabar itu, lantas menginginkan hal serupa, terutama para siswa di Sekolah Kedokteran, STOVIA.
Dimotori oleh Dr Sutomo, ia beserta delapan temannya lantas membentuk organisasi modern bernama Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
&quot;Jangan pula dilupakan, Dokter Sutomo banyak mendapat pengaruh dari Dokter Wahidin (Soediroehoesodo), seorang alumni sekolah dokter Jawa dan pengajar di STOVIA yang menyeru pentingnya perkumpulan kaum intelektual,&quot; papar Hatta.
Padahal waktu itu, usia Dr Sutomo (Ketua), M Soeleiman (Wakil), Soewarno (Sekretaris I), Gunawan Mangunkusumo (Sekretaris II), R Angka (Bendahara), M Soewarno (Komisaris), M Soeradji (Komisaris), M Moh Saleh (Komisaris), dan Goembrek (Komisaris) baru sekira 20 tahun.
Dari situ, Hatta menganggap suatu perasaan kebangsaan sudah bangun. Dimulai dengan gerakan sosial, tujuan Boedi Oetomo ialah membantu pencapaian kemajuan tanah air dan bangsa Jawa serta Madura.
Bahkan AD/ART Boedi Oetomo sebagai organisasi, memperhatikan pendidikan, kemajuan pertanian, peternakan, dan perdagangan. Selain itu perkumpulan tersebut juga ingin menghidupkan kembali seni serta ilmu-ilmu tradisional.
&quot;Mereka pula menjunjung tinggi dasar-dasar perikemanusiaan serta menjamin penghidupan bangsa yang pantas,&quot; tulis Hatta.
</description><content:encoded>
JAKARTA - Lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia lewat Proklamasi 17 Agustus 1945, bukanlah peristiwa yang serta merta. Terdapat rangkaian kejadian yang mencerminkan sebuah keinginan untuk lepas dari penjajahan.
Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta, memaparkan adanya pergerakan nasional yang kemudian membidani munculnya kebangkitan nasional. Dalam sebuah karyanya yang berjudul &amp;lsquo;Permulaan Gerakan Nasional&amp;rsquo;, kesadaran berbangsa dilatarbelakangi dengan adanya peristiwa Renaissance Asia.
&quot;Bermula dari menangnya (armada) Jepang atas Rusia pada 1905 (di Pertempuran Tsushima), orang menyebutnya fajar menyingsing bagi Asia. Dari situ kemudian berpengaruh bagi Indonesia,&quot; tulis Hatta di buku tersebut.
Kemenangan negeri Sakura itu lantas membuat para intelektual dapat merasakan suasana baru. Terlebih dengan adanya gerakan di China yang dipelopori oleh Sun Yat Sen yang ingin mendirikan Republik China.
Para keturunan Tionghoa yang berada di Hindia-Belanda (Indonesia) pun merasa bangga atas ide sekaligus perjuangan tersebut. Kaum terpelajar yang mengerti kabar itu, lantas menginginkan hal serupa, terutama para siswa di Sekolah Kedokteran, STOVIA.
Dimotori oleh Dr Sutomo, ia beserta delapan temannya lantas membentuk organisasi modern bernama Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
&quot;Jangan pula dilupakan, Dokter Sutomo banyak mendapat pengaruh dari Dokter Wahidin (Soediroehoesodo), seorang alumni sekolah dokter Jawa dan pengajar di STOVIA yang menyeru pentingnya perkumpulan kaum intelektual,&quot; papar Hatta.
Padahal waktu itu, usia Dr Sutomo (Ketua), M Soeleiman (Wakil), Soewarno (Sekretaris I), Gunawan Mangunkusumo (Sekretaris II), R Angka (Bendahara), M Soewarno (Komisaris), M Soeradji (Komisaris), M Moh Saleh (Komisaris), dan Goembrek (Komisaris) baru sekira 20 tahun.
Dari situ, Hatta menganggap suatu perasaan kebangsaan sudah bangun. Dimulai dengan gerakan sosial, tujuan Boedi Oetomo ialah membantu pencapaian kemajuan tanah air dan bangsa Jawa serta Madura.
Bahkan AD/ART Boedi Oetomo sebagai organisasi, memperhatikan pendidikan, kemajuan pertanian, peternakan, dan perdagangan. Selain itu perkumpulan tersebut juga ingin menghidupkan kembali seni serta ilmu-ilmu tradisional.
&quot;Mereka pula menjunjung tinggi dasar-dasar perikemanusiaan serta menjamin penghidupan bangsa yang pantas,&quot; tulis Hatta.
</content:encoded></item></channel></rss>
