<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soeharto Gunakan ABRI untuk Lindungi Kekuasannya</title><description>ABRI selalu jadi tameng Soeharto di rezim orde baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/21/337/1152824/soeharto-gunakan-abri-untuk-lindungi-kekuasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/05/21/337/1152824/soeharto-gunakan-abri-untuk-lindungi-kekuasannya"/><item><title>Soeharto Gunakan ABRI untuk Lindungi Kekuasannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/21/337/1152824/soeharto-gunakan-abri-untuk-lindungi-kekuasannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/05/21/337/1152824/soeharto-gunakan-abri-untuk-lindungi-kekuasannya</guid><pubDate>Kamis 21 Mei 2015 06:33 WIB</pubDate><dc:creator>Feri Agus Setyawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/20/337/1152824/soeharto-gunakan-abri-untuk-lindungi-kekuasannya-Gfj1InCKyr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Soeharto (tengah) (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/20/337/1152824/soeharto-gunakan-abri-untuk-lindungi-kekuasannya-Gfj1InCKyr.jpg</image><title>Presiden Soeharto (tengah) (Foto: Reuters)</title></images><description>
JAKARTA &amp;ndash; Tak mungkin Soeharto sebagai Presiden RI kedua, mampu bertahan sekira 32 tahun tanpa dukungan yang kuat dari sejumlah pihak, termasuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Soeharto menggunakan ABRI yang saat itu didominasi oleh TNI Angkatan Darat, untuk melindungi kekuasaannya dari berbagai ancaman yang ingin mengganggu.
&amp;ldquo;Ini karena sistemnya pakai dwi fungsi ABRI. Dia (Soeharto) menggunakan untuk mempertahankan kekuasannya. ABRI itu dipakai betul oleh Soeharto, untuk alat kekuasaan dia, bukan menjadi alat negara,&amp;rdquo; cetus sejarawan  Anhar Gonggong ketika dihubungi Okezone.
Menurut Anhar, keberadaan golongan militer ini sangat membantu Soeharto menjalankan kekuasaannya ini dengan dwi fungsi, yang memperbolehkan kalangan militer untuk berpolitik. Ditambah, lanjutnya dengan tameng Demokrasi Pancasila yang didengungkan saat Rezim Orde Baru.
&amp;ldquo;Jadi kan Demokrasi Pancasila yang diajalankan oleh dia, ada Golkar sebagai kekuatan politik, lalu ada dwi fungsi. Selalu dikatakan Demokrasi Pancasila yang paling penting adalah dwi fungsi ABRI. Sehingga tentara ada di mana-mana, ada yang jadi Gubernur lah, bahkan sampai ke bawah, itu semua yang orang enggak senang,&amp;rdquo; ungkapnya.
Sementara itu, salah satu Aktivis Mahasiswa 1998, Wahab Talaohu mengungkapkan hal yang senada. Menurutnya pengerahan ABRI untuk menjaga kekuasaan Soeharto membuat ruang kritis tertutup rapat yang akhirnya membuat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat tersumbat.
&amp;ldquo;Soeharto saat itu menggunakan ABRI kita menjadi alat kekuasan pribadi. Jadi tidak ada ruang kritis. Anda berbeda pendapat dengan pemerintah, berarti anda akan dihilangkan, diculik, mendapat kekerasan. Itu membuat masyarakat menjadi takut dan tertekan. Saya kira ini bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Saat itu kondisi dan situasi sangat menakutkan dan mencekam sekali,&amp;rdquo; tandasnya.
</description><content:encoded>
JAKARTA &amp;ndash; Tak mungkin Soeharto sebagai Presiden RI kedua, mampu bertahan sekira 32 tahun tanpa dukungan yang kuat dari sejumlah pihak, termasuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Soeharto menggunakan ABRI yang saat itu didominasi oleh TNI Angkatan Darat, untuk melindungi kekuasaannya dari berbagai ancaman yang ingin mengganggu.
&amp;ldquo;Ini karena sistemnya pakai dwi fungsi ABRI. Dia (Soeharto) menggunakan untuk mempertahankan kekuasannya. ABRI itu dipakai betul oleh Soeharto, untuk alat kekuasaan dia, bukan menjadi alat negara,&amp;rdquo; cetus sejarawan  Anhar Gonggong ketika dihubungi Okezone.
Menurut Anhar, keberadaan golongan militer ini sangat membantu Soeharto menjalankan kekuasaannya ini dengan dwi fungsi, yang memperbolehkan kalangan militer untuk berpolitik. Ditambah, lanjutnya dengan tameng Demokrasi Pancasila yang didengungkan saat Rezim Orde Baru.
&amp;ldquo;Jadi kan Demokrasi Pancasila yang diajalankan oleh dia, ada Golkar sebagai kekuatan politik, lalu ada dwi fungsi. Selalu dikatakan Demokrasi Pancasila yang paling penting adalah dwi fungsi ABRI. Sehingga tentara ada di mana-mana, ada yang jadi Gubernur lah, bahkan sampai ke bawah, itu semua yang orang enggak senang,&amp;rdquo; ungkapnya.
Sementara itu, salah satu Aktivis Mahasiswa 1998, Wahab Talaohu mengungkapkan hal yang senada. Menurutnya pengerahan ABRI untuk menjaga kekuasaan Soeharto membuat ruang kritis tertutup rapat yang akhirnya membuat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat tersumbat.
&amp;ldquo;Soeharto saat itu menggunakan ABRI kita menjadi alat kekuasan pribadi. Jadi tidak ada ruang kritis. Anda berbeda pendapat dengan pemerintah, berarti anda akan dihilangkan, diculik, mendapat kekerasan. Itu membuat masyarakat menjadi takut dan tertekan. Saya kira ini bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Saat itu kondisi dan situasi sangat menakutkan dan mencekam sekali,&amp;rdquo; tandasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
