<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PSK Saritem di Bawah Umur Mengaku Peroleh Rp25 Juta per Bulan</title><description>RK mematok harga lumayan yakni Rp300 ribu untuk short time. Per bulan, PSK Saritem yang masih berusia di bawah umur ini dapat Rp30 juta.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/21/525/1153079/psk-saritem-di-bawah-umur-mengaku-peroleh-rp25-juta-per-bulan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/05/21/525/1153079/psk-saritem-di-bawah-umur-mengaku-peroleh-rp25-juta-per-bulan"/><item><title>PSK Saritem di Bawah Umur Mengaku Peroleh Rp25 Juta per Bulan</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/21/525/1153079/psk-saritem-di-bawah-umur-mengaku-peroleh-rp25-juta-per-bulan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/05/21/525/1153079/psk-saritem-di-bawah-umur-mengaku-peroleh-rp25-juta-per-bulan</guid><pubDate>Kamis 21 Mei 2015 14:00 WIB</pubDate><dc:creator>Tri Ispranoto</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/21/525/1153079/psk-saritem-di-bawah-umur-mengaku-peroleh-rp30-juta-per-bulan-cWXdOVLVPO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Salah satu PSK berusia belia yang bekerja di Saritem (foto: Tri Ispranoto/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/21/525/1153079/psk-saritem-di-bawah-umur-mengaku-peroleh-rp30-juta-per-bulan-cWXdOVLVPO.jpg</image><title>Salah satu PSK berusia belia yang bekerja di Saritem (foto: Tri Ispranoto/Okezone)</title></images><description>
BANDUNG - Lokalisasi Saritem resmi ditutup pada tahun 2007 oleh Pemkot Bandung, bahkan belakangan lokasi tersebut akan disulap oleh Wali Kota Bandung, Rid&amp;lrm;wan Kamil (RK), menjadi Pasar Emas dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Namun tak dapat dipungkiri, lokalisasi yang telah ada sejak jaman Belanda tersebut hingga kini masih menggeliat dan melayani jasa 'lendir'. Terbukti saat penggerebekan yang dilakukan Polrestabes Bandung terjaring 169 PSK, dan enam di antaranya masih di bawah umur.
Ditemui di sela-sela pendataan, RK, PSK yang masih berumur 17 tahun itu mengaku sudah empat bulan bergabung dengan bisnis prostitusi di Jalan Saritem, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung itu.
&quot;Saya asli Bandung. Ikut mami (germo) udah empat bulan,&quot; ujar wanita berambut sebahu dan berkulit mulus itu saat berbincang dengan wartawan, Kamis (21/5/2015)&amp;lrm;.
RK mengatakan, selama empat bulan dia bekerja di salah satu rumah yang terdapat kamar khusus untuk melayani pria hidung belang. Untuk menarik perhatian, RK selalu berpakaian serba minim dan memoles wajah ayunya yang khas Mojang Bandung.
Modal penampilan menggoda, RK selalu laris manis diburu para hidung belang. Bahkan, RK telah memiliki langganan mulai dari mahasiswa, pegawai bank, dan pegawai swasta. &quot;Ada juga kakek-kakek,&quot; ungkapnya.
Tidak hanya pria lokal, wajah RK yang sayu tak jarang memikat tamu yang berasal dari luar negeri. &quot;Pernah juga sama orang Korea sama Jepang,&quot; katanya.
Dengan paras ayu dan bodi aduhainya, RK mematok harga cukup lumayan yakni Rp300 ribu untuk short time. Uang tersebut nantinya dibagi dua dengan mucikarinya. &quot;Sehari saya paling bisa datang tamu sampai delapan orang. Bersihnya sebulan bisa sampai Rp25 juta,&quot; jelasnya.
Saat ini, RK dan lima PSK lainnya yang masih di bawah umur telah menjalani pemeriksaan khusus oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung untuk menjerat para calo dan germo yang mempekerjakan mereka.
</description><content:encoded>
BANDUNG - Lokalisasi Saritem resmi ditutup pada tahun 2007 oleh Pemkot Bandung, bahkan belakangan lokasi tersebut akan disulap oleh Wali Kota Bandung, Rid&amp;lrm;wan Kamil (RK), menjadi Pasar Emas dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Namun tak dapat dipungkiri, lokalisasi yang telah ada sejak jaman Belanda tersebut hingga kini masih menggeliat dan melayani jasa 'lendir'. Terbukti saat penggerebekan yang dilakukan Polrestabes Bandung terjaring 169 PSK, dan enam di antaranya masih di bawah umur.
Ditemui di sela-sela pendataan, RK, PSK yang masih berumur 17 tahun itu mengaku sudah empat bulan bergabung dengan bisnis prostitusi di Jalan Saritem, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung itu.
&quot;Saya asli Bandung. Ikut mami (germo) udah empat bulan,&quot; ujar wanita berambut sebahu dan berkulit mulus itu saat berbincang dengan wartawan, Kamis (21/5/2015)&amp;lrm;.
RK mengatakan, selama empat bulan dia bekerja di salah satu rumah yang terdapat kamar khusus untuk melayani pria hidung belang. Untuk menarik perhatian, RK selalu berpakaian serba minim dan memoles wajah ayunya yang khas Mojang Bandung.
Modal penampilan menggoda, RK selalu laris manis diburu para hidung belang. Bahkan, RK telah memiliki langganan mulai dari mahasiswa, pegawai bank, dan pegawai swasta. &quot;Ada juga kakek-kakek,&quot; ungkapnya.
Tidak hanya pria lokal, wajah RK yang sayu tak jarang memikat tamu yang berasal dari luar negeri. &quot;Pernah juga sama orang Korea sama Jepang,&quot; katanya.
Dengan paras ayu dan bodi aduhainya, RK mematok harga cukup lumayan yakni Rp300 ribu untuk short time. Uang tersebut nantinya dibagi dua dengan mucikarinya. &quot;Sehari saya paling bisa datang tamu sampai delapan orang. Bersihnya sebulan bisa sampai Rp25 juta,&quot; jelasnya.
Saat ini, RK dan lima PSK lainnya yang masih di bawah umur telah menjalani pemeriksaan khusus oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung untuk menjerat para calo dan germo yang mempekerjakan mereka.
</content:encoded></item></channel></rss>
