<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi: Motif Pengedar Beras Plastik Bukan Laba</title><description>Presiden Jokowi yakin motif pengedar beras plastik bukan untuk mencari laba yang lebih banyak. Untuk itu ia meminta motifnya diungkap.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/24/337/1154370/jokowi-motif-pengedar-beras-plastik-bukan-laba</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/05/24/337/1154370/jokowi-motif-pengedar-beras-plastik-bukan-laba"/><item><title>Jokowi: Motif Pengedar Beras Plastik Bukan Laba</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/05/24/337/1154370/jokowi-motif-pengedar-beras-plastik-bukan-laba</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/05/24/337/1154370/jokowi-motif-pengedar-beras-plastik-bukan-laba</guid><pubDate>Minggu 24 Mei 2015 13:01 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/05/24/337/1154370/jokowi-motif-pengedar-beras-plastik-bukan-laba-N4WHHZDqca.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi. (dok.Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/05/24/337/1154370/jokowi-motif-pengedar-beras-plastik-bukan-laba-N4WHHZDqca.jpg</image><title>Ilustrasi. (dok.Okezone)</title></images><description>
SOLO - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada media massa untuk tidak membesar-besarkan berita peredaran beras plastik. Sebab, beras tersebut hanya ditemukan di Bekasi.
&quot;Kamu tuh jangan membesar-besarkan masalah. Hanya di satu tempat saja loh. Ini baru dilihat di Laboratorium IPB, BPOM dan Sucofindo. Nanti disimpulkan (hasil pemeriksaan beras plastik) baru kita bicara,&quot; ujarnya, Minggu (24/5/2015).
Selain itu, Jokowi juga meminta kepada pihak-pihak yang tidak berkompeten untuk tidak mengomentari beras plastik. Sebab, bila semuannya ikut berkomentar, bukannya solusi yang didapat. Tetapi sebaliknya, malah memperbesar masalah.
&quot;Jangan semuannya bicara. Sekarang yang terpenting akar masalahnya dilihat. Di cek terlebih dahulu apakah benar itu hanya disatu lokasi saja yaitu di Bekasi. Atau hanya pada satu warung saja beras plastik itu ditemukan,&quot; ucapnya.
Jokowi, sendiri telah meminta peredaran beras plastik diselidiki. Dengan begitu ia berharap motif pengedarnya bisa diungkap.
&quot;Motivasinya apa menjual beras itu? Apakah mencari keuntungan, atau apa? Kalau mencari keuntungan (laba yang lebih besar), saya rasa tidak mungkin. Sebab, harga plastik itu lebih mahal dari beras. Jadi, logikanya tidak masuk. Baru kita dalami,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>
SOLO - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada media massa untuk tidak membesar-besarkan berita peredaran beras plastik. Sebab, beras tersebut hanya ditemukan di Bekasi.
&quot;Kamu tuh jangan membesar-besarkan masalah. Hanya di satu tempat saja loh. Ini baru dilihat di Laboratorium IPB, BPOM dan Sucofindo. Nanti disimpulkan (hasil pemeriksaan beras plastik) baru kita bicara,&quot; ujarnya, Minggu (24/5/2015).
Selain itu, Jokowi juga meminta kepada pihak-pihak yang tidak berkompeten untuk tidak mengomentari beras plastik. Sebab, bila semuannya ikut berkomentar, bukannya solusi yang didapat. Tetapi sebaliknya, malah memperbesar masalah.
&quot;Jangan semuannya bicara. Sekarang yang terpenting akar masalahnya dilihat. Di cek terlebih dahulu apakah benar itu hanya disatu lokasi saja yaitu di Bekasi. Atau hanya pada satu warung saja beras plastik itu ditemukan,&quot; ucapnya.
Jokowi, sendiri telah meminta peredaran beras plastik diselidiki. Dengan begitu ia berharap motif pengedarnya bisa diungkap.
&quot;Motivasinya apa menjual beras itu? Apakah mencari keuntungan, atau apa? Kalau mencari keuntungan (laba yang lebih besar), saya rasa tidak mungkin. Sebab, harga plastik itu lebih mahal dari beras. Jadi, logikanya tidak masuk. Baru kita dalami,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
