<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Soekarno, Sang Penakluk yang Lahir di &quot;Dapur Revolusi&quot;</title><description>Di autobiografi Soekarno, &amp;lsquo;Penyambung Lidah Rakyat&amp;rsquo; dan memoar putra Soekarno, Guntur Soekarnoputra, dikatakan Soekarno lahir di Surabaya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/06/06/337/1161129/soekarno-sang-penakluk-yang-lahir-di-dapur-revolusi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/06/06/337/1161129/soekarno-sang-penakluk-yang-lahir-di-dapur-revolusi"/><item><title>Soekarno, Sang Penakluk yang Lahir di &quot;Dapur Revolusi&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/06/06/337/1161129/soekarno-sang-penakluk-yang-lahir-di-dapur-revolusi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/06/06/337/1161129/soekarno-sang-penakluk-yang-lahir-di-dapur-revolusi</guid><pubDate>Sabtu 06 Juni 2015 09:51 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/06/06/337/1161129/soekarno-sang-penakluk-yang-lahir-di-dapur-revolusi-Ugdma3jwwQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bung Karno-Pak Harto (Foto: Buku Wartawan Istana Bicara Pak Harto)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/06/06/337/1161129/soekarno-sang-penakluk-yang-lahir-di-dapur-revolusi-Ugdma3jwwQ.jpg</image><title>Bung Karno-Pak Harto (Foto: Buku Wartawan Istana Bicara Pak Harto)</title></images><description>
BELAKANGAN mencuat kehebohan soal Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang keliru menyebutkan tempat lahir Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Bukan Surabaya, melainkan Jokowi menyebut sang Proklamator lahir di Blitar, Jawa Timur.
Hal itu disampaikannya ketika menghadiri Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2015, di mana Jokowi menyatakan hatinya selalu bergetar setiap kali menyambangi Blitar, kota kelahiran Soekarno.
Jelas hal tersebut bak mengungkit lagi penyelewengan sejarah di masa orde baru, di mana sejumlah buku sejarah memang menyebutkan Soekarno, lahir di Blitar, bukan di Surabaya.
Padahal dalam autobiografi Soekarno, &amp;lsquo;Penyambung Lidah Rakyat&amp;rsquo; maupun dalam memoar putra sulung Soekarno, Guntur Soekarnoputra, jelas-jelas dibeberkan Soekarno lahir Surabaya.
Soekarno lahir sebagai anak kedua, dari rahim seorang wanita Bali dari kasta Brahmana, Ida Ayu Nyoman Rai, di Surabaya, tepatya di Lawang Seketeng, Jalan Pandean IV no.40, pada 6 Juni 1901 .
Soekarno lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Tapi karena sering sakit-sakitan, sang Ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo mengganti namanya yang diambil dari tokoh panglima perang dari kisah &amp;lsquo;Bharata Yudha&amp;rsquo;, yakni Karna. Dengan mengimbuhi awalan &amp;ldquo;Soe&amp;rdquo;, maka sejak itu nama Soekarno selalu dibawanya hingga akhir hayat.
Soekarno pertama kali mengenal bangku sekolah di Tulung Agung, semasa tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, sampai dilanjutkan ke Mojokerto di Eerste Inlandse School, lalu ke Europeesche Lagere School, sampai kembali ke Surabaya di Hoogere Burger School (HBS).
Itu pun Soekarno bisa mengenyam pendidikan di HBS tak lepas dari peran Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang tak lain, sahabat dekat Raden Soekemi.
Dalam kamar kos dengan suasana pengap dan minus cahaya matahari yang disediakan Tjokroaminoto itulah, Soekarno mulai mengenal sejumlah kawan yang nantinya banyak dikenal pula dalam catatan sejarah.
Sebut saja Musso, Alimin, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, serta Semaoen. Di sini pula jadi awal pendewasaan pemikiran Soekarno yang sedari kecil, sedianya sudah punya watak yang cerdas, tak mau kalah dan ambisius jadi penakluk.
Diceritakan Soekarno pada Cindy Adams yang menuliskan biografinya, Soekarno sudah punya banyak pengikut dalam kesehariannya. Ke mana pun Soekarno pergi dan apapun yang diperintahkan, teman-temannya pasti mengikuti.
Apapun yang dilakukan, Soekarno selalu berusaha jadi yang paling unggul, termasuk dalam hal sepele seperti memanjat pohon. Soekarno akan berusaha memanjat dahan yang paling tinggi dari teman-temannya.
&amp;ldquo;Nasibku adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan, sekalipun pada masa kecilku,&amp;rdquo; ungkap Soekarno berkisah pada Cindy Adams.
Soekarno juga dikenal senang mengoleksi sejumlah hal yang berkarakter seni, seperti perangko, hingga bungkus rokok keluaran Inggris, &amp;ldquo;Westminster&amp;rdquo; yang biasanya terdapat gambar-gambar artis barat, untuk ditempeli di dinding.
&amp;ldquo;Aku menjaga kumpulan bungkus rokok itu dengan nyawaku. Itu harta milikku sendiri yang pertama,&amp;rdquo; tambahnya.
Kembali pada masa pendidikannya di HBS Surabaya, didikan ideologis dari Tjokroaminoto tak ayal membuat Soekarno berevolusi jadi pribadi yang lebih ambisius, lebih cerdas, strategis dan diplomatis.
Dalam menyalurkan pemikirannya, Soekarno tak jarang jadi wartawan dan penulis di surat kabar &amp;lsquo;Oetoesan Hindia&amp;rsquo; yang dibawahi Sarekat Islam (SI) dengan nama samaran Bima. Pendidikannya dilanjutkan ke Bandung di Technische Hoogeschool (THS, kini Institut Teknologi Bandung).
Tapi kadang, Soekarno harus ambil cuti untuk bekerja sebagai pegawai administrasi di Djawatan Kereta Api dengan gaji Rp165, demi menghidupi istri pertamanya, Oetari, serta dua anak Tjokroaminoto yang masih kecil, pasca-Tjokroaminoto ditahan Belanda.
Soekarno juga menggantikan Tjokroaminoto dalam hal pengajaran sampai bisa kembali kuliah ke Bandung, usai dibebaskannya Tjokroaminoto tujuh bulan setelah ditangkap.
Oleh karenanya ketika menulis tentang Soekarno dalam masa muda dan pendidikannya di Surabaya dan Bandung, dituliskan Cindy Adams dalam &amp;lsquo;Sukarno: An Autobiography As Told To Cindy Adams&amp;rsquo;, menyebut Surabaya sebagai dapur revolusi.
</description><content:encoded>
BELAKANGAN mencuat kehebohan soal Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang keliru menyebutkan tempat lahir Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Bukan Surabaya, melainkan Jokowi menyebut sang Proklamator lahir di Blitar, Jawa Timur.
Hal itu disampaikannya ketika menghadiri Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2015, di mana Jokowi menyatakan hatinya selalu bergetar setiap kali menyambangi Blitar, kota kelahiran Soekarno.
Jelas hal tersebut bak mengungkit lagi penyelewengan sejarah di masa orde baru, di mana sejumlah buku sejarah memang menyebutkan Soekarno, lahir di Blitar, bukan di Surabaya.
Padahal dalam autobiografi Soekarno, &amp;lsquo;Penyambung Lidah Rakyat&amp;rsquo; maupun dalam memoar putra sulung Soekarno, Guntur Soekarnoputra, jelas-jelas dibeberkan Soekarno lahir Surabaya.
Soekarno lahir sebagai anak kedua, dari rahim seorang wanita Bali dari kasta Brahmana, Ida Ayu Nyoman Rai, di Surabaya, tepatya di Lawang Seketeng, Jalan Pandean IV no.40, pada 6 Juni 1901 .
Soekarno lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Tapi karena sering sakit-sakitan, sang Ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo mengganti namanya yang diambil dari tokoh panglima perang dari kisah &amp;lsquo;Bharata Yudha&amp;rsquo;, yakni Karna. Dengan mengimbuhi awalan &amp;ldquo;Soe&amp;rdquo;, maka sejak itu nama Soekarno selalu dibawanya hingga akhir hayat.
Soekarno pertama kali mengenal bangku sekolah di Tulung Agung, semasa tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo, sampai dilanjutkan ke Mojokerto di Eerste Inlandse School, lalu ke Europeesche Lagere School, sampai kembali ke Surabaya di Hoogere Burger School (HBS).
Itu pun Soekarno bisa mengenyam pendidikan di HBS tak lepas dari peran Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang tak lain, sahabat dekat Raden Soekemi.
Dalam kamar kos dengan suasana pengap dan minus cahaya matahari yang disediakan Tjokroaminoto itulah, Soekarno mulai mengenal sejumlah kawan yang nantinya banyak dikenal pula dalam catatan sejarah.
Sebut saja Musso, Alimin, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, serta Semaoen. Di sini pula jadi awal pendewasaan pemikiran Soekarno yang sedari kecil, sedianya sudah punya watak yang cerdas, tak mau kalah dan ambisius jadi penakluk.
Diceritakan Soekarno pada Cindy Adams yang menuliskan biografinya, Soekarno sudah punya banyak pengikut dalam kesehariannya. Ke mana pun Soekarno pergi dan apapun yang diperintahkan, teman-temannya pasti mengikuti.
Apapun yang dilakukan, Soekarno selalu berusaha jadi yang paling unggul, termasuk dalam hal sepele seperti memanjat pohon. Soekarno akan berusaha memanjat dahan yang paling tinggi dari teman-temannya.
&amp;ldquo;Nasibku adalah untuk menaklukkan, bukan untuk ditaklukkan, sekalipun pada masa kecilku,&amp;rdquo; ungkap Soekarno berkisah pada Cindy Adams.
Soekarno juga dikenal senang mengoleksi sejumlah hal yang berkarakter seni, seperti perangko, hingga bungkus rokok keluaran Inggris, &amp;ldquo;Westminster&amp;rdquo; yang biasanya terdapat gambar-gambar artis barat, untuk ditempeli di dinding.
&amp;ldquo;Aku menjaga kumpulan bungkus rokok itu dengan nyawaku. Itu harta milikku sendiri yang pertama,&amp;rdquo; tambahnya.
Kembali pada masa pendidikannya di HBS Surabaya, didikan ideologis dari Tjokroaminoto tak ayal membuat Soekarno berevolusi jadi pribadi yang lebih ambisius, lebih cerdas, strategis dan diplomatis.
Dalam menyalurkan pemikirannya, Soekarno tak jarang jadi wartawan dan penulis di surat kabar &amp;lsquo;Oetoesan Hindia&amp;rsquo; yang dibawahi Sarekat Islam (SI) dengan nama samaran Bima. Pendidikannya dilanjutkan ke Bandung di Technische Hoogeschool (THS, kini Institut Teknologi Bandung).
Tapi kadang, Soekarno harus ambil cuti untuk bekerja sebagai pegawai administrasi di Djawatan Kereta Api dengan gaji Rp165, demi menghidupi istri pertamanya, Oetari, serta dua anak Tjokroaminoto yang masih kecil, pasca-Tjokroaminoto ditahan Belanda.
Soekarno juga menggantikan Tjokroaminoto dalam hal pengajaran sampai bisa kembali kuliah ke Bandung, usai dibebaskannya Tjokroaminoto tujuh bulan setelah ditangkap.
Oleh karenanya ketika menulis tentang Soekarno dalam masa muda dan pendidikannya di Surabaya dan Bandung, dituliskan Cindy Adams dalam &amp;lsquo;Sukarno: An Autobiography As Told To Cindy Adams&amp;rsquo;, menyebut Surabaya sebagai dapur revolusi.
</content:encoded></item></channel></rss>
