<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sembilan Negara Pengembang Senjata Nuklir Mematikan</title><description>Daftar sembilan negara pengembang senjata nuklir yang dirilis Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/06/16/18/1165881/sembilan-negara-pengembang-senjata-nuklir-mematikan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/06/16/18/1165881/sembilan-negara-pengembang-senjata-nuklir-mematikan"/><item><title>Sembilan Negara Pengembang Senjata Nuklir Mematikan</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/06/16/18/1165881/sembilan-negara-pengembang-senjata-nuklir-mematikan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/06/16/18/1165881/sembilan-negara-pengembang-senjata-nuklir-mematikan</guid><pubDate>Selasa 16 Juni 2015 06:01 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/06/15/18/1165881/sembilan-negara-pengembang-senjata-nuklir-mematikan-GjE0BMrpVU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Daftar Sembilan Negara Pengembang Senjata Nuklir Mematikan (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/06/15/18/1165881/sembilan-negara-pengembang-senjata-nuklir-mematikan-GjE0BMrpVU.jpg</image><title>Daftar Sembilan Negara Pengembang Senjata Nuklir Mematikan (Foto: Reuters)</title></images><description>
STOCKHOLM - Pada tahun ini, tercatat ada sembilan negara yang terus mengembangkan senjata nuklir mematikan. Dari sembilan negara, nama Iran tidak masuk di dalamnya.
Laporan terbaru tentang sembilan negara pengembang senjata nuklir itu dirilis Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang diterbitkan Selasa (16/6/2015). SIPRI menyoroti &amp;ldquo;perlombaan&amp;rdquo; pengembangan senjata nuklir di saat gencarnya pelucutan senjata mematikan itu.
Menurut laporan SIPRI, sembilan negara yang dimaksud itu adalah Amerika Serikat (AS), Rusia, Inggris, Prancis, CHina, India, Pakistan, Israel dan Korea Utara (Korut). Laporan itu menyebut, total ada hampir 15.850 senjata nuklir, di mana 4.300 bisa dikerahkan dengan kekuatan operasional dan 1.800 lainnya disimpan dalam keadaan siaga operasional tinggi.
Sementara jumlah hulu ledak nuklir telah diuji coba dalam beberapa tahun terakhir. AS dan Rusia, lanjut laporan itu telah mewakili sebagian besar pengurangan senjata nukir. Namun, negara-negara lainnya justru terus mengembangkan senjata nuklir.
&amp;rdquo;Meskipun kepentingan internasional baru dalam memprioritaskan peluncuran senjata nuklir, program modernisasi senjata nuklir berlangsung di negara-negara itu. Yang menunjukkan bahwa tidak satupun dari mereka akan menyerah untuk menyediakan persenjataan nuklir di masa mendatang,&amp;rdquo; kata Shannon Kile, seorang peneliti senior di SIPRI, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip IB Times.
Menurut laporan SIPRI, meskipun AS dan Rusia terus mengurangi persenjataan nuklir mereka, kedua negara itu sejatinya juga bekerja pada program modernisasi (senjata nuklir) jangka panjang yang luas dan mahal.
&amp;rdquo;Dalam kasus China, ini mungkin melibatkan sedikit peningkatan dalam ukuran arsenal nuklirnya,&amp;rdquo; bunyi laporan SIPRI. &amp;rdquo;India dan Pakistan sama-sama memperluas kemampuan produksi senjata nuklir mereka dan mengembangkan sistem pengiriman rudal baru.&amp;rdquo;
Sementara itu, Korea Utara diyakini mengembangkan senjata nuklirnya dari enam sampai delapan hulu ledak. Tapi, SIPRI mengakui sulit untuk menilai kemajuan teknis pengembangan senjata nuklir rezim Pyongyang itu.
(Sindonews.com)
</description><content:encoded>
STOCKHOLM - Pada tahun ini, tercatat ada sembilan negara yang terus mengembangkan senjata nuklir mematikan. Dari sembilan negara, nama Iran tidak masuk di dalamnya.
Laporan terbaru tentang sembilan negara pengembang senjata nuklir itu dirilis Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang diterbitkan Selasa (16/6/2015). SIPRI menyoroti &amp;ldquo;perlombaan&amp;rdquo; pengembangan senjata nuklir di saat gencarnya pelucutan senjata mematikan itu.
Menurut laporan SIPRI, sembilan negara yang dimaksud itu adalah Amerika Serikat (AS), Rusia, Inggris, Prancis, CHina, India, Pakistan, Israel dan Korea Utara (Korut). Laporan itu menyebut, total ada hampir 15.850 senjata nuklir, di mana 4.300 bisa dikerahkan dengan kekuatan operasional dan 1.800 lainnya disimpan dalam keadaan siaga operasional tinggi.
Sementara jumlah hulu ledak nuklir telah diuji coba dalam beberapa tahun terakhir. AS dan Rusia, lanjut laporan itu telah mewakili sebagian besar pengurangan senjata nukir. Namun, negara-negara lainnya justru terus mengembangkan senjata nuklir.
&amp;rdquo;Meskipun kepentingan internasional baru dalam memprioritaskan peluncuran senjata nuklir, program modernisasi senjata nuklir berlangsung di negara-negara itu. Yang menunjukkan bahwa tidak satupun dari mereka akan menyerah untuk menyediakan persenjataan nuklir di masa mendatang,&amp;rdquo; kata Shannon Kile, seorang peneliti senior di SIPRI, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip IB Times.
Menurut laporan SIPRI, meskipun AS dan Rusia terus mengurangi persenjataan nuklir mereka, kedua negara itu sejatinya juga bekerja pada program modernisasi (senjata nuklir) jangka panjang yang luas dan mahal.
&amp;rdquo;Dalam kasus China, ini mungkin melibatkan sedikit peningkatan dalam ukuran arsenal nuklirnya,&amp;rdquo; bunyi laporan SIPRI. &amp;rdquo;India dan Pakistan sama-sama memperluas kemampuan produksi senjata nuklir mereka dan mengembangkan sistem pengiriman rudal baru.&amp;rdquo;
Sementara itu, Korea Utara diyakini mengembangkan senjata nuklirnya dari enam sampai delapan hulu ledak. Tapi, SIPRI mengakui sulit untuk menilai kemajuan teknis pengembangan senjata nuklir rezim Pyongyang itu.
(Sindonews.com)
</content:encoded></item></channel></rss>
