<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pusaka Keraton Simbol Keselarasan Manusia dengan Alam</title><description>Dipamerkannya pusaka keraton bisa menjadi jembatan ilmu pengetahuan kepada generasi muda, khususnya mengenai sejarah.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/07/29/510/1186971/pusaka-keraton-simbol-keselarasan-manusia-dengan-alam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/07/29/510/1186971/pusaka-keraton-simbol-keselarasan-manusia-dengan-alam"/><item><title>Pusaka Keraton Simbol Keselarasan Manusia dengan Alam</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/07/29/510/1186971/pusaka-keraton-simbol-keselarasan-manusia-dengan-alam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/07/29/510/1186971/pusaka-keraton-simbol-keselarasan-manusia-dengan-alam</guid><pubDate>Rabu 29 Juli 2015 05:58 WIB</pubDate><dc:creator>Markus Yuwono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/07/29/510/1186971/pusaka-keraton-simbol-keselarasan-manusia-dengan-alam-rFMyu0k15r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pusaka Keraton Yogyakarat simbol keselarasan manusia dengan alam (Foto: Markus Yuwono).</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/07/29/510/1186971/pusaka-keraton-simbol-keselarasan-manusia-dengan-alam-rFMyu0k15r.jpg</image><title>Pusaka Keraton Yogyakarat simbol keselarasan manusia dengan alam (Foto: Markus Yuwono).</title></images><description>
YOGYAKARTA - Tradisi kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia beraneka ragam. Keselarasan antara manusia dan alam sering disimbolkan ke dalam berbagai bentuk karya seni. Diantaranya adalah senjata yang fungsinya untuk membentengi diri.
Selain itu, sejumlah hewan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga dijadikan sebagai simbol perlambangan dari sifat seorang Raja. Simbol-simbol itu di wujudkan dalam bentuk patung.
Hal itu terlihat dari pusaka yang dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan diwariskan hingga generasinya saat ini. Benda pusaka tersebut dipamerkan di pendopo Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Beberapa pusaka tampak berbentuk menyerupai patung angsa berlapis emas, patung rusa berlapis emas, sawung pusaka berbentuk patung ayam berlapis emas, dan galing pusaka berbentuk patung merak berlapis emas.
Seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta, Hadi Utomo, menjelaskan bahwa benda pusaka merupakan cerminan dari seorang raja yang disimbolkan ke dalam bentuk hewan. Maknanya sebagai banyak dalang sawung galing.
&quot;Banyak Dalang Sawung Galing merupakan simbol patung hewan yang menjadi gambaran sifat Raja,&quot; kata Hadi pada 28 Juli 2015.
Ia mengatakan, salah satu contoh sawung atau ayam jantan merupakan simbol keberanian seorang raja. Dalam pemaknaannya, seorang raja harus berani dan tidak takut untuk bertarung dalam mempertahankan kehormatan diri dan rakyatnya.
Dalang atau rusa menyimbolkan sosok raja yang cerdas dan gesit. Meski lincah namun seorang raja tidak boleh meninggalkan keelokannya.
Banyak atau Angsa memiliki arti seorang pemimpin yang selalu waspada dan siap menghadapi setiap masalah.
Sementara galing adalah Burung Merak yang melambangkan kewibawaan seorang Raja. Hal itu berdasarkan gambaran pada bulu merak yang berwibawa. &quot;kalau melihat Burung merak, maka tampak kewibawaan terpancar darinya, karena jika sayapnya terbentang tampak gagah serta saat ekornya mengembang akan terlihat sangat indah,&quot; jelas dia.
Ia menjelaskan, pusaka-pusaka tersebut dibuat oleh Sri Sultan HB I. Masing-masing patung dibuat menggunakan emas murni seberat 1 kilogram. Kala itu, patung diletakkan di samping kanan dan kiri singgasana sultan.
Banyak dalang di sebelah kanan, sementara sawung dan galling diletakkan di sebelah kiri. &quot;Pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII dibuat replika dari bahan baku kuningan. Sementara aslinya hanya dikeluarkan saat acara tertentu di keraton,&quot; ungkapnya.
Ia berharap, dengan dipamerkannya tiruan pusaka keraton bisa menjadi jembatan ilmu pengetahuan kepada generasi muda, khususnya mengenai sejarah. &quot;Jangan sampai tradisi dilupakan oleh generasi muda saat ini,&quot; tutupnya. (fal)
</description><content:encoded>
YOGYAKARTA - Tradisi kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia beraneka ragam. Keselarasan antara manusia dan alam sering disimbolkan ke dalam berbagai bentuk karya seni. Diantaranya adalah senjata yang fungsinya untuk membentengi diri.
Selain itu, sejumlah hewan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga dijadikan sebagai simbol perlambangan dari sifat seorang Raja. Simbol-simbol itu di wujudkan dalam bentuk patung.
Hal itu terlihat dari pusaka yang dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan diwariskan hingga generasinya saat ini. Benda pusaka tersebut dipamerkan di pendopo Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Beberapa pusaka tampak berbentuk menyerupai patung angsa berlapis emas, patung rusa berlapis emas, sawung pusaka berbentuk patung ayam berlapis emas, dan galing pusaka berbentuk patung merak berlapis emas.
Seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta, Hadi Utomo, menjelaskan bahwa benda pusaka merupakan cerminan dari seorang raja yang disimbolkan ke dalam bentuk hewan. Maknanya sebagai banyak dalang sawung galing.
&quot;Banyak Dalang Sawung Galing merupakan simbol patung hewan yang menjadi gambaran sifat Raja,&quot; kata Hadi pada 28 Juli 2015.
Ia mengatakan, salah satu contoh sawung atau ayam jantan merupakan simbol keberanian seorang raja. Dalam pemaknaannya, seorang raja harus berani dan tidak takut untuk bertarung dalam mempertahankan kehormatan diri dan rakyatnya.
Dalang atau rusa menyimbolkan sosok raja yang cerdas dan gesit. Meski lincah namun seorang raja tidak boleh meninggalkan keelokannya.
Banyak atau Angsa memiliki arti seorang pemimpin yang selalu waspada dan siap menghadapi setiap masalah.
Sementara galing adalah Burung Merak yang melambangkan kewibawaan seorang Raja. Hal itu berdasarkan gambaran pada bulu merak yang berwibawa. &quot;kalau melihat Burung merak, maka tampak kewibawaan terpancar darinya, karena jika sayapnya terbentang tampak gagah serta saat ekornya mengembang akan terlihat sangat indah,&quot; jelas dia.
Ia menjelaskan, pusaka-pusaka tersebut dibuat oleh Sri Sultan HB I. Masing-masing patung dibuat menggunakan emas murni seberat 1 kilogram. Kala itu, patung diletakkan di samping kanan dan kiri singgasana sultan.
Banyak dalang di sebelah kanan, sementara sawung dan galling diletakkan di sebelah kiri. &quot;Pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII dibuat replika dari bahan baku kuningan. Sementara aslinya hanya dikeluarkan saat acara tertentu di keraton,&quot; ungkapnya.
Ia berharap, dengan dipamerkannya tiruan pusaka keraton bisa menjadi jembatan ilmu pengetahuan kepada generasi muda, khususnya mengenai sejarah. &quot;Jangan sampai tradisi dilupakan oleh generasi muda saat ini,&quot; tutupnya. (fal)
</content:encoded></item></channel></rss>
