<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tren Sosial, Petani Garut Buang 20 Ton Tomat Hasil Kebun</title><description>Dedi Hermawan (40) memutuskan untuk tidak memanen tomat di kebunnya karena harga terlalu rendah dan tidak sebanding dengan ongkos angkutnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/08/13/525/1195750/tren-sosial-petani-garut-buang-20-ton-tomat-hasil-kebun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/08/13/525/1195750/tren-sosial-petani-garut-buang-20-ton-tomat-hasil-kebun"/><item><title>Tren Sosial, Petani Garut Buang 20 Ton Tomat Hasil Kebun</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/08/13/525/1195750/tren-sosial-petani-garut-buang-20-ton-tomat-hasil-kebun</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/08/13/525/1195750/tren-sosial-petani-garut-buang-20-ton-tomat-hasil-kebun</guid><pubDate>Kamis 13 Agustus 2015 17:11 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/08/13/525/1195750/tren-sosial-petani-garut-buang-20-ton-tomat-hasil-kebun-pkhpF0Lnud.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jengkel, petani tomat buang hasil kebunnya (Foto: BBC/Kristianto Hengki/Facebook)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/08/13/525/1195750/tren-sosial-petani-garut-buang-20-ton-tomat-hasil-kebun-pkhpF0Lnud.jpg</image><title>Jengkel, petani tomat buang hasil kebunnya (Foto: BBC/Kristianto Hengki/Facebook)</title></images><description>GARUT &amp;ndash; Dedi Hermawan (40) seorang petani di Garut memutuskan untuk tidak memanen tomat di kebunnya karena harga jual terlalu rendah dan tidak sebanding dengan ongkos angkutnya.
Menurut dia, harga jual tomat saat ini sedang menukik tajam, hanya sekitar Rp300 per kilogram. Sedangkan ongkos angkut dari kebun ke tengkulak atau bandar yang harus ditanggung petani sekira Rp500 per kilogram.
&quot;Itu ongkos angkut saja, padahal untuk menanam itu kalau dihitung-hitung sudah habis Rp3.000 per pohon,&quot; katanya.
Dari pada menanggung lebih banyak rugi, Dedi memutuskan untuk membuang tomat-tomatnya yang sudah masak.
&quot;Ada sekitar 20 ton, dibuang, tidak dipanen sudah saja ditinggal di kebun. Nanti kalau olah lahan, ya tanamannya dicangkul lagi. Kalau petani sih risiko, paling punya utang ke kios, dia sih udah maklum. Kalau enggak tanam lagi mau kerja di mana?&quot; ujarnya.
Buang di Selokan
Tomat-tomat di Garut menjadi bahan perbincangan setelah para tengkulak membuang banyak tomat di selokan di daerah Cikajang, Garut.
Sebuah foto di Facebook yang diunggah oleh Fikka Selfiana memperlihatkan banyaknya tomat merah yang dibuang. Menurut informasi yang didapat tomat-tomat tersebut telah dibagikan lebih dari 24.000 kali hingga tak ada lagi yang bisa menampung.
Kristianto Hengki yang mengambil foto tersebut mengatakan dia merasa prihatin dan kasihan kepada petani yang merugi karena panennya sia-sia.
&quot;Itu memang daerah yang sering saya lalui sehari-hari. Cuaca panas sehingga tomat jadi cepat rusak. Tomat-tomat di selokan itu tidak busuk sebetulnya, tetapi sudah sangat merah dan jelek. Kalau dijual di pasar pasti tidak laku,&quot; jelasnya.
Menurut Hengki, petani harus merugi karena hanya dibayar Rp200 per kilogram, sedangkan harus membayar buruh angkut hasil panen. Padahal, di pasar harga tomat Rp2.500 satu kilogram.
Walau prihatin, Hengki mengatakan aksi buang-buang hasil panen sudah biasa terjadi karena petani jengkel. Harga berbagai macam sayur  yang selalu ditentukan oleh bandar atau tengkulak  tidak bisa diprediksi sehingga petani harus pasrah jika harga jual anjlok.
Dedi yang juga menanam kentang dan kubis di lahannya berharap ke depannya, harga beli dari petani bisa stabil sehingga mereka tidak merugi.</description><content:encoded>GARUT &amp;ndash; Dedi Hermawan (40) seorang petani di Garut memutuskan untuk tidak memanen tomat di kebunnya karena harga jual terlalu rendah dan tidak sebanding dengan ongkos angkutnya.
Menurut dia, harga jual tomat saat ini sedang menukik tajam, hanya sekitar Rp300 per kilogram. Sedangkan ongkos angkut dari kebun ke tengkulak atau bandar yang harus ditanggung petani sekira Rp500 per kilogram.
&quot;Itu ongkos angkut saja, padahal untuk menanam itu kalau dihitung-hitung sudah habis Rp3.000 per pohon,&quot; katanya.
Dari pada menanggung lebih banyak rugi, Dedi memutuskan untuk membuang tomat-tomatnya yang sudah masak.
&quot;Ada sekitar 20 ton, dibuang, tidak dipanen sudah saja ditinggal di kebun. Nanti kalau olah lahan, ya tanamannya dicangkul lagi. Kalau petani sih risiko, paling punya utang ke kios, dia sih udah maklum. Kalau enggak tanam lagi mau kerja di mana?&quot; ujarnya.
Buang di Selokan
Tomat-tomat di Garut menjadi bahan perbincangan setelah para tengkulak membuang banyak tomat di selokan di daerah Cikajang, Garut.
Sebuah foto di Facebook yang diunggah oleh Fikka Selfiana memperlihatkan banyaknya tomat merah yang dibuang. Menurut informasi yang didapat tomat-tomat tersebut telah dibagikan lebih dari 24.000 kali hingga tak ada lagi yang bisa menampung.
Kristianto Hengki yang mengambil foto tersebut mengatakan dia merasa prihatin dan kasihan kepada petani yang merugi karena panennya sia-sia.
&quot;Itu memang daerah yang sering saya lalui sehari-hari. Cuaca panas sehingga tomat jadi cepat rusak. Tomat-tomat di selokan itu tidak busuk sebetulnya, tetapi sudah sangat merah dan jelek. Kalau dijual di pasar pasti tidak laku,&quot; jelasnya.
Menurut Hengki, petani harus merugi karena hanya dibayar Rp200 per kilogram, sedangkan harus membayar buruh angkut hasil panen. Padahal, di pasar harga tomat Rp2.500 satu kilogram.
Walau prihatin, Hengki mengatakan aksi buang-buang hasil panen sudah biasa terjadi karena petani jengkel. Harga berbagai macam sayur  yang selalu ditentukan oleh bandar atau tengkulak  tidak bisa diprediksi sehingga petani harus pasrah jika harga jual anjlok.
Dedi yang juga menanam kentang dan kubis di lahannya berharap ke depannya, harga beli dari petani bisa stabil sehingga mereka tidak merugi.</content:encoded></item></channel></rss>
