<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ibu Kandung Angeline Tuntut Pelaku Dihukum Mati</title><description>Ibu kandung Angeline minta kepada penegak hukum untuk memvonis mati siapapun yang terbukti membunuh anak kandungnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/08/25/519/1201863/ibu-kandung-angeline-tuntut-pelaku-dihukum-mati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/08/25/519/1201863/ibu-kandung-angeline-tuntut-pelaku-dihukum-mati"/><item><title>Ibu Kandung Angeline Tuntut Pelaku Dihukum Mati</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/08/25/519/1201863/ibu-kandung-angeline-tuntut-pelaku-dihukum-mati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/08/25/519/1201863/ibu-kandung-angeline-tuntut-pelaku-dihukum-mati</guid><pubDate>Selasa 25 Agustus 2015 07:28 WIB</pubDate><dc:creator>Eko Suryono </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/08/24/519/1201863/ibu-kandung-angeline-tuntut-pelaku-dihukum-mati-VRYVnQy0P7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Hamidah (kedua dari kanan) ibu kandung Angeline (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/08/24/519/1201863/ibu-kandung-angeline-tuntut-pelaku-dihukum-mati-VRYVnQy0P7.jpg</image><title>Hamidah (kedua dari kanan) ibu kandung Angeline (Foto: Antara)</title></images><description>
BANYUWANGI &amp;ndash; Tewasnya Engeline Megawe (Angeline), bocah delapan tahun yang ditemukan terkubur di belakang rumah orangtua angkatnya, Margriet Megawe di Denpasar, Bali, masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga kandungnya di Banyuwangi, Jawa Timur.
Terutama bagi Hamidah, ibu kandung Angeline yang berharap aparat hukum, bisa menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya terhadap pelaku.
Pada acara pengajian 100 hari meninggalnya Angeline di Dusun Wadung Pal, desa Tulung Rejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Hamidah mengaku belum bisa menghilangkan bayang-bayang penderitaan sang buah hati yang semasa hidupnya, tinggal bersama Magriet.
Tewasnya Angeline bukan hanya membuat luka paling dalam bagi keluarga. Ribuan warga dari sejumlah daerah pun turut berduka, hingga ikut mengantarkan jenazah Angeline ketika dikebumikan di pemakaman umum di dekat tempat tinggal sang ibu kandung.
Sebagai ibu yang melahirkan dan lama berpisah, Hamidah masih memiliki harapan besar untuk bertemu putri keduanya itu dari tiga orang anak perkawinan pertamanya.
Menurutnya, Margriet, ibu angkat Angeline, telah berjanji akan mengembalikan Angeline saat berusia 18 tahun. Namun perpisahan untuk selama-lamanya tersebut membuat Hamidah begitu terpukul.
Kini, Hamidah dan keluarganya hanya dapat berserah diri pada penegak hukum dan berharap, hukuman setimpal bisa dijatuhkan bagi pelaku pembunuhan Angeline.
Hingga hari ke-100 meninggalnya Angeline, Hamidah juga belum mendapat kepastian, kapan perkara pembunuhan anaknya tersebut segera disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar.
Menurut Hamidah, siapapun pembunuh Angeline patut dihukum mati. Pasalnya, mereka dianggap begitu keji menghilangkan nyawa bocah manis berusia delapan tahun tersebut.
Sementara itu berkaitan dengan perkembangan proses hukum pelaku pembunuhan Angeline, Hamidah menyerahkan sepenuhnya kepada para aktivis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA) Bali, yang sejak awal mendampinginya ketika Angeline dinyatakan hilang.
</description><content:encoded>
BANYUWANGI &amp;ndash; Tewasnya Engeline Megawe (Angeline), bocah delapan tahun yang ditemukan terkubur di belakang rumah orangtua angkatnya, Margriet Megawe di Denpasar, Bali, masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga kandungnya di Banyuwangi, Jawa Timur.
Terutama bagi Hamidah, ibu kandung Angeline yang berharap aparat hukum, bisa menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya terhadap pelaku.
Pada acara pengajian 100 hari meninggalnya Angeline di Dusun Wadung Pal, desa Tulung Rejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Hamidah mengaku belum bisa menghilangkan bayang-bayang penderitaan sang buah hati yang semasa hidupnya, tinggal bersama Magriet.
Tewasnya Angeline bukan hanya membuat luka paling dalam bagi keluarga. Ribuan warga dari sejumlah daerah pun turut berduka, hingga ikut mengantarkan jenazah Angeline ketika dikebumikan di pemakaman umum di dekat tempat tinggal sang ibu kandung.
Sebagai ibu yang melahirkan dan lama berpisah, Hamidah masih memiliki harapan besar untuk bertemu putri keduanya itu dari tiga orang anak perkawinan pertamanya.
Menurutnya, Margriet, ibu angkat Angeline, telah berjanji akan mengembalikan Angeline saat berusia 18 tahun. Namun perpisahan untuk selama-lamanya tersebut membuat Hamidah begitu terpukul.
Kini, Hamidah dan keluarganya hanya dapat berserah diri pada penegak hukum dan berharap, hukuman setimpal bisa dijatuhkan bagi pelaku pembunuhan Angeline.
Hingga hari ke-100 meninggalnya Angeline, Hamidah juga belum mendapat kepastian, kapan perkara pembunuhan anaknya tersebut segera disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar.
Menurut Hamidah, siapapun pembunuh Angeline patut dihukum mati. Pasalnya, mereka dianggap begitu keji menghilangkan nyawa bocah manis berusia delapan tahun tersebut.
Sementara itu berkaitan dengan perkembangan proses hukum pelaku pembunuhan Angeline, Hamidah menyerahkan sepenuhnya kepada para aktivis Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA) Bali, yang sejak awal mendampinginya ketika Angeline dinyatakan hilang.
</content:encoded></item></channel></rss>
