<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harta Pasien BPJS di RSMH Raib </title><description>Kalung emas 2,5 suku milik pasien BPJS tersebut hilang termasuk dua unit ponselnya. Uang ratusan juta juga ikut diambil.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/09/16/340/1214866/harta-pasien-bpjs-di-rsmh-raib</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/09/16/340/1214866/harta-pasien-bpjs-di-rsmh-raib"/><item><title>Harta Pasien BPJS di RSMH Raib </title><link>https://news.okezone.com/read/2015/09/16/340/1214866/harta-pasien-bpjs-di-rsmh-raib</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/09/16/340/1214866/harta-pasien-bpjs-di-rsmh-raib</guid><pubDate>Rabu 16 September 2015 02:20 WIB</pubDate><dc:creator>Mewan Haqulana </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/09/16/340/1214866/harta-pasien-bpjs-di-rsmh-raib-TaqU9Kv3DT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Syaiful Haq memegang kepala adiknya yang juga pasien BPJS di Palembang (foto: Mewan Haqulana-Okezone) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/09/16/340/1214866/harta-pasien-bpjs-di-rsmh-raib-TaqU9Kv3DT.jpg</image><title>Syaiful Haq memegang kepala adiknya yang juga pasien BPJS di Palembang (foto: Mewan Haqulana-Okezone) </title></images><description>
PALEMBANG- Pihak keluarga pasien BPJS bersikeras Masyta Dewi (50) tetap harus dirawat inap di Rumah Sakit Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang. Bukan semata karena alasan kesehatan tapi juga keselamatan pasien BPJS tersebut.
Masalahnya adalah soal peliknya masalah keluarga mereka yang diduga terkait harta kekayaan yang dimiliki pasien tersebut. Syaiful Haq, kakak Masyta mengatakan sejak dosen Teknik Sipil Universitas Sriwijaya tersebut koma sejak beberapa hari lalu, banyak terjadi kejanggalan terutama terkait keuangan dan harta kekayaan Masyta.
&quot;Diantaranya, kalung emas 2,5 suku milik Masyta hilang dan dua unit ponselnya juga sempat hilang yang kemudian kembali lagi,&quot; jelas Syaiful Haq, Rabu (16/9/2015).
Tidak hanya itu, berdasarkan pesan dari SMS banking yang masuk ke telefon adiknya tersebut, banyak sekali laporan pengambilan uang. Mayoritas berjumlah Rp3,5 juta setiap laporan, yang kemungkinan diambil via ATM. Ada juga penarikan uang mencapai Rp286 juta.
&quot;Sekarang ini dua handphone Masyta, saya yang pegang. Ternyata di salah satu handphone ini ada catatan nomor pin ATM dan segala sesuatu terkait keuangan dia. Saya curiga ada yang menemukan kartu ATM nya dan sempat memegang ponsel ini,&quot; jelasnya.
Kejanggalan selanjutnya pada Selasa 15 September 2015, sekitar pukul 14.30 WIB terdapat sambungan dari nomor operator salah satu provider yang menyebutkan pihaknya menerima laporan dari yang bersangkutan kalau nomor tersebut hilang dan akan memblokir nomor rekening tersebut.
&quot;Padahal saya sudah jelaskan, yang punya nomor Masyta, adik saya sekarang lagi dirawat di rumah sakit dan nomornya tidak hilang, saya yang pegang. Tapi, tetap saja selang beberapa menit, nomor itu langsung tidak aktif. Lagian tidak mungkin orang sedang terbaring sakit ini bisa buat laporan hilang,&quot; bebernya.
Dengan diblokirnya nomor banking adiknya tersebut, Syaiful Haq otomatis tidak bisa memantau perjalanan keluar masuk rekening bank adiknya yang sering dilaporkan via sms banking.
&amp;ldquo;Saya yakin ada kepentingan seseorang yang menginginkan sesuatu dari pasien dan kita tidak tahu siapa orangnya, dekat atau jauh. Inilah alasan saya mengapa Masyta mesti dirawat di sini, bukan sekadar untuk kesehatan tapi juga demi keamanan. Takutnya ada apa-apa yang mengancam jiwanya, di luar penyakit yang diderita saat ini,&quot; ujarnya.
</description><content:encoded>
PALEMBANG- Pihak keluarga pasien BPJS bersikeras Masyta Dewi (50) tetap harus dirawat inap di Rumah Sakit Moehammad Hoesin (RSMH) Palembang. Bukan semata karena alasan kesehatan tapi juga keselamatan pasien BPJS tersebut.
Masalahnya adalah soal peliknya masalah keluarga mereka yang diduga terkait harta kekayaan yang dimiliki pasien tersebut. Syaiful Haq, kakak Masyta mengatakan sejak dosen Teknik Sipil Universitas Sriwijaya tersebut koma sejak beberapa hari lalu, banyak terjadi kejanggalan terutama terkait keuangan dan harta kekayaan Masyta.
&quot;Diantaranya, kalung emas 2,5 suku milik Masyta hilang dan dua unit ponselnya juga sempat hilang yang kemudian kembali lagi,&quot; jelas Syaiful Haq, Rabu (16/9/2015).
Tidak hanya itu, berdasarkan pesan dari SMS banking yang masuk ke telefon adiknya tersebut, banyak sekali laporan pengambilan uang. Mayoritas berjumlah Rp3,5 juta setiap laporan, yang kemungkinan diambil via ATM. Ada juga penarikan uang mencapai Rp286 juta.
&quot;Sekarang ini dua handphone Masyta, saya yang pegang. Ternyata di salah satu handphone ini ada catatan nomor pin ATM dan segala sesuatu terkait keuangan dia. Saya curiga ada yang menemukan kartu ATM nya dan sempat memegang ponsel ini,&quot; jelasnya.
Kejanggalan selanjutnya pada Selasa 15 September 2015, sekitar pukul 14.30 WIB terdapat sambungan dari nomor operator salah satu provider yang menyebutkan pihaknya menerima laporan dari yang bersangkutan kalau nomor tersebut hilang dan akan memblokir nomor rekening tersebut.
&quot;Padahal saya sudah jelaskan, yang punya nomor Masyta, adik saya sekarang lagi dirawat di rumah sakit dan nomornya tidak hilang, saya yang pegang. Tapi, tetap saja selang beberapa menit, nomor itu langsung tidak aktif. Lagian tidak mungkin orang sedang terbaring sakit ini bisa buat laporan hilang,&quot; bebernya.
Dengan diblokirnya nomor banking adiknya tersebut, Syaiful Haq otomatis tidak bisa memantau perjalanan keluar masuk rekening bank adiknya yang sering dilaporkan via sms banking.
&amp;ldquo;Saya yakin ada kepentingan seseorang yang menginginkan sesuatu dari pasien dan kita tidak tahu siapa orangnya, dekat atau jauh. Inilah alasan saya mengapa Masyta mesti dirawat di sini, bukan sekadar untuk kesehatan tapi juga demi keamanan. Takutnya ada apa-apa yang mengancam jiwanya, di luar penyakit yang diderita saat ini,&quot; ujarnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
