<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>1 Oktober: Elegi Jenderal Yani</title><description>&quot;Tiba di sebuah tempat, kudengar suara pikuk. &amp;lsquo;Yani wes dipateni, Yani wes dipateni'&quot;.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/01/337/1223847/1-oktober-elegi-jenderal-yani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/10/01/337/1223847/1-oktober-elegi-jenderal-yani"/><item><title>1 Oktober: Elegi Jenderal Yani</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/01/337/1223847/1-oktober-elegi-jenderal-yani</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/10/01/337/1223847/1-oktober-elegi-jenderal-yani</guid><pubDate>Kamis 01 Oktober 2015 07:47 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/09/30/337/1223847/1-oktober-elegi-jenderal-yani-p2mJWCGcJV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Amelia Yani bercerita mengenang sang ayah, Jenderal Ahmad Yani (Foto: Randy Wirayudha)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/09/30/337/1223847/1-oktober-elegi-jenderal-yani-p2mJWCGcJV.jpg</image><title>Amelia Yani bercerita mengenang sang ayah, Jenderal Ahmad Yani (Foto: Randy Wirayudha)</title></images><description>
JAKARTA &amp;ndash; Salah satu putra terbaik bangsa, Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani mesti meregang nyawa dan tutup usia dengan sia-sia. Gerombolan Tjakrabirawa yang sudah terkena virus komunis dan pemuda rakyat nan terkutuk, membinasakannya di rumahnya sendiri, Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat, di suatu subuh, 1 Oktober 50 tahun lampau.
Pada suatu kesempatan, penulis merasa beruntung bisa mendapatkan berbagai segi kisah tentang sosok Menteri/Panglima Angkatan Darat pada saat itu, dari penuturan salah putrinya, Amelia A. Yani, di rumah sang jenderal yang kini dijadikan Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani.
Dalam kesempatan itu, Amelia bahkan turut membacakan satu-satunya elegi atau sajak tentang ratapan, yang diakuinya seolah berasal dari bisikan sang Ayah.
Amelia menuliskannya di tengah keramaian, ketika berada pada suatu acara di Langkat, Sumatera Utara, 2009 silam. Sajak atau puisi itu disandangkan dengan judul &amp;ldquo;Suara dari Keabadian&amp;rdquo;:
Tujuh peluru menembus dadaku. Merobek-robek jantungku. Sekujur tubuhku nyeri dan panas. Kudengar tangismu. Kudengar jeritanmu, anakku. &amp;lsquo;Bapak-bapak&amp;rsquo;. Tapi ku tak berdaya di tangan mereka. Mereka melempar dan menginjak-injak tubuhku yang terluka parah. Ku dengar mesin menderu-deru membawaku jauh. Aku ingin duduk, aku ingin berdiri, tapi tubuhku ditindih oleh kaki-kaki bersepatu lars. 
Darahku terus mengalir deras. Aku tak mampu, kekuatanku sirna, tubuhku lunglai. Tiba di sebuah tempat, kudengar suara pikuk. &amp;lsquo;Yani wes dipateni, Yani wes dipateni (Yani sudah dibunuh, Yani sudah dibunuh)&amp;rsquo;. Dan sayup-sayup kudengar, &amp;lsquo;sukses-sukses&amp;rsquo;. Kemudian aku dibenamkan dalam kegelapan lorong gelap sempit. Sunyi senyap, gelap. Di mana istriku, di mana anak-anakku, di mana ayahku, di mana bundaku? 
Lalu apa arti tubuh yang hancur dan bersatu dengan tanah ini? Semua musuh negara kutumpas. DI/TII, PRRI, Permesta, Perjuangan Trikora. Perintah Bung Karno, sebelum ayam berkokok 1 Jaanuri 1963, Irian Barat harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Kemudian Dwikora, Ganyang Malaysia. Semua tugas aku laksanakan dengan semangat yang menyala-nyala. 
Adakah arti dari pengabidan dan andilku dalam menegakkan Pancasila yg berketuhanan Yang Maha Esa, yang berperikemanusiaan, yang berdaulat dan bermartabat, telah dirusak oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan. Tetapi aku tetap terdepan, benteng ibu pertiwi, tak pernah mundur sejengkal pun. Tidak pernah ragu, mati-matian aku pertahankan negeri tercinta ini. 
Kini anakku, aku sudah bersatu dengan Sang Khalik. Aku sudah berdamai dengan waktuku. Tapi aku bersedih dan menangis ketika negeri ini digerogoti oleh koruptor dan pengkhianat-pengkhianat yang menghalalkan segala cara. Sebagai prajurit TNI yang pantang menyerah, aku hanya bisa mewariskan setiap tetes darahku sebagai semangat perjuangan untuk kehormatan bangsa. 
&amp;ldquo;Itu suara yang saya dengar. Padahal banyak orang ketika itu. Ada perasaan yang bergelora terus. Saya sempat nangis. Saya ambil kertas, saya tulis. Jadilah ini puisi satu-satunya,&amp;rdquo; ungkap Amelia Yani kepada Okezone.
</description><content:encoded>
JAKARTA &amp;ndash; Salah satu putra terbaik bangsa, Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani mesti meregang nyawa dan tutup usia dengan sia-sia. Gerombolan Tjakrabirawa yang sudah terkena virus komunis dan pemuda rakyat nan terkutuk, membinasakannya di rumahnya sendiri, Jalan Lembang D58, Jakarta Pusat, di suatu subuh, 1 Oktober 50 tahun lampau.
Pada suatu kesempatan, penulis merasa beruntung bisa mendapatkan berbagai segi kisah tentang sosok Menteri/Panglima Angkatan Darat pada saat itu, dari penuturan salah putrinya, Amelia A. Yani, di rumah sang jenderal yang kini dijadikan Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani.
Dalam kesempatan itu, Amelia bahkan turut membacakan satu-satunya elegi atau sajak tentang ratapan, yang diakuinya seolah berasal dari bisikan sang Ayah.
Amelia menuliskannya di tengah keramaian, ketika berada pada suatu acara di Langkat, Sumatera Utara, 2009 silam. Sajak atau puisi itu disandangkan dengan judul &amp;ldquo;Suara dari Keabadian&amp;rdquo;:
Tujuh peluru menembus dadaku. Merobek-robek jantungku. Sekujur tubuhku nyeri dan panas. Kudengar tangismu. Kudengar jeritanmu, anakku. &amp;lsquo;Bapak-bapak&amp;rsquo;. Tapi ku tak berdaya di tangan mereka. Mereka melempar dan menginjak-injak tubuhku yang terluka parah. Ku dengar mesin menderu-deru membawaku jauh. Aku ingin duduk, aku ingin berdiri, tapi tubuhku ditindih oleh kaki-kaki bersepatu lars. 
Darahku terus mengalir deras. Aku tak mampu, kekuatanku sirna, tubuhku lunglai. Tiba di sebuah tempat, kudengar suara pikuk. &amp;lsquo;Yani wes dipateni, Yani wes dipateni (Yani sudah dibunuh, Yani sudah dibunuh)&amp;rsquo;. Dan sayup-sayup kudengar, &amp;lsquo;sukses-sukses&amp;rsquo;. Kemudian aku dibenamkan dalam kegelapan lorong gelap sempit. Sunyi senyap, gelap. Di mana istriku, di mana anak-anakku, di mana ayahku, di mana bundaku? 
Lalu apa arti tubuh yang hancur dan bersatu dengan tanah ini? Semua musuh negara kutumpas. DI/TII, PRRI, Permesta, Perjuangan Trikora. Perintah Bung Karno, sebelum ayam berkokok 1 Jaanuri 1963, Irian Barat harus kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Kemudian Dwikora, Ganyang Malaysia. Semua tugas aku laksanakan dengan semangat yang menyala-nyala. 
Adakah arti dari pengabidan dan andilku dalam menegakkan Pancasila yg berketuhanan Yang Maha Esa, yang berperikemanusiaan, yang berdaulat dan bermartabat, telah dirusak oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan. Tetapi aku tetap terdepan, benteng ibu pertiwi, tak pernah mundur sejengkal pun. Tidak pernah ragu, mati-matian aku pertahankan negeri tercinta ini. 
Kini anakku, aku sudah bersatu dengan Sang Khalik. Aku sudah berdamai dengan waktuku. Tapi aku bersedih dan menangis ketika negeri ini digerogoti oleh koruptor dan pengkhianat-pengkhianat yang menghalalkan segala cara. Sebagai prajurit TNI yang pantang menyerah, aku hanya bisa mewariskan setiap tetes darahku sebagai semangat perjuangan untuk kehormatan bangsa. 
&amp;ldquo;Itu suara yang saya dengar. Padahal banyak orang ketika itu. Ada perasaan yang bergelora terus. Saya sempat nangis. Saya ambil kertas, saya tulis. Jadilah ini puisi satu-satunya,&amp;rdquo; ungkap Amelia Yani kepada Okezone.
</content:encoded></item></channel></rss>
