<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Guru Bersikap Arogan, Siswa SMK Turun ke Lapangan</title><description>Para siswa kelas XI dan XII itu mengaku stres berat lantaran sering menerima hukuman fisik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/08/512/1228496/guru-bersikap-arogan-siswa-smk-turun-ke-lapangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/10/08/512/1228496/guru-bersikap-arogan-siswa-smk-turun-ke-lapangan"/><item><title>Guru Bersikap Arogan, Siswa SMK Turun ke Lapangan</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/08/512/1228496/guru-bersikap-arogan-siswa-smk-turun-ke-lapangan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/10/08/512/1228496/guru-bersikap-arogan-siswa-smk-turun-ke-lapangan</guid><pubDate>Kamis 08 Oktober 2015 16:38 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/10/08/512/1228496/guru-bersikap-arogan-siswa-smk-turun-ke-lapangan-yX8nxG7Ip9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Siswa SMK BK usai berunjuk rasa di lapangan sekolah (Foto: krjogja)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/10/08/512/1228496/guru-bersikap-arogan-siswa-smk-turun-ke-lapangan-yX8nxG7Ip9.jpg</image><title>Siswa SMK BK usai berunjuk rasa di lapangan sekolah (Foto: krjogja)</title></images><description>

KARANGANYAR - Jemu atas sikap pengajarnya yang arogan, puluhan siswa SMK Bhakti  Karya (BK) Karanganyar mogok mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),  Kamis (8/10/2015). Para siswa kelas XI dan XII itu mengaku stres berat  lantaran sering menerima hukuman fisik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, puluhan siswa tersebut memilih  duduk-duduk di lapangan sekolah, alih-alih mengikuti pelajaran di jam  pertama. Hal ini membuat para guru khawatir sehingga meminta pengawalan  polisi.
Usut punya usut, para siswa sering dihukum berlari  mengelilingi lapangan. Kemudian berguling-guling di bawah terik matahari  lalu dilanjutkan dengan hukuman push up.
Berbagai macam  hukuman semi militer itu dijatuhkan kepada siswa yang melakukan  kesalahan sederhana seperti terlambat masuk sekolah.
Salah seorang siswa berinisial AN mengatakan  hukuman tak logis itu dijatuhkan seorang guru berinisial WCN. Setiap  kali menghukum, guru tersebut berdalih mendapat mandat dari Kepala  Sekolah SMK BK Sri Eka Lelana.
&amp;ldquo;Murid perempuan dan laki-laki dihukum sama. Seperti push up berantai, lalu berguling di lapangan. Semacam di militer saja, penuh  kekerasan. Kami ini mau berkonsentrasi belajar menghadapi ujian. Jangan  dihukum terus,&amp;rdquo; ujar siswa yang engan disebut namanya.
Ia mengatakan, aksi mogok belajar juga untuk mengingatkan pihak  sekolah agar berlaku adil dalam memberikan beasiswa pendidikan. Sebab,  siswa menuding kepala sekolah (Kepsek) dan oknum guru tersebut pilih  kasih.
Ketika wartawan ingin melakukan peliputan unjuk rasa siswa, pihak  sekolah seakan menutupinya. Beberapa siswa mengatakan, persoalan itu  hendak diselesaikan secara internal alias bukan konsumsi publik.
Berdasarkan  pantauan, setelah mogok belajar kemudian puluhan siswa beranjak dari  lapangan sekolah menuju ruangan mediasi yang digelar secara tertutup.
Kepada wartawan di ruangannya, Kepsek SMK BK, Sri Eka Lelana, menolak  dianggap arogan dan terlalu keras memberi hukuman, seperti tudingan  siswa terhadap dirinya. Menurutnya, jenis hukuman untuk membentuk  kedisiplinan itu masih wajar.
Meskipun demikian, ia mengakui  adanya siswa yang langganan dihukum karena sering terlambat mengikuti  jam pelajaran. &amp;ldquo;Tidak sepenuhnya kekerasan. Tujuan kami selaku pendidik  untuk menumbuhkan kedisiplinan. Termasuk memberi pembinaan siswa yang  melanggar aturan,&amp;rdquo; pungkasnya.

</description><content:encoded>

KARANGANYAR - Jemu atas sikap pengajarnya yang arogan, puluhan siswa SMK Bhakti  Karya (BK) Karanganyar mogok mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM),  Kamis (8/10/2015). Para siswa kelas XI dan XII itu mengaku stres berat  lantaran sering menerima hukuman fisik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, puluhan siswa tersebut memilih  duduk-duduk di lapangan sekolah, alih-alih mengikuti pelajaran di jam  pertama. Hal ini membuat para guru khawatir sehingga meminta pengawalan  polisi.
Usut punya usut, para siswa sering dihukum berlari  mengelilingi lapangan. Kemudian berguling-guling di bawah terik matahari  lalu dilanjutkan dengan hukuman push up.
Berbagai macam  hukuman semi militer itu dijatuhkan kepada siswa yang melakukan  kesalahan sederhana seperti terlambat masuk sekolah.
Salah seorang siswa berinisial AN mengatakan  hukuman tak logis itu dijatuhkan seorang guru berinisial WCN. Setiap  kali menghukum, guru tersebut berdalih mendapat mandat dari Kepala  Sekolah SMK BK Sri Eka Lelana.
&amp;ldquo;Murid perempuan dan laki-laki dihukum sama. Seperti push up berantai, lalu berguling di lapangan. Semacam di militer saja, penuh  kekerasan. Kami ini mau berkonsentrasi belajar menghadapi ujian. Jangan  dihukum terus,&amp;rdquo; ujar siswa yang engan disebut namanya.
Ia mengatakan, aksi mogok belajar juga untuk mengingatkan pihak  sekolah agar berlaku adil dalam memberikan beasiswa pendidikan. Sebab,  siswa menuding kepala sekolah (Kepsek) dan oknum guru tersebut pilih  kasih.
Ketika wartawan ingin melakukan peliputan unjuk rasa siswa, pihak  sekolah seakan menutupinya. Beberapa siswa mengatakan, persoalan itu  hendak diselesaikan secara internal alias bukan konsumsi publik.
Berdasarkan  pantauan, setelah mogok belajar kemudian puluhan siswa beranjak dari  lapangan sekolah menuju ruangan mediasi yang digelar secara tertutup.
Kepada wartawan di ruangannya, Kepsek SMK BK, Sri Eka Lelana, menolak  dianggap arogan dan terlalu keras memberi hukuman, seperti tudingan  siswa terhadap dirinya. Menurutnya, jenis hukuman untuk membentuk  kedisiplinan itu masih wajar.
Meskipun demikian, ia mengakui  adanya siswa yang langganan dihukum karena sering terlambat mengikuti  jam pelajaran. &amp;ldquo;Tidak sepenuhnya kekerasan. Tujuan kami selaku pendidik  untuk menumbuhkan kedisiplinan. Termasuk memberi pembinaan siswa yang  melanggar aturan,&amp;rdquo; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
