<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Belum Puas dengan Iran, AS Incar Kesepakatan Nuklir Pakistan</title><description>Setelah sukses dengan kesepakatan nuklir Iran, AS kini dikabarkan juga mengincar kesepakatan nuklir dengan Pakistan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/16/18/1232967/belum-puas-dengan-iran-as-incar-kesepakatan-nuklir-pakistan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/10/16/18/1232967/belum-puas-dengan-iran-as-incar-kesepakatan-nuklir-pakistan"/><item><title>Belum Puas dengan Iran, AS Incar Kesepakatan Nuklir Pakistan</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/16/18/1232967/belum-puas-dengan-iran-as-incar-kesepakatan-nuklir-pakistan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/10/16/18/1232967/belum-puas-dengan-iran-as-incar-kesepakatan-nuklir-pakistan</guid><pubDate>Jum'at 16 Oktober 2015 17:33 WIB</pubDate><dc:creator>Jihad Dwidyasa </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/10/16/18/1232967/belum-puas-dengan-iran-as-incar-kesepakatan-nuklir-pakistan-JwouSneGeX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menlu AS John Kerry &amp; PM Pakistan Nawaz Sharif (Foto: AP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/10/16/18/1232967/belum-puas-dengan-iran-as-incar-kesepakatan-nuklir-pakistan-JwouSneGeX.jpg</image><title>Menlu AS John Kerry &amp; PM Pakistan Nawaz Sharif (Foto: AP)</title></images><description>WASHINGTON &amp;ndash; Setelah sukses membuat kesepakatan nuklir dengan Iran, Pemerintah Amerika Serikat (AS) seakan belum puas dan dikabarkan segera merampungkan perjanjian nuklir dengan Pakistan.
Harian New York Times yang mengutip sumber dari pejabat AS dengan kondisi anonim melaporkan bahwa Pemerintah AS saat ini berencana menggali peluang kesepakatan dengan Pakistan. Negara pimpinan Perdana Menteri (PM) Nawaz Sharif itu diketahui memiliki program nuklir dengan perkembangan tercepat di dunia.
&amp;ldquo;Jika Pakistan akan mengambil tindakan sesuai yang diminta AS, pada dasarnya Pakistan akan meminta beberapa syarat,&amp;rdquo; ujar Wakil Presiden Carnegie Endowment for International Peace, George Perkovich, kepada New York Times, seperti dikutip TIME, Jumat (16/10/2015).
&amp;ldquo;PM Pakistan Nawaz Sharif akan berada di Washington dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry pekan depan. Jika berjalan lancar, peluang kesepakatan nuklir AS-Pakistan akan terbuka lebar,&amp;rdquo; sambungnya.
Sebagaimana diberitakan, enam negara kekuatan dunia atau P5+1 (AS, Jerman, Prancis, Inggris, Rusia, dan China) telah menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran pada 14 Juli 2015 di Wina, Austria.
Berdasarkan kesepakatan itu, sanksi dari AS, Uni Eropa, dan PBB terhadap Iran akan dicabut. Sebagai gantinya, Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya dalam jangka waktu yang sangat lama.
Kesepakatan tersebut juga mengharuskan Iran untuk mengurangi produksi uraniumnya selama satu dekade. Hal itu diperlukan supaya enam negara kekuatan dunia atau P5+1 (AS, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia, dan China) percaya bahwa Iran tak berupaya membuat senjata nuklir.
Namun, baru-baru ini Iran dilaporkan kembali melakukan uji coba rudal balistik mereka. Pemerintah Iran berdalih penjajalan rudal itu hanya bentuk upaya untuk memperbaiki akurasi senjata rudal mereka.</description><content:encoded>WASHINGTON &amp;ndash; Setelah sukses membuat kesepakatan nuklir dengan Iran, Pemerintah Amerika Serikat (AS) seakan belum puas dan dikabarkan segera merampungkan perjanjian nuklir dengan Pakistan.
Harian New York Times yang mengutip sumber dari pejabat AS dengan kondisi anonim melaporkan bahwa Pemerintah AS saat ini berencana menggali peluang kesepakatan dengan Pakistan. Negara pimpinan Perdana Menteri (PM) Nawaz Sharif itu diketahui memiliki program nuklir dengan perkembangan tercepat di dunia.
&amp;ldquo;Jika Pakistan akan mengambil tindakan sesuai yang diminta AS, pada dasarnya Pakistan akan meminta beberapa syarat,&amp;rdquo; ujar Wakil Presiden Carnegie Endowment for International Peace, George Perkovich, kepada New York Times, seperti dikutip TIME, Jumat (16/10/2015).
&amp;ldquo;PM Pakistan Nawaz Sharif akan berada di Washington dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry pekan depan. Jika berjalan lancar, peluang kesepakatan nuklir AS-Pakistan akan terbuka lebar,&amp;rdquo; sambungnya.
Sebagaimana diberitakan, enam negara kekuatan dunia atau P5+1 (AS, Jerman, Prancis, Inggris, Rusia, dan China) telah menandatangani kesepakatan nuklir dengan Iran pada 14 Juli 2015 di Wina, Austria.
Berdasarkan kesepakatan itu, sanksi dari AS, Uni Eropa, dan PBB terhadap Iran akan dicabut. Sebagai gantinya, Iran setuju untuk membatasi program nuklirnya dalam jangka waktu yang sangat lama.
Kesepakatan tersebut juga mengharuskan Iran untuk mengurangi produksi uraniumnya selama satu dekade. Hal itu diperlukan supaya enam negara kekuatan dunia atau P5+1 (AS, Prancis, Inggris, Jerman, Rusia, dan China) percaya bahwa Iran tak berupaya membuat senjata nuklir.
Namun, baru-baru ini Iran dilaporkan kembali melakukan uji coba rudal balistik mereka. Pemerintah Iran berdalih penjajalan rudal itu hanya bentuk upaya untuk memperbaiki akurasi senjata rudal mereka.</content:encoded></item></channel></rss>
