<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemerintah Korsel Akan Tingkatkan Angka Kelahiran Bayi</title><description>Pemerintah Korea Selatan bersiap meluncurkan paket kebijakan baru untuk meningkatkan angka kelahiran bayi di negaranya</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/19/18/1234191/pemerintah-korsel-akan-tingkatkan-angka-kelahiran-bayi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/10/19/18/1234191/pemerintah-korsel-akan-tingkatkan-angka-kelahiran-bayi"/><item><title>Pemerintah Korsel Akan Tingkatkan Angka Kelahiran Bayi</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/10/19/18/1234191/pemerintah-korsel-akan-tingkatkan-angka-kelahiran-bayi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/10/19/18/1234191/pemerintah-korsel-akan-tingkatkan-angka-kelahiran-bayi</guid><pubDate>Senin 19 Oktober 2015 15:30 WIB</pubDate><dc:creator>Wikanto Arungbudoyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/10/19/18/1234191/pemerintah-korsel-akan-tingkatkan-angka-kelahiran-bayi-upPlNSOeis.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemerintah Korea Selatan berencana meningkatkan angka kelahiran bayi (Foto: CRI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/10/19/18/1234191/pemerintah-korsel-akan-tingkatkan-angka-kelahiran-bayi-upPlNSOeis.jpg</image><title>Pemerintah Korea Selatan berencana meningkatkan angka kelahiran bayi (Foto: CRI)</title></images><description>
SEOUL &amp;ndash; Pemerintah Korea Selatan (Korsel) akan berusaha meningkatkan angka kelahiran bayi di negaranya. Angka kelahiran di Negeri Ginseng berada pada rataan 1,2 bayi setiap satu perempuan.
Mahalnya harga properti dan angka pengangguran yang tinggi dianggap pemerintah sebagai penyebab turunnya angka kelahiran bayi. Untuk itu, Pemerintahan Park Geun-hye akan mengeluarkan paket kebijakan demi tercapainya target rataan 1,5 bayi setiap satu perempuan pada 2020.
Seperti dilaporkan Korea Times, Senin (19/10/2015), Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan akan membuka lebih dari 40.000 lapangan kerja baru pada 2017. Perusahaan-perusahaan yang merekrut tenaga kerja muda sebagai pegawai tetap akan diberikan insentif pajak sebesar 5 juta won Korea (senilai 60juta rupiah) per orang. Angka pengangguran usia produktif 15 sampai 29 di Korea mencapai 7,9 persen pada September.
Pihak Kementerian juga akan mempermudah pasangan yang akan menikah untuk menyewa rumah dalam jangka waktu lama. Selama ini, menurut pemerintah, para pasangan menunda pernikahan agar mempunyai tempat tinggal yang tetap terlebih dahulu.
Bagi pasangan suami istri yang sudah memiliki anak, pemerintah akan mengurangi biaya persalinan dan kesehatan kehamilan agar mereka mau memiliki anak lagi. Pasangan yang mengalami masalah kesuburan juga akan dibantu secara finansial.
Paket kebijakan ini diragukan akan berhasil. Pandangan masyarakat Korsel terhadap pernikahan sudah berubah. Sebuah survei dari pihak swasta menunjukkan bahwa empat dari 10 perempuan Korsel berumur 20 sampai 30 tahun menganggap pernikahan adalah sebuah pilihan hidup bukan kewajiban.
Menurut statistik di Korsel, pada 2014 angka pernikahan tercatat sejumlah 305.500 pasangan. Jumlah ini menurun 17.300 pasangan pada 2013. Pasangan muda-mudi Korea lebih memilih untuk menikah ketika usia mereka hampir mencapai 30 tahun.
Rata-rata usia menikah di Korea adalah pada umur 32,4 tahun untuk laki-laki dan 29,8 tahun untuk perempuan. Dibandingkan 10 tahun lalu, laki-laki di Korea menikah pada usia 30,5 tahun dan perempuan pada usia 27,5 tahun.
Para ahli mengingatkan bahwa tingkat kelahiran yang rendah akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi melambat karena kekurangan tenaga kerja pada usia produktif. Pertumbuhan ekonomi yang melambat akan meningkatkan angka pengangguran. Meningkatnya angka pengangguran berarti usia pernikahan tertunda yang berakibat angka kelahiran rendah. Seperti sebuah lingkaran setan.
</description><content:encoded>
SEOUL &amp;ndash; Pemerintah Korea Selatan (Korsel) akan berusaha meningkatkan angka kelahiran bayi di negaranya. Angka kelahiran di Negeri Ginseng berada pada rataan 1,2 bayi setiap satu perempuan.
Mahalnya harga properti dan angka pengangguran yang tinggi dianggap pemerintah sebagai penyebab turunnya angka kelahiran bayi. Untuk itu, Pemerintahan Park Geun-hye akan mengeluarkan paket kebijakan demi tercapainya target rataan 1,5 bayi setiap satu perempuan pada 2020.
Seperti dilaporkan Korea Times, Senin (19/10/2015), Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan akan membuka lebih dari 40.000 lapangan kerja baru pada 2017. Perusahaan-perusahaan yang merekrut tenaga kerja muda sebagai pegawai tetap akan diberikan insentif pajak sebesar 5 juta won Korea (senilai 60juta rupiah) per orang. Angka pengangguran usia produktif 15 sampai 29 di Korea mencapai 7,9 persen pada September.
Pihak Kementerian juga akan mempermudah pasangan yang akan menikah untuk menyewa rumah dalam jangka waktu lama. Selama ini, menurut pemerintah, para pasangan menunda pernikahan agar mempunyai tempat tinggal yang tetap terlebih dahulu.
Bagi pasangan suami istri yang sudah memiliki anak, pemerintah akan mengurangi biaya persalinan dan kesehatan kehamilan agar mereka mau memiliki anak lagi. Pasangan yang mengalami masalah kesuburan juga akan dibantu secara finansial.
Paket kebijakan ini diragukan akan berhasil. Pandangan masyarakat Korsel terhadap pernikahan sudah berubah. Sebuah survei dari pihak swasta menunjukkan bahwa empat dari 10 perempuan Korsel berumur 20 sampai 30 tahun menganggap pernikahan adalah sebuah pilihan hidup bukan kewajiban.
Menurut statistik di Korsel, pada 2014 angka pernikahan tercatat sejumlah 305.500 pasangan. Jumlah ini menurun 17.300 pasangan pada 2013. Pasangan muda-mudi Korea lebih memilih untuk menikah ketika usia mereka hampir mencapai 30 tahun.
Rata-rata usia menikah di Korea adalah pada umur 32,4 tahun untuk laki-laki dan 29,8 tahun untuk perempuan. Dibandingkan 10 tahun lalu, laki-laki di Korea menikah pada usia 30,5 tahun dan perempuan pada usia 27,5 tahun.
Para ahli mengingatkan bahwa tingkat kelahiran yang rendah akan berakibat pada pertumbuhan ekonomi melambat karena kekurangan tenaga kerja pada usia produktif. Pertumbuhan ekonomi yang melambat akan meningkatkan angka pengangguran. Meningkatnya angka pengangguran berarti usia pernikahan tertunda yang berakibat angka kelahiran rendah. Seperti sebuah lingkaran setan.
</content:encoded></item></channel></rss>
