<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mengulas Perbentengan Surabaya hingga ke Singapura &amp; Normandia</title><description>Kota Surabaya ternyata punya sejumlah rangkaian perbentengan sebagai tameng pertahanan di masa jayanya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/15/18/1249655/mengulas-perbentengan-surabaya-hingga-ke-singapura-normandia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/11/15/18/1249655/mengulas-perbentengan-surabaya-hingga-ke-singapura-normandia"/><item><title>Mengulas Perbentengan Surabaya hingga ke Singapura &amp; Normandia</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/15/18/1249655/mengulas-perbentengan-surabaya-hingga-ke-singapura-normandia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/11/15/18/1249655/mengulas-perbentengan-surabaya-hingga-ke-singapura-normandia</guid><pubDate>Minggu 15 November 2015 13:03 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/11/15/18/1249655/mengulas-perbentengan-surabaya-hingga-ke-singapura-normandia-Jw0kPhINNz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Buku 'Benteng-Benteng' Surabaya mengulas sejarah perbentengan Kota Pahlawan hingga Benteng Terapung Singapura dan Benteng Atlantik Normandia (Foto: Randy Wirayudha/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/11/15/18/1249655/mengulas-perbentengan-surabaya-hingga-ke-singapura-normandia-Jw0kPhINNz.jpg</image><title>Buku 'Benteng-Benteng' Surabaya mengulas sejarah perbentengan Kota Pahlawan hingga Benteng Terapung Singapura dan Benteng Atlantik Normandia (Foto: Randy Wirayudha/Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Ketika &amp;lsquo;pentolan&amp;rsquo; Jerman Nazi, Der F&amp;uuml;hrer Adolf Hitler, memerintahkan pembangunan Atlantic Wall atau tembok/benteng Atlantik, tujuannya tak lain ingin melindungi daratan Eropa dari invasi sekutu.
Siapa sangka, sejumlah bentuk fisik Atlantic Wall di Normandia, Prancis Utara, ternyata nyaris serupa dengan yang ada di Surabaya.
Ya, Kota Surabaya ternyata punya sejumlah rangkaian perbentengan sebagai tameng pertahanan di masa jayanya. Hal inilah dikupas seorang aktivis serta penggiat sejarah Roode Brug Soerabaia, Ady Erlianto Setiawan lewat buku &amp;lsquo;Benteng-Benteng Surabaya&amp;rsquo;.
Dalam paragraf pembuka di atas, sempat diurai soal perbentengan Normandia yang dikuasai Jerman pada Perang Dunia II dan kini hanya tersisa reruntuhannya akibat pemboman sekutu. Kebetulan, ke situs Atlantic Wall ini pula sang penulis, Ady Setiawan, melakukan salah satu perjalanan risetnya.
Penulis Penulis ketika melakukan riset ke Normandia
Penulis berusia 33 tahun itu, sedianya meluncurkan buku dari hasil riset selama lima tahun ini pada Sabtu, 14 November 2015 di Surabaya. Tapi beberapa waktu sebelumnya, Okezone sempat berbincang singkat soal buku setebal 139 halaman tersebut.
Dengan bantuan kawan-kawan komunitas sejarah Roode Brug Soerabaia, serta sejumlah sahabat dekat dari kalangan personel TNI, Ady mengupas keberadaan Benteng Kedungcowek yang terletak dekat Jembatan Suramadu, sebagai embrio lahirnya buku yang dibidani penerbit Mata Padi tersebut.
Benteng yang ketika ditemukan tertutupi rimbunan tanaman liar itu jadi obyek perburuan, karena turut terlibat dalam rangkaian &amp;ldquo;Pertempuran Surabaya&amp;rdquo; melawan pasukan Inggris yang terjadi pada 10 November, di mana Inggris baru bisa menguasai Kota Surabaya 27 hari kemudian.
Dari situlah Ady punya keinginan mencari &amp;ldquo;akta kelahiran&amp;rdquo; benteng ini, hingga ke Nationaal Archieve di Den Haag, Belanda. Dari pencarian di negeri tulip bersama kawan wartawati lepas, Marjolein van Pagee itulah, Ady menemukan fakta bahwa Benteng Kedungcowek punya banyak &amp;ldquo;keluarga&amp;rdquo;.
Salah satu sisi Benteng Kedungcowek
Dari berbagai blue print atau cetak biru yang didapatnya dari arsip di Belanda, Ady mengetahui bahwa Benteng Kedungcowek, ternyata merupakan satu dari 11 perbentengan yang pernah dibuat di zaman Gubernur Jenderal H.W. Daendels pada tahun 1800-an.
Riset soal perbentengan ini pun berlanjut hingga mendatangi benteng-benteng di Cilacap, Gresik, hingga ke Singapura yang disebutnya sebagai benteng terapung dan Normandia yang punya ciri-ciri fisik bangunan benteng yang nyaris identik.
Battery di Benteng Labrador yang dilestarikan Singapura
Seperti Benteng Labrador dan Siloso di Singapura dan deretan benteng Normandia di Prancis Utara. Beberapa bentuk bangunan, seperti bunker, pillbox, loop hole hingga &amp;lsquo;tatakan&amp;rsquo; meriamnya sangat mirip dengan yang dimiliki Benteng Kedungcowek.
&amp;ldquo;Buku ini risetnya membutuhkan waktu lima tahun sejak 2010 lalu. Saya kira adanya kemiripan benteng-benteng itu (Kedungcowek, Singapura dan Normandia) karena memang kesamaan civil engineering saat itu,&amp;rdquo; ungkap Ady kepada Okezone. 
Dalam bagian akhir buku yang baru beredar terbatas di Tugu Pahlawan dan Museum House of Sampoerna Surabaya ini, Ady punya harapan tersendiri dengan terungkapnya tabir misteri perbentengan Surabaya ini.
Jebolan Teknik Sipil dari Institut Teknologi 10 November tersebut, berharap adanya kepedulian dari pemerintah setempat, mengingat Surabaya yang dijuluki Kota Pahlawan, tapi wisata sejarah dan kepahlawanannya masih minim.
Seperti kondisi Benteng Kedungcowek yang punya cerita tersendiri saat terjadi pertempuran sengit, di mana pasukan Inggris menyebut Pertempuran Surabaya sebagai Surabaya Inferno itu, sungguh memprihatinkan.
Reruntuhan situs benteng di Normandia
Situs sejarah yang pernah jadi bagian penting Kota Surabaya itu hanya akan hancur dimakan usia tanpa adanya pelestarian, layaknya benteng-benteng di Singapura dan Normandia yang kini, sudah dijadikan situs wisata sejarah oleh pemerintah Singapura dan Prancis.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Ketika &amp;lsquo;pentolan&amp;rsquo; Jerman Nazi, Der F&amp;uuml;hrer Adolf Hitler, memerintahkan pembangunan Atlantic Wall atau tembok/benteng Atlantik, tujuannya tak lain ingin melindungi daratan Eropa dari invasi sekutu.
Siapa sangka, sejumlah bentuk fisik Atlantic Wall di Normandia, Prancis Utara, ternyata nyaris serupa dengan yang ada di Surabaya.
Ya, Kota Surabaya ternyata punya sejumlah rangkaian perbentengan sebagai tameng pertahanan di masa jayanya. Hal inilah dikupas seorang aktivis serta penggiat sejarah Roode Brug Soerabaia, Ady Erlianto Setiawan lewat buku &amp;lsquo;Benteng-Benteng Surabaya&amp;rsquo;.
Dalam paragraf pembuka di atas, sempat diurai soal perbentengan Normandia yang dikuasai Jerman pada Perang Dunia II dan kini hanya tersisa reruntuhannya akibat pemboman sekutu. Kebetulan, ke situs Atlantic Wall ini pula sang penulis, Ady Setiawan, melakukan salah satu perjalanan risetnya.
Penulis Penulis ketika melakukan riset ke Normandia
Penulis berusia 33 tahun itu, sedianya meluncurkan buku dari hasil riset selama lima tahun ini pada Sabtu, 14 November 2015 di Surabaya. Tapi beberapa waktu sebelumnya, Okezone sempat berbincang singkat soal buku setebal 139 halaman tersebut.
Dengan bantuan kawan-kawan komunitas sejarah Roode Brug Soerabaia, serta sejumlah sahabat dekat dari kalangan personel TNI, Ady mengupas keberadaan Benteng Kedungcowek yang terletak dekat Jembatan Suramadu, sebagai embrio lahirnya buku yang dibidani penerbit Mata Padi tersebut.
Benteng yang ketika ditemukan tertutupi rimbunan tanaman liar itu jadi obyek perburuan, karena turut terlibat dalam rangkaian &amp;ldquo;Pertempuran Surabaya&amp;rdquo; melawan pasukan Inggris yang terjadi pada 10 November, di mana Inggris baru bisa menguasai Kota Surabaya 27 hari kemudian.
Dari situlah Ady punya keinginan mencari &amp;ldquo;akta kelahiran&amp;rdquo; benteng ini, hingga ke Nationaal Archieve di Den Haag, Belanda. Dari pencarian di negeri tulip bersama kawan wartawati lepas, Marjolein van Pagee itulah, Ady menemukan fakta bahwa Benteng Kedungcowek punya banyak &amp;ldquo;keluarga&amp;rdquo;.
Salah satu sisi Benteng Kedungcowek
Dari berbagai blue print atau cetak biru yang didapatnya dari arsip di Belanda, Ady mengetahui bahwa Benteng Kedungcowek, ternyata merupakan satu dari 11 perbentengan yang pernah dibuat di zaman Gubernur Jenderal H.W. Daendels pada tahun 1800-an.
Riset soal perbentengan ini pun berlanjut hingga mendatangi benteng-benteng di Cilacap, Gresik, hingga ke Singapura yang disebutnya sebagai benteng terapung dan Normandia yang punya ciri-ciri fisik bangunan benteng yang nyaris identik.
Battery di Benteng Labrador yang dilestarikan Singapura
Seperti Benteng Labrador dan Siloso di Singapura dan deretan benteng Normandia di Prancis Utara. Beberapa bentuk bangunan, seperti bunker, pillbox, loop hole hingga &amp;lsquo;tatakan&amp;rsquo; meriamnya sangat mirip dengan yang dimiliki Benteng Kedungcowek.
&amp;ldquo;Buku ini risetnya membutuhkan waktu lima tahun sejak 2010 lalu. Saya kira adanya kemiripan benteng-benteng itu (Kedungcowek, Singapura dan Normandia) karena memang kesamaan civil engineering saat itu,&amp;rdquo; ungkap Ady kepada Okezone. 
Dalam bagian akhir buku yang baru beredar terbatas di Tugu Pahlawan dan Museum House of Sampoerna Surabaya ini, Ady punya harapan tersendiri dengan terungkapnya tabir misteri perbentengan Surabaya ini.
Jebolan Teknik Sipil dari Institut Teknologi 10 November tersebut, berharap adanya kepedulian dari pemerintah setempat, mengingat Surabaya yang dijuluki Kota Pahlawan, tapi wisata sejarah dan kepahlawanannya masih minim.
Seperti kondisi Benteng Kedungcowek yang punya cerita tersendiri saat terjadi pertempuran sengit, di mana pasukan Inggris menyebut Pertempuran Surabaya sebagai Surabaya Inferno itu, sungguh memprihatinkan.
Reruntuhan situs benteng di Normandia
Situs sejarah yang pernah jadi bagian penting Kota Surabaya itu hanya akan hancur dimakan usia tanpa adanya pelestarian, layaknya benteng-benteng di Singapura dan Normandia yang kini, sudah dijadikan situs wisata sejarah oleh pemerintah Singapura dan Prancis.</content:encoded></item></channel></rss>
