<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Tewasnya Jenderal Belanda di Masjid Baiturrahman</title><description>Penebangan pohon bersejarah di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh masih terus menuai protes.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/24/340/1255054/kisah-tewasnya-jenderal-belanda-di-masjid-baiturrahman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/11/24/340/1255054/kisah-tewasnya-jenderal-belanda-di-masjid-baiturrahman"/><item><title>Kisah Tewasnya Jenderal Belanda di Masjid Baiturrahman</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/24/340/1255054/kisah-tewasnya-jenderal-belanda-di-masjid-baiturrahman</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/11/24/340/1255054/kisah-tewasnya-jenderal-belanda-di-masjid-baiturrahman</guid><pubDate>Selasa 24 November 2015 18:07 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/11/24/340/1255054/kisah-tewasnya-jenderal-belanda-di-masjid-baiturrahman-o0JfYPHteD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (foto: Salman Madira/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/11/24/340/1255054/kisah-tewasnya-jenderal-belanda-di-masjid-baiturrahman-o0JfYPHteD.jpg</image><title>Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (foto: Salman Madira/Okezone)</title></images><description>BANDA ACEH &amp;ndash; Penebangan pohon bersejarah di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh masih terus menuai protes. Pohon Geulumpang (Stercafuculia Foetida) itu dianggap sebagai situs sejarah perang Aceh.

Ya, di sinilah pemimpin pasukan Belanda, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudulf Kohler tewas di tangan rakyat Aceh. Lalu, bagaimana kisahnya?

Sejarah mencatat Kerajaan Belanda mengeluarkan surat maklumat perang terhadap Kerajaan Aceh, Rabu 26 Maret 1873. Pemimpin Aceh, Sultan Alaidin Mahmud Syah, menyatakan siap meladeni agresi Belanda.

Sebulan kemudian Belanda mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheu, Banda Aceh. Ada seratusan perwiranya serta tiga ribu lebih prajurit yang sebagiannya adalah serdadu bayaran dari Jawa yang disebut tentara Bumi Putera. Sejumlah kapal perang dan kapal uap ikut dikerahkan ke Aceh. Agresi ini dipimpin Mayor Jenderal JHR Kohler.

Begitu mendarat di Pante Ceureumen, mereka langsung digempur pasukan Aceh. Perang sengit meletus dan meluas. Saat berupaya menyerang Masjid Baiturrahman, 14 April 1873, Kohler tewas di tangan penembak jitu (sniper) Aceh.

Menurut Iskandar Norman, Jurnalis yang juga Pemerhati Sejarah Aceh, tak banyak referensi yang menjelaskan kronologi tewasnya panglima perang Belanda tersebut.

&amp;ldquo;Satu-satunya sumber tentang peristiwa tersebut adalah dari kalangan perwira Belanda sendiri yakni Jenderal GP Booms dalam buku De Erste Atjeh Expediti en Hare Enquete,&amp;rdquo; sebut  Iskandar kepada Okezone, Selasa (24/11/2015).

Merujuk sumber tersebut, Iskandar mengatakan, sebelum kejadian, Kohler berangkat dari bivak sawah, markas pertama yang dibuat Belanda di Aceh. Bivak ini dibangun di area persawahan antara Lampaseh dan Punge, Banda Aceh, setelah Belanda berhasil dipukul mundur dari Masjid Raya oleh pasukan Aceh.Pada 14 April 1873, sekitar pukul 04.00, Belanda melakukan serangan  besar-besaran ke Mesjid Raya Baiturrahman. Setelah berperang selama tiga  mereka berhasil merebutnya. &amp;ldquo;Pasukan Aceh mundur dari Masjid Raya. Tapi  beberapa pejuang Aceh bersembunyi di semak-semak di sebelah utara  masjid,&amp;rdquo; ujar Iskandar.

Mendapat laporan Masjid Raya berhasil dikuasai, Kohler pun berangkat  dari bivak sawah untuk melakukan inspeksi pasukan di areal masjid. Saat  itulah, sniper Aceh menembak Kohler dari balik semak-semak. Peluru  mengenai lengan kiri bagian atas Kohler dan menembusi tubuhnya, Kohler  rubuh ke tanah dan tewas.

Sebuah riwayat menyebutkan penembak Kohler itu adalah Teuku Nyak  Radja Lueng Bata. Lokasi tewasnya Kohler diyakini di bawah pohon  geulumpang, di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman. Belanda menamakan  pohon ini sebagai Kohler Boom alias Pohon Kohler.

Iskandar mengatakan, tewasnya Kohler membuat pasukan Belanda panik,  mental mereka ikut jatuh. Kerajaan Belanda ikut terpukul atas kematian  jenderalnya. Kesempatan itu digunakan pasukan Aceh untuk menyerang  kembali prajurit kolonial.

&amp;ldquo;45 tentara Belanda tewas dalam penyerangan itu, delapan diantaranya  merupakan perwira. 405 lainnya luka-luka, 23 di antaranya perwira.  Pasukan Belanda melarikan diri ke Pante Ceureumen. Tanggal 23 April  1873, pasukan Belanda mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda untuk  meninggalkan Aceh. Agresi pertama Belanda ke Aceh gagal total,&amp;rdquo;  sebutnya.

Mayat Kohler sendiri sempat dibawa ke Singapura dengan kapal uap  Koning der Nederlanden, kemudian dilanjutkan ke Batavia dan dimakamkan  di komplek pemakaman Belanda di Tanah Abang dengan upacara militer.

Tahun 1976 pemakaman tersebut digusur, kerangka Kohler dipindahkan ke  Kedutaan Besar Belanda. Dua tahun kemudian, atas usul Gubernur Aceh  Abdullah Muzakir Walad, kerangka Kohler dibawa kembali ke Aceh dan  dimakamkan di Kerkhof, Banda Aceh, tempat lebih dua ribu jasad pasukan  Belanda yang tewas dalam perang Aceh dikuburkan.

Setelah Indonesia merdeka, pohon Kohler yang berdiri di depan Masjid  Raya Baiturrahman ikut mati dimakan usia. Kemudian pada 14 Agustus 1988,  atas inisiatif Gubernur Ibrahim Hasan, di tempat tertembaknya Kohler  ditanam lagi pohon jenis sama serta dibangun sebuah prasasti.

Pohon itu akhirnya ditebang pekerja proyek perluasan Masjid Raya  Baiturrahman, 19 November 2015. Prasasti beton yang ada di bawahnya ikut  dibongkar, karena masuk dalam area proyek. Tindakan itu menuai protes,  masyarakat meminta pemerintah menanam kembali pohon jenis yang sama di  lokasi itu dan membangun monumen untuk mengenang perang yang menewaskan  Kohler.</description><content:encoded>BANDA ACEH &amp;ndash; Penebangan pohon bersejarah di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh masih terus menuai protes. Pohon Geulumpang (Stercafuculia Foetida) itu dianggap sebagai situs sejarah perang Aceh.

Ya, di sinilah pemimpin pasukan Belanda, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudulf Kohler tewas di tangan rakyat Aceh. Lalu, bagaimana kisahnya?

Sejarah mencatat Kerajaan Belanda mengeluarkan surat maklumat perang terhadap Kerajaan Aceh, Rabu 26 Maret 1873. Pemimpin Aceh, Sultan Alaidin Mahmud Syah, menyatakan siap meladeni agresi Belanda.

Sebulan kemudian Belanda mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheu, Banda Aceh. Ada seratusan perwiranya serta tiga ribu lebih prajurit yang sebagiannya adalah serdadu bayaran dari Jawa yang disebut tentara Bumi Putera. Sejumlah kapal perang dan kapal uap ikut dikerahkan ke Aceh. Agresi ini dipimpin Mayor Jenderal JHR Kohler.

Begitu mendarat di Pante Ceureumen, mereka langsung digempur pasukan Aceh. Perang sengit meletus dan meluas. Saat berupaya menyerang Masjid Baiturrahman, 14 April 1873, Kohler tewas di tangan penembak jitu (sniper) Aceh.

Menurut Iskandar Norman, Jurnalis yang juga Pemerhati Sejarah Aceh, tak banyak referensi yang menjelaskan kronologi tewasnya panglima perang Belanda tersebut.

&amp;ldquo;Satu-satunya sumber tentang peristiwa tersebut adalah dari kalangan perwira Belanda sendiri yakni Jenderal GP Booms dalam buku De Erste Atjeh Expediti en Hare Enquete,&amp;rdquo; sebut  Iskandar kepada Okezone, Selasa (24/11/2015).

Merujuk sumber tersebut, Iskandar mengatakan, sebelum kejadian, Kohler berangkat dari bivak sawah, markas pertama yang dibuat Belanda di Aceh. Bivak ini dibangun di area persawahan antara Lampaseh dan Punge, Banda Aceh, setelah Belanda berhasil dipukul mundur dari Masjid Raya oleh pasukan Aceh.Pada 14 April 1873, sekitar pukul 04.00, Belanda melakukan serangan  besar-besaran ke Mesjid Raya Baiturrahman. Setelah berperang selama tiga  mereka berhasil merebutnya. &amp;ldquo;Pasukan Aceh mundur dari Masjid Raya. Tapi  beberapa pejuang Aceh bersembunyi di semak-semak di sebelah utara  masjid,&amp;rdquo; ujar Iskandar.

Mendapat laporan Masjid Raya berhasil dikuasai, Kohler pun berangkat  dari bivak sawah untuk melakukan inspeksi pasukan di areal masjid. Saat  itulah, sniper Aceh menembak Kohler dari balik semak-semak. Peluru  mengenai lengan kiri bagian atas Kohler dan menembusi tubuhnya, Kohler  rubuh ke tanah dan tewas.

Sebuah riwayat menyebutkan penembak Kohler itu adalah Teuku Nyak  Radja Lueng Bata. Lokasi tewasnya Kohler diyakini di bawah pohon  geulumpang, di sisi utara Masjid Raya Baiturrahman. Belanda menamakan  pohon ini sebagai Kohler Boom alias Pohon Kohler.

Iskandar mengatakan, tewasnya Kohler membuat pasukan Belanda panik,  mental mereka ikut jatuh. Kerajaan Belanda ikut terpukul atas kematian  jenderalnya. Kesempatan itu digunakan pasukan Aceh untuk menyerang  kembali prajurit kolonial.

&amp;ldquo;45 tentara Belanda tewas dalam penyerangan itu, delapan diantaranya  merupakan perwira. 405 lainnya luka-luka, 23 di antaranya perwira.  Pasukan Belanda melarikan diri ke Pante Ceureumen. Tanggal 23 April  1873, pasukan Belanda mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda untuk  meninggalkan Aceh. Agresi pertama Belanda ke Aceh gagal total,&amp;rdquo;  sebutnya.

Mayat Kohler sendiri sempat dibawa ke Singapura dengan kapal uap  Koning der Nederlanden, kemudian dilanjutkan ke Batavia dan dimakamkan  di komplek pemakaman Belanda di Tanah Abang dengan upacara militer.

Tahun 1976 pemakaman tersebut digusur, kerangka Kohler dipindahkan ke  Kedutaan Besar Belanda. Dua tahun kemudian, atas usul Gubernur Aceh  Abdullah Muzakir Walad, kerangka Kohler dibawa kembali ke Aceh dan  dimakamkan di Kerkhof, Banda Aceh, tempat lebih dua ribu jasad pasukan  Belanda yang tewas dalam perang Aceh dikuburkan.

Setelah Indonesia merdeka, pohon Kohler yang berdiri di depan Masjid  Raya Baiturrahman ikut mati dimakan usia. Kemudian pada 14 Agustus 1988,  atas inisiatif Gubernur Ibrahim Hasan, di tempat tertembaknya Kohler  ditanam lagi pohon jenis sama serta dibangun sebuah prasasti.

Pohon itu akhirnya ditebang pekerja proyek perluasan Masjid Raya  Baiturrahman, 19 November 2015. Prasasti beton yang ada di bawahnya ikut  dibongkar, karena masuk dalam area proyek. Tindakan itu menuai protes,  masyarakat meminta pemerintah menanam kembali pohon jenis yang sama di  lokasi itu dan membangun monumen untuk mengenang perang yang menewaskan  Kohler.</content:encoded></item></channel></rss>
