<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>KSAU: Ada yang Politisir Pembelian Helikopter VVIP</title><description>Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna menduga ada pihak yang berkepentingan dalam polemik tersebut.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256508/ksau-ada-yang-politisir-pembelian-helikopter-vvip</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256508/ksau-ada-yang-politisir-pembelian-helikopter-vvip"/><item><title>KSAU: Ada yang Politisir Pembelian Helikopter VVIP</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256508/ksau-ada-yang-politisir-pembelian-helikopter-vvip</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256508/ksau-ada-yang-politisir-pembelian-helikopter-vvip</guid><pubDate>Kamis 26 November 2015 19:34 WIB</pubDate><dc:creator>Syamsul Anwar Khoemaeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/11/26/337/1256508/ksau-ada-yang-politisir-pembelian-helikopter-vvip-vMyg0pauNM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna (Foto: Ilustrasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/11/26/337/1256508/ksau-ada-yang-politisir-pembelian-helikopter-vvip-vMyg0pauNM.jpg</image><title>KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna (Foto: Ilustrasi)</title></images><description>JAKARTA - Pembelian helikopter untuk Skadron 45 VVIP, AW-101 menimbulkan pro-kontra. Menanggapi hal tersebut, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna menduga ada pihak yang berkepentingan dalam polemik tersebut.

&quot;Sebetulnya, yang buat kisruh itu siapa? Ini orang buat kisruh pasti punya kepentingan,&quot; kata Agus kepada awak media, Kamis (26/11/2015).

Bahkan, mantan Kasum TNI itu menuding isu pembelian helikopter sengaja dipolitisir supaya masyarakat tidak percaya kepada TNI AU sebagai pengguna alutsista udara itu.

&quot;Saya bingung dipolitisir, kalau tidak percaya sama user (TNI AU). Saya 32 tahun lho sebagai pengguna. Kita harus kaji sesuai peningkatan profesionalisme, saya merasakan sendiri,&quot; imbuhnya.

Agus mengingatkan, pengadaan alutsista udara tidak bisa dilakukan sembarangan. Dalam pengadaan hibah pesawat tempur F-16 misalnya, TNI AU menerima pesawat buatan Amerika Serikat (AS) tersebut selama tiga tahap. Tahap pertama, prajurit matra udara menerima lima unit dan rusak satu. Begitu pun pada penerimaan tahap kedua.

&quot;Kita ingin punya pesawat banyak, tidak apa-apa dikatakan hibah, lima pesawat pertama datang, kecelakaan satu, yang kedua juga ada insiden, jadi kita pakai delapan. Tahap ketiga harusnya sudah berangkat Agustus-September tapi tidak ada mesin. Lebih baik mundur,&quot; sambungnya.

Sebab itu, TNI AU menginginkan pembelian alutsista yang baru dan lengkap. Terlebih saat menjadi penerbang, Agus mengenang pernah mengalami dua insiden kecelakaan yang hampir membuatnya tewas.

&quot;Kita harus beli baru dan lengkap, ini pesawat tidak bisa main-main. Saya ngalami dua kali, satu landing pakai pelontar, satu pakai mendarat darurat,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pembelian helikopter untuk Skadron 45 VVIP, AW-101 menimbulkan pro-kontra. Menanggapi hal tersebut, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna menduga ada pihak yang berkepentingan dalam polemik tersebut.

&quot;Sebetulnya, yang buat kisruh itu siapa? Ini orang buat kisruh pasti punya kepentingan,&quot; kata Agus kepada awak media, Kamis (26/11/2015).

Bahkan, mantan Kasum TNI itu menuding isu pembelian helikopter sengaja dipolitisir supaya masyarakat tidak percaya kepada TNI AU sebagai pengguna alutsista udara itu.

&quot;Saya bingung dipolitisir, kalau tidak percaya sama user (TNI AU). Saya 32 tahun lho sebagai pengguna. Kita harus kaji sesuai peningkatan profesionalisme, saya merasakan sendiri,&quot; imbuhnya.

Agus mengingatkan, pengadaan alutsista udara tidak bisa dilakukan sembarangan. Dalam pengadaan hibah pesawat tempur F-16 misalnya, TNI AU menerima pesawat buatan Amerika Serikat (AS) tersebut selama tiga tahap. Tahap pertama, prajurit matra udara menerima lima unit dan rusak satu. Begitu pun pada penerimaan tahap kedua.

&quot;Kita ingin punya pesawat banyak, tidak apa-apa dikatakan hibah, lima pesawat pertama datang, kecelakaan satu, yang kedua juga ada insiden, jadi kita pakai delapan. Tahap ketiga harusnya sudah berangkat Agustus-September tapi tidak ada mesin. Lebih baik mundur,&quot; sambungnya.

Sebab itu, TNI AU menginginkan pembelian alutsista yang baru dan lengkap. Terlebih saat menjadi penerbang, Agus mengenang pernah mengalami dua insiden kecelakaan yang hampir membuatnya tewas.

&quot;Kita harus beli baru dan lengkap, ini pesawat tidak bisa main-main. Saya ngalami dua kali, satu landing pakai pelontar, satu pakai mendarat darurat,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
