<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>TNI AU Beberkan Rencana Belanja Alutsista hingga 2019</title><description>Melalui rencana strategis (renstra) 2015-2019, TNI Angkatan Udara berencana membeli sejumlah alutsista.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256614/tni-au-beberkan-rencana-belanja-alutsista-hingga-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256614/tni-au-beberkan-rencana-belanja-alutsista-hingga-2019"/><item><title>TNI AU Beberkan Rencana Belanja Alutsista hingga 2019</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256614/tni-au-beberkan-rencana-belanja-alutsista-hingga-2019</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/11/26/337/1256614/tni-au-beberkan-rencana-belanja-alutsista-hingga-2019</guid><pubDate>Kamis 26 November 2015 23:35 WIB</pubDate><dc:creator>Syamsul Anwar Khoemaeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/11/26/337/1256614/tni-au-beberkan-rencana-belanja-alutsista-hingga-2019-96Ol6QifXI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pesawat Tempur Sukhoi (Foto: Dok. Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/11/26/337/1256614/tni-au-beberkan-rencana-belanja-alutsista-hingga-2019-96Ol6QifXI.jpg</image><title>Pesawat Tempur Sukhoi (Foto: Dok. Antara)</title></images><description>JAKARTA - Melalui rencana strategis (renstra) 2015-2019, TNI Angkatan Udara berencana membeli sejumlah alutsista. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna membeberkan sejumlah rencana tersebut.
&quot;Renstra ini di berita jadi kemana-mana. Kita dari AU setelah melihat pagu indikatif, mengkaji, dengan pagu seperti ini apa alutsista yang mau kita beli, ganti, perbaiki, tambah,&quot; beber Agus tanpa merinci besaran anggaran kepada awak media di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (26/11/2015).
Agus memastikan, pesawat tempur yang dimiliki TNI AU saat ini, F-5, bakal diganti dengan teknologi terbaru. Prajurit matra udara, menegaskan telah memilih Sukhoi SU-35 sebagai pengganti.
&quot;Hasil kajian ganti F-5, pesawat yang ada sekarang generasi empat F-16, SU-30, harus diatas itu, untuk peningkatan profesionalisme pengguna pesawat. Pengalaman Skyhawk tidak ada radarnya, F-16 ada radar dan kita upgrade itu meningkatkan profesinalisme tapi kita pilih SU-35,&quot; bebernya.
Selain itu, TNI AU juga tengah menimbang pembelian pesawat angkut prajurit. Saat ini, Agus menyebut pihaknya masih memilih antara Hercules tipe J dengan Antonov
&quot;Berikutnya butuh juga beli pesawat angkut berat. Hercules yang sekarang tipe B sudah puluhan tahun. Ini kita kaji, antara Hercules tipe J berapa Antonov berapa,&quot; sambungnya.
Selanjutnya, yang justru memicu polemik, ialah pembelian helikopter angkut berat. Agus menegaskan, sesuai kajian TNI AU, heli tersebut harus memiliki kemampuan angku berat diatas empat ton.
&quot;Berikutnya heli angkut berat yang diatas empat ton. Lalu kita dapat AW-101, kita bisa beli enam. Hasil kajian Skadron VVIP, kita pilih AW-101. Inginnya beli tiga tapi pagu indikatif bisa beli dua. Lalu ke Mabes TNI, ke Kemhan, kita dapat dari anggaran lain, jadi kita bisa dapat tiga,&quot; jelas mantan Kasum TNI itu.
Tak hanya itu, TNI AU juga bakal memodernisasi pesawat latih serta berbelanja radar dan persenjataan untuk pesawat tempur T-50. Dikatakan Agus, meski prajuritnya sudah memiliki pesawat itu, tanpa persenjataan tidak bisa disebut sebagai pesawat tempur.
&quot;Pesawat latih, Grop, kita tambah. Pesawat T-50 masih belum bisa disebut pesawat tempur karena belum lengkap. Radar dan senjatanya tidak ada. Ini nanti yang akan kita pasang,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Melalui rencana strategis (renstra) 2015-2019, TNI Angkatan Udara berencana membeli sejumlah alutsista. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna membeberkan sejumlah rencana tersebut.
&quot;Renstra ini di berita jadi kemana-mana. Kita dari AU setelah melihat pagu indikatif, mengkaji, dengan pagu seperti ini apa alutsista yang mau kita beli, ganti, perbaiki, tambah,&quot; beber Agus tanpa merinci besaran anggaran kepada awak media di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (26/11/2015).
Agus memastikan, pesawat tempur yang dimiliki TNI AU saat ini, F-5, bakal diganti dengan teknologi terbaru. Prajurit matra udara, menegaskan telah memilih Sukhoi SU-35 sebagai pengganti.
&quot;Hasil kajian ganti F-5, pesawat yang ada sekarang generasi empat F-16, SU-30, harus diatas itu, untuk peningkatan profesionalisme pengguna pesawat. Pengalaman Skyhawk tidak ada radarnya, F-16 ada radar dan kita upgrade itu meningkatkan profesinalisme tapi kita pilih SU-35,&quot; bebernya.
Selain itu, TNI AU juga tengah menimbang pembelian pesawat angkut prajurit. Saat ini, Agus menyebut pihaknya masih memilih antara Hercules tipe J dengan Antonov
&quot;Berikutnya butuh juga beli pesawat angkut berat. Hercules yang sekarang tipe B sudah puluhan tahun. Ini kita kaji, antara Hercules tipe J berapa Antonov berapa,&quot; sambungnya.
Selanjutnya, yang justru memicu polemik, ialah pembelian helikopter angkut berat. Agus menegaskan, sesuai kajian TNI AU, heli tersebut harus memiliki kemampuan angku berat diatas empat ton.
&quot;Berikutnya heli angkut berat yang diatas empat ton. Lalu kita dapat AW-101, kita bisa beli enam. Hasil kajian Skadron VVIP, kita pilih AW-101. Inginnya beli tiga tapi pagu indikatif bisa beli dua. Lalu ke Mabes TNI, ke Kemhan, kita dapat dari anggaran lain, jadi kita bisa dapat tiga,&quot; jelas mantan Kasum TNI itu.
Tak hanya itu, TNI AU juga bakal memodernisasi pesawat latih serta berbelanja radar dan persenjataan untuk pesawat tempur T-50. Dikatakan Agus, meski prajuritnya sudah memiliki pesawat itu, tanpa persenjataan tidak bisa disebut sebagai pesawat tempur.
&quot;Pesawat latih, Grop, kita tambah. Pesawat T-50 masih belum bisa disebut pesawat tempur karena belum lengkap. Radar dan senjatanya tidak ada. Ini nanti yang akan kita pasang,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
