<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kebun Bunga Hebohkan Nitizen</title><description>Dalam beberapa hari ini masyarakat Yogyakarta dihebohkan dengan munculnya gambar hamparan kebun bunga yang indah di media sosial.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/27/510/1257214/kebun-bunga-hebohkan-nitizen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/11/27/510/1257214/kebun-bunga-hebohkan-nitizen"/><item><title>Kebun Bunga Hebohkan Nitizen</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/11/27/510/1257214/kebun-bunga-hebohkan-nitizen</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/11/27/510/1257214/kebun-bunga-hebohkan-nitizen</guid><pubDate>Jum'at 27 November 2015 23:18 WIB</pubDate><dc:creator>Markus Yuwono</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/11/27/510/1257214/kebun-bunga-hebohkan-nitizen-7YF6lE9jG0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bunga Puspa Patuk (foto: Markus Yuwono/Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/11/27/510/1257214/kebun-bunga-hebohkan-nitizen-7YF6lE9jG0.jpg</image><title>Bunga Puspa Patuk (foto: Markus Yuwono/Sindo)</title></images><description>YOGYAKARTA- Dalam beberapa hari ini masyarakat Yogyakarta dihebohkan dengan munculnya gambar hamparan kebun bunga yang indah. Berbagai media sosial memasang foto bunga yang tampak seperti kebun bunga tulip di belanda.

Ternyata bunga itu, tumbuh di halaman rumah milik Sukadi di desa Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Tepat dijalur Yogyakarta, Wonosari sebelum jembatan Kali pentung, kanan jalan di samping bebatuan, masyarakat bisa melihat tumbuhan Bunga Amarilis, yang oleh masyarakat setempat diberi nama Puspa Patuk.

Bunga yang tumbuh setiap kali musim penghujan ini menjadi buah bibir karena tumbuh dalam satu area. Dengan dominan warna merah kebun yang saat musim kemarau hanya terlihat bebatuan menjadi hamparan warna merah dan hijau.

Beberapa wisatawan tampak asyik berfoto mengabadikan kunjungan mereka ke Gunungkidul yang beberapa tahun terakhir memang sedang ramai dikunjungi wisatawan seiring banyaknya obyek wisata.

Menurut Sukadi sang pemilik kebun, bunga tersebut awalnya hanya iseng. Saat itu dirinya menjual kelapa disekitar jalur Yogyakarta- Wonosari ada beberapa pengendara yang melinta dan membeli bunga miliknya. Lalu, bersama kelurganya membudidayakan amaris disekitar kebunnya.

&quot;Banyak pembeli saya yang berminat ingin membeli bunga amarilis ini yang tumbuh disekitaran rumah saya, dari situ saya punya ide untuk membudidayakan bunga tersebut,&quot; katanya kepada wartawan Jumat (27/11/2015).Dengan modal awal Rp2 juta, dirinya  membudidayakan tanaman tersebut  dilahan seluas 2350 meter persegi miliknya. Kini, dihiasi sekitar  500.000 tangkai bunga amarilis. &amp;rdquo;Perawatannya sendiri itu mudah, hanya  butuh air untuk menyiramnya setiap hari saja sudah tumbuh subur,&quot;  jelasnya.

Sukadi mengatakan, dirinya menjual satu tangkai bunga amarilis  sebesar Rp5000 pertangkai. Saat ini, rumahnya ramai dikunjungi  wisatawan. Setap hari tidak kurang 300-an wisatwan datang. Selain  berfoto mereka membeli untuk buah tangan. &quot;Saya kenakan biaya perbaikan  perawatan seikhlasnya,&quot; katanya.

Sementara salah satu wisatawan Kismaya mengaku sengaja datang ke  Patuk untuk menyaksikan bunga yang sedang mekar. Ia mengetahui, dari  media sosial terkait munculnya kebun buah.

&quot;Saya tahu dari instagram kok bagus, lalu sengaja datang ternyata benar-benar bagus,&quot; kata warga Yogyakarta ini.</description><content:encoded>YOGYAKARTA- Dalam beberapa hari ini masyarakat Yogyakarta dihebohkan dengan munculnya gambar hamparan kebun bunga yang indah. Berbagai media sosial memasang foto bunga yang tampak seperti kebun bunga tulip di belanda.

Ternyata bunga itu, tumbuh di halaman rumah milik Sukadi di desa Beji, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Tepat dijalur Yogyakarta, Wonosari sebelum jembatan Kali pentung, kanan jalan di samping bebatuan, masyarakat bisa melihat tumbuhan Bunga Amarilis, yang oleh masyarakat setempat diberi nama Puspa Patuk.

Bunga yang tumbuh setiap kali musim penghujan ini menjadi buah bibir karena tumbuh dalam satu area. Dengan dominan warna merah kebun yang saat musim kemarau hanya terlihat bebatuan menjadi hamparan warna merah dan hijau.

Beberapa wisatawan tampak asyik berfoto mengabadikan kunjungan mereka ke Gunungkidul yang beberapa tahun terakhir memang sedang ramai dikunjungi wisatawan seiring banyaknya obyek wisata.

Menurut Sukadi sang pemilik kebun, bunga tersebut awalnya hanya iseng. Saat itu dirinya menjual kelapa disekitar jalur Yogyakarta- Wonosari ada beberapa pengendara yang melinta dan membeli bunga miliknya. Lalu, bersama kelurganya membudidayakan amaris disekitar kebunnya.

&quot;Banyak pembeli saya yang berminat ingin membeli bunga amarilis ini yang tumbuh disekitaran rumah saya, dari situ saya punya ide untuk membudidayakan bunga tersebut,&quot; katanya kepada wartawan Jumat (27/11/2015).Dengan modal awal Rp2 juta, dirinya  membudidayakan tanaman tersebut  dilahan seluas 2350 meter persegi miliknya. Kini, dihiasi sekitar  500.000 tangkai bunga amarilis. &amp;rdquo;Perawatannya sendiri itu mudah, hanya  butuh air untuk menyiramnya setiap hari saja sudah tumbuh subur,&quot;  jelasnya.

Sukadi mengatakan, dirinya menjual satu tangkai bunga amarilis  sebesar Rp5000 pertangkai. Saat ini, rumahnya ramai dikunjungi  wisatawan. Setap hari tidak kurang 300-an wisatwan datang. Selain  berfoto mereka membeli untuk buah tangan. &quot;Saya kenakan biaya perbaikan  perawatan seikhlasnya,&quot; katanya.

Sementara salah satu wisatawan Kismaya mengaku sengaja datang ke  Patuk untuk menyaksikan bunga yang sedang mekar. Ia mengetahui, dari  media sosial terkait munculnya kebun buah.

&quot;Saya tahu dari instagram kok bagus, lalu sengaja datang ternyata benar-benar bagus,&quot; kata warga Yogyakarta ini.</content:encoded></item></channel></rss>
