<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cara Mengolah Minyak Jelantah Menjadi Bio Solar</title><description>Limbah minyak jelantah masuk pada drum reaktor dan memerlukan waktu 10 jam untuk menjadi bio solar yang sudah jadi.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259656/cara-mengolah-minyak-jelantah-menjadi-bio-solar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259656/cara-mengolah-minyak-jelantah-menjadi-bio-solar"/><item><title>Cara Mengolah Minyak Jelantah Menjadi Bio Solar</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259656/cara-mengolah-minyak-jelantah-menjadi-bio-solar</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259656/cara-mengolah-minyak-jelantah-menjadi-bio-solar</guid><pubDate>Rabu 02 Desember 2015 15:51 WIB</pubDate><dc:creator>Amril Amarullah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/02/525/1259656/cara-mengolah-minyak-jelantah-menjadi-bio-solar-n5JnXViFb5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penemu bio solar dari bahan minta jelantah, Benny Hartono (foto: kabar-cirebon)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/02/525/1259656/cara-mengolah-minyak-jelantah-menjadi-bio-solar-n5JnXViFb5.jpg</image><title>Penemu bio solar dari bahan minta jelantah, Benny Hartono (foto: kabar-cirebon)</title></images><description>CIREBON &amp;ndash; Minyak jelantah yang berwarna coklat pekat merupakan limbah yang sult diolah. Malah ada yang menyalahgunakan minyak jelantah tersebut untuk digunakan kembali menjadi minyak goreng padahal sangat berbahaya bagi berbahaya.
Namun, ternyata minyak jelantah bisa diolah menjadi solar atau masuk dalam jenis bio solar. Solar, memang menjadi salah satu bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi kebutuhan industri, nelayan dan petani untuk bahan bakar mesin. Sementara lambat laun, solar pun akan semakin langka sebab solar yang berasal dari fosil tersebut termasuk sumbar daya yang tidak bisa diperbaharui.
Tetapi dengan adanya bio solar menjadi alternatif sebagai bahan bakar yang berasal dari limbah minyak jelantah yang ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan Benny Hartono, sejak enam bulan ia mengolah minyak jelantah untuk dijadikan bio solar. Limbah minyak jelantah tersebut masuk pada drum melalui proses reaktor.
&amp;ldquo;Limbah minyak jelantah masuk pada drum reaktor dan memerlukan waktu 10 jam untuk menjadi bio solar yang sudah jadi. Minyak jelantah masuk pada drum, dipanaskan dengan heater dengan kapastas 3.000 watt sampai temperatur 100 derajat celcius,&amp;rdquo; jelas Benny saat KC temui di tempat produksi bio solar yang berlokasi di Jalan Suratno Kota Cirebon, kemarin.
Karena minyak jelantah mengandung air dan bahan bekas penggorengan, lanjut dia, maka otomatis akan terpisah. Namun diperlukan katalisator seperti larutan methanol dan natrium hidroksida.
&amp;ldquo;Prosesnya dinamakan transesterfikasi. Proses molekul panjang ini hampir sama dengan proses yang terjadi di pom bensin. Bahkan limbah gliserolnya bisa untuk pakan ternak karena mengandung lemak nabati,&amp;rdquo; tutur Benny seperti dikutip kabar-cirebon, Rabu (2/12/2015).


Solar Tanpa Asap
Benny mengatakan, hasil bio solar tersebut sangat bagus dan saat  penggunannya tidak mengeluarkan asap dibandingkan dengan solar berasal  dari fosil yang biasanya mengeluarkan asap pekat.
&amp;ldquo;Produksi bio solar sama sekali tidak membahayakan lingkungan. Tidak  ada polusi dan limbah sama sekali. Izinnya juga sudah ada, apalagi  lokasinya terletak di belakang gudang Perusahaan Gas Negara (PGN). Jadi  tak ada yang perlu dikhawatirkan sebab ramah lingkungan,&amp;rdquo; katanya.
Benny mengaku sudah membantu nelayan dan petani di beberapa wilayah  seperti Kalisapu, Kesenden, dan beberapa daerah pesisir lain. Khususnya  nelayan, mereka selalu kekurangan bahan solar saat membeli di Stasuin  Pengisian Bakar Nelayan (SPBN). Jika membeli di SPBU mereka tidak boleh  membeli dengan menggunakan derigen.
&amp;ldquo;Untuk itu, setelah kami tawarkan bio solar, mereka puas dengan bio  solar tersebut. Selain hemat juga aman, sebab jika menggunakan solar  abal-abal biasanya cepat habis dan mesin mati di tengah lautan,&amp;rdquo; tegas  dia.
Selain itu, api akan padam jika terkena solar bukan malah membesar.  Itulah risiko nelayan menggunakan solar saat mereka melaut, sangat  berbahaya jika ada angin atau asap rokok. Begitu juga dengan petani, bio  solar bisa digunakan untuk mesin traktor.
&amp;ldquo;Bio solar bisa mengantikan lilin saat mati lampu. Daya tahannya kuat  sampai empat jam. Saya buktikan saat berada di Desa Cikuya, di mana  selama 20 tahun mereka belum pernah teraliri listrik. Selain itu bisa  untuk mengganti minyak tanah dalam penggunaan kompor,&amp;rdquo; ujarnya.Bisa Dijadikan Lampu
Benny yang pendiri Usaha Kecil Menengah (UKM) Jati Ning Mandiri  mengatakan, pemanfaatan bio solar sudah berjalan, namun ia sendiri  kekurangan suplai minyak jelantah, sebab ia harus bersaing ketat dengan  para pengepul minyak jelantah.
&amp;ldquo;Saat ini minyak jelantah baru saya dapat dari pabrik krupuk di  Klayan. Lumayan jauh juga, sebab jika mengumpulkan dari pasar, saya  harus rebutan dengan pengepulnya. Ternyata ada yang mengambil minyak  jelantah, entah buat apa. Namun saya khawatir minyak jelantah tersebut  dicampur tawas atau nasi aking dengan cara direndam untuk dijadikan  minyak goreng kemudian dijual lagi. Tentu saja berbahaya sebab bisa  menyebabkan kanker dan penyakit berbahaya lain,&amp;rdquo; ungkap Benny.
Saat masuk ke hotel atau restoran pun untuk bis mengambul minyak  jelantah, Benny malah dicurigai, sebab penyalahgunaan minyak jelantah  kini sedang marak.
&amp;ldquo;Walaupun sudah bawa proposal, tetapi tetap dicurigai. Namun saya  optimistis bisa mendapatkan bahan limbah minyak jelantah tersebut.  Efektifnya satu kali proses bisa menghasilkan 90 liter bio solar,&amp;rdquo;  ungkapnya.
Benny belajar mengolah bio solar saat ia bekerja di Pertamina  Balongan, namun saat ini melihat kondisi nelayan, petani dan industri  yang membutuhkan solar yang ramah lingkungan, sehingga fokus untuk  menjalaninya. Bukan hanya semata bisnis tetapi untuk membantu petani dan  nelayan yang sangat membutuhkan bio solar untuk membantu meningkatkan  penghasilan mereka.
&amp;ldquo;Saya mempunyai impian untuk mendirikan UKM di setiap kecamatan yang  bisa mengolah minyak jelantah menjadi bio solar. Bio solar tersebut jika  dipasarkan lebih terjangkau dibandingkan harga solar, yakni Rp 6.000  untuk petani dan nelayan dan Rp12.000 untuk industri. Namun masih  terkendala dana dan suplai bahan baku. Semoga suatu saat nanti saya  mendapat jalan untuk terus mengembangkan bio solar ini,&amp;rdquo; tambah dia.</description><content:encoded>CIREBON &amp;ndash; Minyak jelantah yang berwarna coklat pekat merupakan limbah yang sult diolah. Malah ada yang menyalahgunakan minyak jelantah tersebut untuk digunakan kembali menjadi minyak goreng padahal sangat berbahaya bagi berbahaya.
Namun, ternyata minyak jelantah bisa diolah menjadi solar atau masuk dalam jenis bio solar. Solar, memang menjadi salah satu bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi kebutuhan industri, nelayan dan petani untuk bahan bakar mesin. Sementara lambat laun, solar pun akan semakin langka sebab solar yang berasal dari fosil tersebut termasuk sumbar daya yang tidak bisa diperbaharui.
Tetapi dengan adanya bio solar menjadi alternatif sebagai bahan bakar yang berasal dari limbah minyak jelantah yang ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan Benny Hartono, sejak enam bulan ia mengolah minyak jelantah untuk dijadikan bio solar. Limbah minyak jelantah tersebut masuk pada drum melalui proses reaktor.
&amp;ldquo;Limbah minyak jelantah masuk pada drum reaktor dan memerlukan waktu 10 jam untuk menjadi bio solar yang sudah jadi. Minyak jelantah masuk pada drum, dipanaskan dengan heater dengan kapastas 3.000 watt sampai temperatur 100 derajat celcius,&amp;rdquo; jelas Benny saat KC temui di tempat produksi bio solar yang berlokasi di Jalan Suratno Kota Cirebon, kemarin.
Karena minyak jelantah mengandung air dan bahan bekas penggorengan, lanjut dia, maka otomatis akan terpisah. Namun diperlukan katalisator seperti larutan methanol dan natrium hidroksida.
&amp;ldquo;Prosesnya dinamakan transesterfikasi. Proses molekul panjang ini hampir sama dengan proses yang terjadi di pom bensin. Bahkan limbah gliserolnya bisa untuk pakan ternak karena mengandung lemak nabati,&amp;rdquo; tutur Benny seperti dikutip kabar-cirebon, Rabu (2/12/2015).


Solar Tanpa Asap
Benny mengatakan, hasil bio solar tersebut sangat bagus dan saat  penggunannya tidak mengeluarkan asap dibandingkan dengan solar berasal  dari fosil yang biasanya mengeluarkan asap pekat.
&amp;ldquo;Produksi bio solar sama sekali tidak membahayakan lingkungan. Tidak  ada polusi dan limbah sama sekali. Izinnya juga sudah ada, apalagi  lokasinya terletak di belakang gudang Perusahaan Gas Negara (PGN). Jadi  tak ada yang perlu dikhawatirkan sebab ramah lingkungan,&amp;rdquo; katanya.
Benny mengaku sudah membantu nelayan dan petani di beberapa wilayah  seperti Kalisapu, Kesenden, dan beberapa daerah pesisir lain. Khususnya  nelayan, mereka selalu kekurangan bahan solar saat membeli di Stasuin  Pengisian Bakar Nelayan (SPBN). Jika membeli di SPBU mereka tidak boleh  membeli dengan menggunakan derigen.
&amp;ldquo;Untuk itu, setelah kami tawarkan bio solar, mereka puas dengan bio  solar tersebut. Selain hemat juga aman, sebab jika menggunakan solar  abal-abal biasanya cepat habis dan mesin mati di tengah lautan,&amp;rdquo; tegas  dia.
Selain itu, api akan padam jika terkena solar bukan malah membesar.  Itulah risiko nelayan menggunakan solar saat mereka melaut, sangat  berbahaya jika ada angin atau asap rokok. Begitu juga dengan petani, bio  solar bisa digunakan untuk mesin traktor.
&amp;ldquo;Bio solar bisa mengantikan lilin saat mati lampu. Daya tahannya kuat  sampai empat jam. Saya buktikan saat berada di Desa Cikuya, di mana  selama 20 tahun mereka belum pernah teraliri listrik. Selain itu bisa  untuk mengganti minyak tanah dalam penggunaan kompor,&amp;rdquo; ujarnya.Bisa Dijadikan Lampu
Benny yang pendiri Usaha Kecil Menengah (UKM) Jati Ning Mandiri  mengatakan, pemanfaatan bio solar sudah berjalan, namun ia sendiri  kekurangan suplai minyak jelantah, sebab ia harus bersaing ketat dengan  para pengepul minyak jelantah.
&amp;ldquo;Saat ini minyak jelantah baru saya dapat dari pabrik krupuk di  Klayan. Lumayan jauh juga, sebab jika mengumpulkan dari pasar, saya  harus rebutan dengan pengepulnya. Ternyata ada yang mengambil minyak  jelantah, entah buat apa. Namun saya khawatir minyak jelantah tersebut  dicampur tawas atau nasi aking dengan cara direndam untuk dijadikan  minyak goreng kemudian dijual lagi. Tentu saja berbahaya sebab bisa  menyebabkan kanker dan penyakit berbahaya lain,&amp;rdquo; ungkap Benny.
Saat masuk ke hotel atau restoran pun untuk bis mengambul minyak  jelantah, Benny malah dicurigai, sebab penyalahgunaan minyak jelantah  kini sedang marak.
&amp;ldquo;Walaupun sudah bawa proposal, tetapi tetap dicurigai. Namun saya  optimistis bisa mendapatkan bahan limbah minyak jelantah tersebut.  Efektifnya satu kali proses bisa menghasilkan 90 liter bio solar,&amp;rdquo;  ungkapnya.
Benny belajar mengolah bio solar saat ia bekerja di Pertamina  Balongan, namun saat ini melihat kondisi nelayan, petani dan industri  yang membutuhkan solar yang ramah lingkungan, sehingga fokus untuk  menjalaninya. Bukan hanya semata bisnis tetapi untuk membantu petani dan  nelayan yang sangat membutuhkan bio solar untuk membantu meningkatkan  penghasilan mereka.
&amp;ldquo;Saya mempunyai impian untuk mendirikan UKM di setiap kecamatan yang  bisa mengolah minyak jelantah menjadi bio solar. Bio solar tersebut jika  dipasarkan lebih terjangkau dibandingkan harga solar, yakni Rp 6.000  untuk petani dan nelayan dan Rp12.000 untuk industri. Namun masih  terkendala dana dan suplai bahan baku. Semoga suatu saat nanti saya  mendapat jalan untuk terus mengembangkan bio solar ini,&amp;rdquo; tambah dia.</content:encoded></item></channel></rss>
