<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Potret Kampung Pecinan (China Town) Masa Lalu dan Kini</title><description>Tahun 1970an di sepanjang Jl. Pecinan masih terdapat rumah-rumah khas etnis Tionghoa dengan ciri relief dua ekor naga.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259690/potret-kampung-pecinan-china-town-masa-lalu-dan-kini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259690/potret-kampung-pecinan-china-town-masa-lalu-dan-kini"/><item><title>Potret Kampung Pecinan (China Town) Masa Lalu dan Kini</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259690/potret-kampung-pecinan-china-town-masa-lalu-dan-kini</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/02/525/1259690/potret-kampung-pecinan-china-town-masa-lalu-dan-kini</guid><pubDate>Rabu 02 Desember 2015 16:22 WIB</pubDate><dc:creator>Amril Amarullah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/02/525/1259690/potret-kampung-pecinan-china-town-masa-lalu-dan-kini-j1piHicgrz.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kampung Pecinan pada masa lampau (foto: ilustrasi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/02/525/1259690/potret-kampung-pecinan-china-town-masa-lalu-dan-kini-j1piHicgrz.jpg</image><title>Kampung Pecinan pada masa lampau (foto: ilustrasi)</title></images><description>CIREBON &amp;ndash; Sebenarnya daerah Pecinan (China Town) awal terdapat di sepanjang Jl. Pecinan Cirebon (sekarang) yang berdekatan dengan Keraton Keprabonan dan Kanoman. Tahun 1970an di sepanjang Jl. Pecinan masih terdapat rumah-rumah khas etnis Tionghoa dengan ciri relief dua ekor naga yang bertolakbelakang pada bagian atap luar.
Sejak jalan itu diperlebar awal tahun 1980an ciri khas dua ekor naga tersebut dihilangkan. Apalagi dengan adanya peraturan yang rasis dari Pemerintah Orde Baru yang melarang memajang dan menggelar karya seni dari mancanegara, termasuk China.
Pasuketan &amp;ndash; Pekiringan &amp;ndash; Pekalipan merupakan segitigas emas untuk bisnis kalangan etnis Tionghoa. Di sekitar daerah itu terdapat rumah ibadah mereka, berupa kelenteng maupun vihara. Sebut saja Kelenteng (Lithang) Talang (berbelahan dengan PT.BAT) dan Vihara Welas Asih yang berhadapan dengan PT BAT.
Di bagian barat Pasar Kanoman terdapat vihara Balai Keselamatan. Di bagian timur terdapat Pasar Talang, yakni &amp;ldquo;pasar dedean&amp;rdquo; yang menjajakan barang bekas. Istilah &amp;ldquo;talang&amp;rdquo; sendiri diartikan sebagai &amp;ldquo;talangan&amp;rdquo; atau pengganti sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan nama &amp;ldquo;Pasuketan&amp;rdquo; diduga berasal dari kata &amp;ldquo;suket&amp;rdquo; yang berarti rumput. Pada masa kejayaan Kesultanan Cirebon, daerah tersebut dijadikan tempat atau gudang rumput (bahasa Cirebon = suket) hewan-hewan peliharaan kesultanan.
Di sekitar itu terdapat pula masjid Jagabayan yang menurut pewarisnya (alm. KH. Abdul Qodir Wahab &amp;ndash; saat masih hidup) merupakan pos penjagaan untuk kesultanan. Namanya juga &amp;ldquo;Jagabayan&amp;rdquo; yang berarti menjaga bahaya atau serangan dari luar. Kini semua sudah berubah modern. Bagaimana selanjutnya...

Berubah Modern
Bangunan-bangunan pertokoan di sepanjang Jl. Pasuketan sekira tahun  1920an sudah mencerminkan adanya pengaruh art deco dari China. Lihat  saja tiang-tiang besar penyangga bangunan sangat berbeda dengan tiang  penyangga masa klasik kesultanan.
Pengaruh China bisa dilihat dari tiang  berbentuk persegi panjang, sedangkan pada masa klasik kesultanan Islam  (baca Cirebon) berbentuk bulat panjang. Para rumah bangsawan keraton  Cirebon saat ini masih tersisa di sekitar daerah tersebut.
Kini wajah modern kompleks Pasuketan tidak lagi menampakkan sisa  arsitektur art deco China yang indah. Setelah sepanjang jalan itu  diperlebar pada awal masa orde baru, yakni pada masa Walikota Tatang  Suwardi. Dampak dari pelebaran jalan tersebut juga menghancurkan  bangunan lama digantikan dengan bangunan modern. Kota Cirebon sejak itu  berubah wajah secara total.
Bersebelahan dengan Jl. Pasuketan, terdapat jalan raya yang kini  dikenal sebagai Jl. Pecinan. Jalan ini merupakan arah strategis menuju  Keraton Kanoman, Kasepuhan dan Pengguron Kacirebonan. Pada masa lalu  kompleks Pecinan memberikan warna yang khas bagi pertumbuhan kota itu  sendiri.
Sebagai bangsa perantau yang datang bersamaan dengan datangnya kaum  Tionghoa ke Cirebon sekira abad ke-15, para perantau China itu memilih  tempat strategis, yakni berdekatan dengan pusat pemerintahan. Pada  sekira tahun 1960an, rumah-rumah berkepala naga masih nampak menghiasi  bangunan sekitar itu.
Namun sejak memasuki tahun 1970an seiring dengan  modernisasi kota, kompleks Pecinan mulai kehilangan daya tariknya. Tak  ada lagi kepala naga. Justru yang ada hanyalah bangunan-bangunan megah  bertingkat.
Kini para perantau bermata sipit dan dikenal sebagai Tionghoa itu  telah menyatu dengan masyarakat setempat. Sisa-sisa kejayaannya masih  bias dilihat saat perayaan imlek. Puluhan atraksi khas mereka, seperti  barongsai, tari naga (liong), toapekong dan bag-bagi dodol China. Tata  ruang kota sebenarnya sudah mulai tertata apik sejak dulu.</description><content:encoded>CIREBON &amp;ndash; Sebenarnya daerah Pecinan (China Town) awal terdapat di sepanjang Jl. Pecinan Cirebon (sekarang) yang berdekatan dengan Keraton Keprabonan dan Kanoman. Tahun 1970an di sepanjang Jl. Pecinan masih terdapat rumah-rumah khas etnis Tionghoa dengan ciri relief dua ekor naga yang bertolakbelakang pada bagian atap luar.
Sejak jalan itu diperlebar awal tahun 1980an ciri khas dua ekor naga tersebut dihilangkan. Apalagi dengan adanya peraturan yang rasis dari Pemerintah Orde Baru yang melarang memajang dan menggelar karya seni dari mancanegara, termasuk China.
Pasuketan &amp;ndash; Pekiringan &amp;ndash; Pekalipan merupakan segitigas emas untuk bisnis kalangan etnis Tionghoa. Di sekitar daerah itu terdapat rumah ibadah mereka, berupa kelenteng maupun vihara. Sebut saja Kelenteng (Lithang) Talang (berbelahan dengan PT.BAT) dan Vihara Welas Asih yang berhadapan dengan PT BAT.
Di bagian barat Pasar Kanoman terdapat vihara Balai Keselamatan. Di bagian timur terdapat Pasar Talang, yakni &amp;ldquo;pasar dedean&amp;rdquo; yang menjajakan barang bekas. Istilah &amp;ldquo;talang&amp;rdquo; sendiri diartikan sebagai &amp;ldquo;talangan&amp;rdquo; atau pengganti sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan nama &amp;ldquo;Pasuketan&amp;rdquo; diduga berasal dari kata &amp;ldquo;suket&amp;rdquo; yang berarti rumput. Pada masa kejayaan Kesultanan Cirebon, daerah tersebut dijadikan tempat atau gudang rumput (bahasa Cirebon = suket) hewan-hewan peliharaan kesultanan.
Di sekitar itu terdapat pula masjid Jagabayan yang menurut pewarisnya (alm. KH. Abdul Qodir Wahab &amp;ndash; saat masih hidup) merupakan pos penjagaan untuk kesultanan. Namanya juga &amp;ldquo;Jagabayan&amp;rdquo; yang berarti menjaga bahaya atau serangan dari luar. Kini semua sudah berubah modern. Bagaimana selanjutnya...

Berubah Modern
Bangunan-bangunan pertokoan di sepanjang Jl. Pasuketan sekira tahun  1920an sudah mencerminkan adanya pengaruh art deco dari China. Lihat  saja tiang-tiang besar penyangga bangunan sangat berbeda dengan tiang  penyangga masa klasik kesultanan.
Pengaruh China bisa dilihat dari tiang  berbentuk persegi panjang, sedangkan pada masa klasik kesultanan Islam  (baca Cirebon) berbentuk bulat panjang. Para rumah bangsawan keraton  Cirebon saat ini masih tersisa di sekitar daerah tersebut.
Kini wajah modern kompleks Pasuketan tidak lagi menampakkan sisa  arsitektur art deco China yang indah. Setelah sepanjang jalan itu  diperlebar pada awal masa orde baru, yakni pada masa Walikota Tatang  Suwardi. Dampak dari pelebaran jalan tersebut juga menghancurkan  bangunan lama digantikan dengan bangunan modern. Kota Cirebon sejak itu  berubah wajah secara total.
Bersebelahan dengan Jl. Pasuketan, terdapat jalan raya yang kini  dikenal sebagai Jl. Pecinan. Jalan ini merupakan arah strategis menuju  Keraton Kanoman, Kasepuhan dan Pengguron Kacirebonan. Pada masa lalu  kompleks Pecinan memberikan warna yang khas bagi pertumbuhan kota itu  sendiri.
Sebagai bangsa perantau yang datang bersamaan dengan datangnya kaum  Tionghoa ke Cirebon sekira abad ke-15, para perantau China itu memilih  tempat strategis, yakni berdekatan dengan pusat pemerintahan. Pada  sekira tahun 1960an, rumah-rumah berkepala naga masih nampak menghiasi  bangunan sekitar itu.
Namun sejak memasuki tahun 1970an seiring dengan  modernisasi kota, kompleks Pecinan mulai kehilangan daya tariknya. Tak  ada lagi kepala naga. Justru yang ada hanyalah bangunan-bangunan megah  bertingkat.
Kini para perantau bermata sipit dan dikenal sebagai Tionghoa itu  telah menyatu dengan masyarakat setempat. Sisa-sisa kejayaannya masih  bias dilihat saat perayaan imlek. Puluhan atraksi khas mereka, seperti  barongsai, tari naga (liong), toapekong dan bag-bagi dodol China. Tata  ruang kota sebenarnya sudah mulai tertata apik sejak dulu.</content:encoded></item></channel></rss>
