<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Zwarte Sinterklaas, Ketika Soekarno Usir Orang Belanda dari Indonesia</title><description>Tepat pada 5 Desember 1957, Soekarno memerintahkan puluhan ribu orang Belanda untuk angkat kaki dari berbagai wilayah Republik Indonesia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/05/18/1261147/zwarte-sinterklaas-ketika-soekarno-usir-orang-belanda-dari-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/05/18/1261147/zwarte-sinterklaas-ketika-soekarno-usir-orang-belanda-dari-indonesia"/><item><title>Zwarte Sinterklaas, Ketika Soekarno Usir Orang Belanda dari Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/05/18/1261147/zwarte-sinterklaas-ketika-soekarno-usir-orang-belanda-dari-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/05/18/1261147/zwarte-sinterklaas-ketika-soekarno-usir-orang-belanda-dari-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 05 Desember 2015 06:45 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/04/18/1261147/zwarte-sinterklaas-ketika-soekarno-usir-orang-belanda-dari-indonesia-nwH3p8qkYg.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden RI, Soekarno, usir puluhan ribu orang Belanda pada Desember 1957 (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/04/18/1261147/zwarte-sinterklaas-ketika-soekarno-usir-orang-belanda-dari-indonesia-nwH3p8qkYg.jpeg</image><title>Presiden RI, Soekarno, usir puluhan ribu orang Belanda pada Desember 1957 (Foto: AFP)</title></images><description>UNTUK orang Belanda, tanggal 5 Desember selalu dinanti-nanti untuk merayakan Hari Sinterklas. Tapi sayangnya suka cita itu tak terjadi dan justru berubah pedih untuk orang-orang Belanda di Indonesia 58 tahun lampau.
Pasalnya, tepat pada 5 Desember 1957, Presiden RI, Soekarno memerintahkan puluhan ribu orang Belanda untuk angkat kaki dari berbagai wilayah Republik Indonesia.
Termasuk warga Indo-Belanda yang lahir di negeri yang dulunya bernama Hindia-Belanda. Peristiwa itu kini dikenal sebagai peristiwa &amp;ldquo;Zwarte Sinterklaas&amp;rdquo; atau Sinterklas Hitam.
Seperti dikutip dari &amp;lsquo;A History of Modern Indonesia Since C.1200&amp;rsquo; karya Merle Calvin Ricklefs, Kementerian Hukum Indonesia atas perintah Presiden Soekarno, mengeluarkan pernyataan pengusiran terhadap 46 ribu orang Belanda untuk angkat kaki dari bumi pertiwi.Puluhan ribu orang Belanda itu dianggap &amp;ldquo;berbahaya&amp;rdquo; oleh Soekarno, di  tengah memanasnya hubungan Indonesia-Belanda terkait konflik Papua  Barat.

Pasalnya, sejak Belanda mengakui Indonesia merdeka pada 27 Desember 1949, Belanda masih bercokol di Bumi Cendrawasih.
Pengusiran itu merupakan ekses negatif dari seruan Soekarno  tentang anti-Belanda, disertai perintah nasionalisasi semua perusahaan  Belanda di berbagai sektor.
Seruan anti-Belanda dari Soekarno, cepat menyebar ke berbagai  kalangan. Bahkan, sebelum peristiwa Zwarte Sinterklaas, masyarakat  Indonesia sudah mengusung sentimen tersendiri.Warga Belanda dan Indo-Belanda pun banyak yang tak berani   beraktivitas di luar rumah. Sejumlah toko yang dimiliki warga pribumi   dan bahkan kantor pos, enggan melayani orang Belanda.
Peristiwa Zwarte Sinterklaas itu pun memaksa puluhan ribu orang   Belanda berbondong-bondong keluar dari Indonesia. Terkait hal ini,   pemerintah Belanda menyewa kapal pengangkut untuk membawa mereka ke   Negeri Kincir Angin.
Setidaknya, kedatangan mereka di Belanda turut disambut hangat  Ratu Belanda, Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau.
&amp;ldquo;Selamat datang di negeri sendiri,&amp;rdquo; begitu sambutan singkat sang  Ratu  kepada warga Indo-Belanda yang dideportasi dari Indonesia itu.</description><content:encoded>UNTUK orang Belanda, tanggal 5 Desember selalu dinanti-nanti untuk merayakan Hari Sinterklas. Tapi sayangnya suka cita itu tak terjadi dan justru berubah pedih untuk orang-orang Belanda di Indonesia 58 tahun lampau.
Pasalnya, tepat pada 5 Desember 1957, Presiden RI, Soekarno memerintahkan puluhan ribu orang Belanda untuk angkat kaki dari berbagai wilayah Republik Indonesia.
Termasuk warga Indo-Belanda yang lahir di negeri yang dulunya bernama Hindia-Belanda. Peristiwa itu kini dikenal sebagai peristiwa &amp;ldquo;Zwarte Sinterklaas&amp;rdquo; atau Sinterklas Hitam.
Seperti dikutip dari &amp;lsquo;A History of Modern Indonesia Since C.1200&amp;rsquo; karya Merle Calvin Ricklefs, Kementerian Hukum Indonesia atas perintah Presiden Soekarno, mengeluarkan pernyataan pengusiran terhadap 46 ribu orang Belanda untuk angkat kaki dari bumi pertiwi.Puluhan ribu orang Belanda itu dianggap &amp;ldquo;berbahaya&amp;rdquo; oleh Soekarno, di  tengah memanasnya hubungan Indonesia-Belanda terkait konflik Papua  Barat.

Pasalnya, sejak Belanda mengakui Indonesia merdeka pada 27 Desember 1949, Belanda masih bercokol di Bumi Cendrawasih.
Pengusiran itu merupakan ekses negatif dari seruan Soekarno  tentang anti-Belanda, disertai perintah nasionalisasi semua perusahaan  Belanda di berbagai sektor.
Seruan anti-Belanda dari Soekarno, cepat menyebar ke berbagai  kalangan. Bahkan, sebelum peristiwa Zwarte Sinterklaas, masyarakat  Indonesia sudah mengusung sentimen tersendiri.Warga Belanda dan Indo-Belanda pun banyak yang tak berani   beraktivitas di luar rumah. Sejumlah toko yang dimiliki warga pribumi   dan bahkan kantor pos, enggan melayani orang Belanda.
Peristiwa Zwarte Sinterklaas itu pun memaksa puluhan ribu orang   Belanda berbondong-bondong keluar dari Indonesia. Terkait hal ini,   pemerintah Belanda menyewa kapal pengangkut untuk membawa mereka ke   Negeri Kincir Angin.
Setidaknya, kedatangan mereka di Belanda turut disambut hangat  Ratu Belanda, Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau.
&amp;ldquo;Selamat datang di negeri sendiri,&amp;rdquo; begitu sambutan singkat sang  Ratu  kepada warga Indo-Belanda yang dideportasi dari Indonesia itu.</content:encoded></item></channel></rss>
