<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tragedi Rawagede: Kapten Lukas Ngotot Ingin Balas Belanda</title><description>Ketika mendengar kejadian pembantaian Rawagede, Kapten Lukas sedianya ngotot ingin kembali untuk bikin perhitungan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/09/18/1263849/tragedi-rawagede-kapten-lukas-ngotot-ingin-balas-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/09/18/1263849/tragedi-rawagede-kapten-lukas-ngotot-ingin-balas-belanda"/><item><title>Tragedi Rawagede: Kapten Lukas Ngotot Ingin Balas Belanda</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/09/18/1263849/tragedi-rawagede-kapten-lukas-ngotot-ingin-balas-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/09/18/1263849/tragedi-rawagede-kapten-lukas-ngotot-ingin-balas-belanda</guid><pubDate>Rabu 09 Desember 2015 14:09 WIB</pubDate><dc:creator>Randy Wirayudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/09/18/1263849/tragedi-rawagede-kapten-lukas-ngotot-ingin-balas-belanda-UyygGH5qtu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Tentara Belanda (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/09/18/1263849/tragedi-rawagede-kapten-lukas-ngotot-ingin-balas-belanda-UyygGH5qtu.jpg</image><title>Ilustrasi Tentara Belanda (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Demi mendapatkan informasi terkait salah satu tokoh lokal TNI, Kapten Lukas Kustario, pasukan Belanda rela menjejerkan lebih dari 400 warga Desa Rawagede dan menghabisinya ketika tak sepatah kata pun keluar soal informasi yang diinginkan.
Kini, peristiwa yang terjadi pada 9 Desember 1947 itu lebih dikenal dengan tragedi pembantaian Rawagede. 
Pasukan Koninklijke Landmaacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda dari Eerste Divisie 7 December sektor Cikampek pimpinan Majoor Alphonse Wijman, saat itu &amp;lsquo;ngebet&amp;rsquo; mencari informasi keberadaan Lukas, salah satu perwira TNI Siliwangi sektor Karawang.
Lukas diburu Belanda lantaran sering bikin ulah. Pasalnya, banyak kejadian kereta dari arah Jakarta menuju Semarang dan sebaliknya, terguling karena rel keretanya disabotase.Kisah lain, Lukas pernah menjarah senjata dan logistik Belanda,  setelah mencegat kereta dengan mengenakan seragam Belanda. Ketika kereta  tersebut berhenti, anak-anak buahnya dari sisi kiri dan kanan kereta  langsung kontak senjata, hingga akhirnya logistik Belanda berhasil  dirampas.
Satu hari sebelum Belanda menghabisi ratusan nyawa warga Desa  Rawagede (kini Desa Balongsari, Karawang), sedianya Lukas bersama Kapten  Madmuin Hasibuan dan pimpinan Laskar Hisbullah, KH Noer Ali, diketahui  mengadakan rapat koordinasi antara TNI dan laskar-laskar wilayah  Bekasi-Karawang, dari mata-mata pro Belanda.
Beruntung, di sore itu juga mereka sudah angkat kaki dari Desa  Rawagede, menghindari sergapan Belanda yang memburu sang &amp;ldquo;Begundal  Karawang&amp;rdquo; (julukan Lukas) dan &amp;ldquo;Singa Bekasi-Karawang&amp;rdquo; (julukan KH Noer  Ali).
Pasca-mengadakan rapat, Lukas pun bertolak menuju Tambun dengan  tujuan Cililitan. Lukas berencana kembali melakukan raid atau serangan  dadakan ke beberapa pos Belanda.Sementara KH Noer Ali bersama sekira 40 pasukan Laskar Hisbullah,   keluar dari Rawagede menuju Muara Gembong, kemudian Kampung Bugis di   pedalaman Karawang.
&amp;ldquo;Setelah rapat, mereka bubar. Lukas ke Tambun untuk kemudian   menyerang pos Belanda di Cililitan. Nah, KH Noer Ali sama 40 anak   buahnya menyusuri Sungai Citarum menuju Kampung Bugis,&amp;rdquo; ungkap Beny   Rusmawan, penggiat sejarah Bekasi kepada Okezone, Rabu (9/12/2015).
Ketika mendengar kejadian pembantaian Rawagede, Kapten Lukas   sedianya ngotot ingin kembali. Lukas ingin bikin perhitungan alias balas   dendam terhadap Belanda.

&amp;ldquo;Pas kejadian (pembantaian) Rawagede, Lukas dengar kabar itu  ketika  dia masih di pos TNI di Tambun. Saat itu, dia ngotot ingin balik.  Dia  pengin balas serang pos Belanda di Cikampek. Tapi pejuang-pejuang  yang  lain menahan Lukas karena merasa kekuatan mereka tak sebanding,&amp;rdquo;   pungkasnya.
Pemerintah Indonesia sendiri sempat memprotes tindakan Belanda di   Rawagede itu ke PBB. Sayangnya, tak ditanggapi dengan aksi nyata dari   PBB. Respons PBB saat itu hanya menyesalkan dan sekadar melayangkan   kecaman terhadap Belanda.
Peristiwa ini sampai sekarang masih membekas jika bicara hubungan  RI  dan Belanda sejak era revolusi. Pada 2011, Duta Besar Belanda saat  itu,  Tjeerd de Zwaan meminta maaf atas tragedi itu, sekaligus tabur  bunga  di makam korban Rawagede.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Demi mendapatkan informasi terkait salah satu tokoh lokal TNI, Kapten Lukas Kustario, pasukan Belanda rela menjejerkan lebih dari 400 warga Desa Rawagede dan menghabisinya ketika tak sepatah kata pun keluar soal informasi yang diinginkan.
Kini, peristiwa yang terjadi pada 9 Desember 1947 itu lebih dikenal dengan tragedi pembantaian Rawagede. 
Pasukan Koninklijke Landmaacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda dari Eerste Divisie 7 December sektor Cikampek pimpinan Majoor Alphonse Wijman, saat itu &amp;lsquo;ngebet&amp;rsquo; mencari informasi keberadaan Lukas, salah satu perwira TNI Siliwangi sektor Karawang.
Lukas diburu Belanda lantaran sering bikin ulah. Pasalnya, banyak kejadian kereta dari arah Jakarta menuju Semarang dan sebaliknya, terguling karena rel keretanya disabotase.Kisah lain, Lukas pernah menjarah senjata dan logistik Belanda,  setelah mencegat kereta dengan mengenakan seragam Belanda. Ketika kereta  tersebut berhenti, anak-anak buahnya dari sisi kiri dan kanan kereta  langsung kontak senjata, hingga akhirnya logistik Belanda berhasil  dirampas.
Satu hari sebelum Belanda menghabisi ratusan nyawa warga Desa  Rawagede (kini Desa Balongsari, Karawang), sedianya Lukas bersama Kapten  Madmuin Hasibuan dan pimpinan Laskar Hisbullah, KH Noer Ali, diketahui  mengadakan rapat koordinasi antara TNI dan laskar-laskar wilayah  Bekasi-Karawang, dari mata-mata pro Belanda.
Beruntung, di sore itu juga mereka sudah angkat kaki dari Desa  Rawagede, menghindari sergapan Belanda yang memburu sang &amp;ldquo;Begundal  Karawang&amp;rdquo; (julukan Lukas) dan &amp;ldquo;Singa Bekasi-Karawang&amp;rdquo; (julukan KH Noer  Ali).
Pasca-mengadakan rapat, Lukas pun bertolak menuju Tambun dengan  tujuan Cililitan. Lukas berencana kembali melakukan raid atau serangan  dadakan ke beberapa pos Belanda.Sementara KH Noer Ali bersama sekira 40 pasukan Laskar Hisbullah,   keluar dari Rawagede menuju Muara Gembong, kemudian Kampung Bugis di   pedalaman Karawang.
&amp;ldquo;Setelah rapat, mereka bubar. Lukas ke Tambun untuk kemudian   menyerang pos Belanda di Cililitan. Nah, KH Noer Ali sama 40 anak   buahnya menyusuri Sungai Citarum menuju Kampung Bugis,&amp;rdquo; ungkap Beny   Rusmawan, penggiat sejarah Bekasi kepada Okezone, Rabu (9/12/2015).
Ketika mendengar kejadian pembantaian Rawagede, Kapten Lukas   sedianya ngotot ingin kembali. Lukas ingin bikin perhitungan alias balas   dendam terhadap Belanda.

&amp;ldquo;Pas kejadian (pembantaian) Rawagede, Lukas dengar kabar itu  ketika  dia masih di pos TNI di Tambun. Saat itu, dia ngotot ingin balik.  Dia  pengin balas serang pos Belanda di Cikampek. Tapi pejuang-pejuang  yang  lain menahan Lukas karena merasa kekuatan mereka tak sebanding,&amp;rdquo;   pungkasnya.
Pemerintah Indonesia sendiri sempat memprotes tindakan Belanda di   Rawagede itu ke PBB. Sayangnya, tak ditanggapi dengan aksi nyata dari   PBB. Respons PBB saat itu hanya menyesalkan dan sekadar melayangkan   kecaman terhadap Belanda.
Peristiwa ini sampai sekarang masih membekas jika bicara hubungan  RI  dan Belanda sejak era revolusi. Pada 2011, Duta Besar Belanda saat  itu,  Tjeerd de Zwaan meminta maaf atas tragedi itu, sekaligus tabur  bunga  di makam korban Rawagede.</content:encoded></item></channel></rss>
