<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tragedi Pesawat Rusia di Semenanjung Sinai</title><description>Sebuah pesawat sipil Rusia berisi ratusan penumpang jatuh di Sinai dan penyebabnya dari bom di dalam pesawat yang diletakkan teroris ISIS.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/10/18/1265074/tragedi-pesawat-rusia-di-semenanjung-sinai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/10/18/1265074/tragedi-pesawat-rusia-di-semenanjung-sinai"/><item><title>Tragedi Pesawat Rusia di Semenanjung Sinai</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/10/18/1265074/tragedi-pesawat-rusia-di-semenanjung-sinai</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/10/18/1265074/tragedi-pesawat-rusia-di-semenanjung-sinai</guid><pubDate>Kamis 10 Desember 2015 21:12 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/10/18/1265074/tragedi-pesawat-rusia-di-semenanjung-sinai-pDMRse0QTx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Puing-puing Pesawat Metrojet Kolavia yang jatuh di Sinai (Foto: Mohamed Abd el-Ghany/REUTERS)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/10/18/1265074/tragedi-pesawat-rusia-di-semenanjung-sinai-pDMRse0QTx.jpg</image><title>Puing-puing Pesawat Metrojet Kolavia yang jatuh di Sinai (Foto: Mohamed Abd el-Ghany/REUTERS)</title></images><description>PADA 31 Oktober 2015, sebuah pesawat komersial Rusia milik Maskapai Metrojet Kogalymavia, tiba-tiba kehilangan kontak 23 menit setelah lepas landas dari Bandara Sharm el-Sheikh, Mesir, dalam penerbangan menuju St. Petersburg, Rusia.
Pesawat jenis Airbus A321 yang membawa 217 penumpang dan tujuh awak pesawat itu terakhir kali terpantau radar ATC (Air Traffic Control), saat melintasi wilayah Sinai di ketinggian 31.000 kaki atau sekira 9,4 kilometer.
Beberapa saat setelah hilangnya kontak tersebut, Pemerintah Mesir melalui Perdana Menteri (PM) Sharif Ismail mengabarkan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan 7K9268 itu telah jatuh di wilayah Sinai Tengah, Mesir.
&amp;ldquo;Sebuah pesawat sipil Rusia telah jatuh di Sinai Tengah, pesawat militer (Mesir) telah menemukan puing-puing pesawat,&amp;rdquo; demikian pernyataan dari PM Sharif, Sabtu (31/10/2105) lalu.Pernyataan ini sekaligus menjawab berbagai kabar simpang siur  mengenai nasib pesawat tersebut. Petugas keamanan Mesir yang dikerahkan  ke lokasi jatuhnya pesawat melaporkan telah menemukan jasad dari 120  penumpang yang tewas.
Setelah dilakukan upaya penyelamatan akhirnya mereka menyatakan  seluruh penumpang dan awak Pesawat Metrojet Kogalymavia Penerbangan  9268, tewas dalam insiden tersebut.
Tercatat 219 warga negara Rusia, empat orang warga Ukraina, dan  seorang warga Belarusia tewas dalam tragedi terburuk dalam sejarah  penerbangan Rusia dan Uni Soviet itu.
Segera setelahnya, pernyelidikan mengenai penyebab jatuhnya  pesawat segera dilakukan. Komite Investigasi Rusia bahkan dikabarkan  telah menyiapkan tuntutan terhadap maskapai Metrojet Kogalymavia atas  pelanggaran peraturan penerbangan.Pemerintah Mesir mengatakan masih terlalu dini untuk menyebutkan   penyebab jatuhnya pesawat. Peristiwa ini mengundang simpati dan reaksi    dari berbagai pihak, terutama dari Rusia yang 219 warganya menjadi   korban.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, segera menyampaikan rasa duka  cita  dan menetapkan 1 November 2015 sebagai hari berkabung nasional.  Rusia  juga memerintahkan Maskapai Kogalymavia untuk menghentikan seluruh   penerbangan pesawat tipe Airbus A321 milik mereka, hingga penyebab   jatuhnya pesawat berhasil diidentifikasi.
Ucapan belasungkawa juga datang dari pemimpin dunia lainnya,  seperti  PM Inggris, David Cameron dan PM Serbia, Aleksandar Vucic.  Pemerintah  Amerika Serikat (AS) juga menyampaikan rasa simpati mereka  melalui  Menteri Luar Negeri, John Kerry.
Namun, perkembangan mengejutkan muncul beberapa saat setelah   pengumuman tersebut, saat kelompok militan ISIS mengklaim bertanggung   jawab atas insiden terburuk dalam sejarah penerbangan Rusia itu.Melalui Twitter dan situs beritanya, Aamaq, ISIS mengaku telah menembak jatuh pesawat nahas tersebut.
&amp;ldquo;Para Pejuang ISIS mampu menembak jatuh pesawat Rusia yang  membawa   220 tentara salib Rusia di atas Provinsi Sinai. Mereka semua  tewas,   terima kasih kepada Tuhan,&amp;rdquo; demikian isi pernyataan ISIS melalui    Twitter pada Minggu, (1/11/2015) silam.
Klaim tersebut ditanggapi skeptis oleh berbagai pihak, terutama    Pemerintah Mesir yang menganggap ISIS tidak memiliki kemampuan untuk    menembak jatuh pesawat yang berada di ketinggian 31.000 kaki.
Masyarakat internasional diminta untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil penyelidikan yang tengah berlangsung.Sehari setelah klaim yang diumumkan ISIS, Kepala Komite  Penerbangan    Antarnegara Rusia, Victor Sorochenko, mengungkapkan dugaan  pesawat    Airbus A321 nahas itu telah hancur di udara sebelum jatuh ke  bumi.
Hal itu terlihat dari lokasi puing-puing pesawat yang tersebar di     lokasi seluas 20 hektare yang menunjukkan bagian-bagian itu tercerai     berai di udara. Dugaan ini memunculkan kemungkinan pesawat memang hancur     dihantam rudal yang memperkuat klaim yang dilontarkan ISIS.
Ledakan bom dari dalam pesawat juga disebut-sebut sebagai salah  satu    kemungkinan penyebab insiden tersebut. Dugaan itu muncul karena     otoritas Mesir menyatakan tidak adanya sinyal darurat dan panggilan     darurat (SOS) yang datang dari Metrojet 7K9268 yang menunjukkan     peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba.
Hasil penyelidikan kotak hitam pesawat yang berhasil ditemukan     menunjukkan ada suara aneh yang terdengar sesaat sebelum pesawat nahas     itu hilang dari radar menara kontrol bandara.Tim penyelidik gabungan yang dipimpin otoritas Mesir menduga  suara     tersebut merupakan ledakan bom. Meski begitu, pihak Rusia dan  Mesir     masih membantah dugaan bom sebagai penyebab jatuhnya pesawat.
Barulah pada 17 November 2015, Kepala Badan Keamanan Federal  Rusia,     Alexander Bortnikov, membenarkan bahwa insiden tersebut adalah   akibat    ledakan bom yang diletakkan di dalam pesawat.
&amp;ldquo;Kita dapat mengatakan bahwa jatuhnya pesawat itu karena  perbuatan     teroris. Dalam penerbangan, sebuah peledak buatan tangan  dengan     kekuatan 1,5 kilogramn Trinitoluena (TNT) diledakkan,&amp;rdquo; kata  Bortnikov,     Selasa (17 /11/2015).
Dua hari setelah pernyataan Bortnikov, ISIS kembali , mengklaim      pihaknya bertanggung jawab dengan menyebarkan sebuah foto kaleng jus dan      detonator yang mereka sebutkan, sebagai bahan pembuat bom yang      mengakibatkan jatuhnya pesawat.Setelah terungkapnya penyebab jatuhnya pesawat, Putin bersumpah       untuk membalas perbuatan para teroris ISIS. Dia bahkan menwarkan       sejumlah besar uang hadiah bagi siap saja yang dapat memberikan       informasi mengenai pelaku peledakan.
Peristiwa ini juga membuat keamanan bandara di Mesir, terutama di       Sharm el-Sheikh menjadi sorotan karena dinilai longgar sehingga  teroris      bisa dengan mudah meletakkan bom di dalam pesawat.
Sejumlah penyelidikan dan pemeriksaan terhadap keamanan bandara pun dilakukan dan mengungkap kebobrokan keamanan bandara.
Insiden ini dan peristiwa teror di Paris, Prancis menyebabkan       terjadi peningkatan ancaman bom terhadap penerbangan-penerbangan       maskapai internasional.
Tercatat ada tujuh pesawat  dari lima maskapai internasional yang       mendapatkan ancaman keamanan setelah terjadinya dua peristiwa  tersebut.</description><content:encoded>PADA 31 Oktober 2015, sebuah pesawat komersial Rusia milik Maskapai Metrojet Kogalymavia, tiba-tiba kehilangan kontak 23 menit setelah lepas landas dari Bandara Sharm el-Sheikh, Mesir, dalam penerbangan menuju St. Petersburg, Rusia.
Pesawat jenis Airbus A321 yang membawa 217 penumpang dan tujuh awak pesawat itu terakhir kali terpantau radar ATC (Air Traffic Control), saat melintasi wilayah Sinai di ketinggian 31.000 kaki atau sekira 9,4 kilometer.
Beberapa saat setelah hilangnya kontak tersebut, Pemerintah Mesir melalui Perdana Menteri (PM) Sharif Ismail mengabarkan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan 7K9268 itu telah jatuh di wilayah Sinai Tengah, Mesir.
&amp;ldquo;Sebuah pesawat sipil Rusia telah jatuh di Sinai Tengah, pesawat militer (Mesir) telah menemukan puing-puing pesawat,&amp;rdquo; demikian pernyataan dari PM Sharif, Sabtu (31/10/2105) lalu.Pernyataan ini sekaligus menjawab berbagai kabar simpang siur  mengenai nasib pesawat tersebut. Petugas keamanan Mesir yang dikerahkan  ke lokasi jatuhnya pesawat melaporkan telah menemukan jasad dari 120  penumpang yang tewas.
Setelah dilakukan upaya penyelamatan akhirnya mereka menyatakan  seluruh penumpang dan awak Pesawat Metrojet Kogalymavia Penerbangan  9268, tewas dalam insiden tersebut.
Tercatat 219 warga negara Rusia, empat orang warga Ukraina, dan  seorang warga Belarusia tewas dalam tragedi terburuk dalam sejarah  penerbangan Rusia dan Uni Soviet itu.
Segera setelahnya, pernyelidikan mengenai penyebab jatuhnya  pesawat segera dilakukan. Komite Investigasi Rusia bahkan dikabarkan  telah menyiapkan tuntutan terhadap maskapai Metrojet Kogalymavia atas  pelanggaran peraturan penerbangan.Pemerintah Mesir mengatakan masih terlalu dini untuk menyebutkan   penyebab jatuhnya pesawat. Peristiwa ini mengundang simpati dan reaksi    dari berbagai pihak, terutama dari Rusia yang 219 warganya menjadi   korban.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, segera menyampaikan rasa duka  cita  dan menetapkan 1 November 2015 sebagai hari berkabung nasional.  Rusia  juga memerintahkan Maskapai Kogalymavia untuk menghentikan seluruh   penerbangan pesawat tipe Airbus A321 milik mereka, hingga penyebab   jatuhnya pesawat berhasil diidentifikasi.
Ucapan belasungkawa juga datang dari pemimpin dunia lainnya,  seperti  PM Inggris, David Cameron dan PM Serbia, Aleksandar Vucic.  Pemerintah  Amerika Serikat (AS) juga menyampaikan rasa simpati mereka  melalui  Menteri Luar Negeri, John Kerry.
Namun, perkembangan mengejutkan muncul beberapa saat setelah   pengumuman tersebut, saat kelompok militan ISIS mengklaim bertanggung   jawab atas insiden terburuk dalam sejarah penerbangan Rusia itu.Melalui Twitter dan situs beritanya, Aamaq, ISIS mengaku telah menembak jatuh pesawat nahas tersebut.
&amp;ldquo;Para Pejuang ISIS mampu menembak jatuh pesawat Rusia yang  membawa   220 tentara salib Rusia di atas Provinsi Sinai. Mereka semua  tewas,   terima kasih kepada Tuhan,&amp;rdquo; demikian isi pernyataan ISIS melalui    Twitter pada Minggu, (1/11/2015) silam.
Klaim tersebut ditanggapi skeptis oleh berbagai pihak, terutama    Pemerintah Mesir yang menganggap ISIS tidak memiliki kemampuan untuk    menembak jatuh pesawat yang berada di ketinggian 31.000 kaki.
Masyarakat internasional diminta untuk tidak berspekulasi dan menunggu hasil penyelidikan yang tengah berlangsung.Sehari setelah klaim yang diumumkan ISIS, Kepala Komite  Penerbangan    Antarnegara Rusia, Victor Sorochenko, mengungkapkan dugaan  pesawat    Airbus A321 nahas itu telah hancur di udara sebelum jatuh ke  bumi.
Hal itu terlihat dari lokasi puing-puing pesawat yang tersebar di     lokasi seluas 20 hektare yang menunjukkan bagian-bagian itu tercerai     berai di udara. Dugaan ini memunculkan kemungkinan pesawat memang hancur     dihantam rudal yang memperkuat klaim yang dilontarkan ISIS.
Ledakan bom dari dalam pesawat juga disebut-sebut sebagai salah  satu    kemungkinan penyebab insiden tersebut. Dugaan itu muncul karena     otoritas Mesir menyatakan tidak adanya sinyal darurat dan panggilan     darurat (SOS) yang datang dari Metrojet 7K9268 yang menunjukkan     peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba.
Hasil penyelidikan kotak hitam pesawat yang berhasil ditemukan     menunjukkan ada suara aneh yang terdengar sesaat sebelum pesawat nahas     itu hilang dari radar menara kontrol bandara.Tim penyelidik gabungan yang dipimpin otoritas Mesir menduga  suara     tersebut merupakan ledakan bom. Meski begitu, pihak Rusia dan  Mesir     masih membantah dugaan bom sebagai penyebab jatuhnya pesawat.
Barulah pada 17 November 2015, Kepala Badan Keamanan Federal  Rusia,     Alexander Bortnikov, membenarkan bahwa insiden tersebut adalah   akibat    ledakan bom yang diletakkan di dalam pesawat.
&amp;ldquo;Kita dapat mengatakan bahwa jatuhnya pesawat itu karena  perbuatan     teroris. Dalam penerbangan, sebuah peledak buatan tangan  dengan     kekuatan 1,5 kilogramn Trinitoluena (TNT) diledakkan,&amp;rdquo; kata  Bortnikov,     Selasa (17 /11/2015).
Dua hari setelah pernyataan Bortnikov, ISIS kembali , mengklaim      pihaknya bertanggung jawab dengan menyebarkan sebuah foto kaleng jus dan      detonator yang mereka sebutkan, sebagai bahan pembuat bom yang      mengakibatkan jatuhnya pesawat.Setelah terungkapnya penyebab jatuhnya pesawat, Putin bersumpah       untuk membalas perbuatan para teroris ISIS. Dia bahkan menwarkan       sejumlah besar uang hadiah bagi siap saja yang dapat memberikan       informasi mengenai pelaku peledakan.
Peristiwa ini juga membuat keamanan bandara di Mesir, terutama di       Sharm el-Sheikh menjadi sorotan karena dinilai longgar sehingga  teroris      bisa dengan mudah meletakkan bom di dalam pesawat.
Sejumlah penyelidikan dan pemeriksaan terhadap keamanan bandara pun dilakukan dan mengungkap kebobrokan keamanan bandara.
Insiden ini dan peristiwa teror di Paris, Prancis menyebabkan       terjadi peningkatan ancaman bom terhadap penerbangan-penerbangan       maskapai internasional.
Tercatat ada tujuh pesawat  dari lima maskapai internasional yang       mendapatkan ancaman keamanan setelah terjadinya dua peristiwa  tersebut.</content:encoded></item></channel></rss>
