<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>  Jaringan Korupsi seperti Jaring Laba-Laba</title><description>Peneliti Senior dan Ahli Hukum Tata Negara Bivitri Susanti menganggap korupsi seperti jaring laba-laba.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/12/337/1266131/jaringan-korupsi-seperti-jaring-laba-laba</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/12/337/1266131/jaringan-korupsi-seperti-jaring-laba-laba"/><item><title>  Jaringan Korupsi seperti Jaring Laba-Laba</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/12/337/1266131/jaringan-korupsi-seperti-jaring-laba-laba</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/12/337/1266131/jaringan-korupsi-seperti-jaring-laba-laba</guid><pubDate>Sabtu 12 Desember 2015 13:10 WIB</pubDate><dc:creator>Dara Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/12/337/1266131/jaringan-korupsi-seperti-jaring-laba-laba-HAiDRTxXhk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Illustrasi Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/12/337/1266131/jaringan-korupsi-seperti-jaring-laba-laba-HAiDRTxXhk.jpg</image><title>Foto: Illustrasi Okezone</title></images><description>


JAKARTA - Peneliti Senior dan Ahli Hukum Tata Negara Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Bivitri Susanti menganggap korupsi seperti jaring laba-laba, yang tidak bisa ditentukan mana yang hulu, dan mana yang hilirnya.

&quot;Dalam jaringan (korupsi) itu bayangkan jaringan laba-laba tidak bisa dibedakan juga, jaringan mana yang hulu dan hilir. Mereka saling berkelit aja gitu,&quot; kata Bivitri kepada wartawan di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/12/2015).

&quot;KPK menurut saya harus berani menjatuhkan satu dari jaringan besar ini. Kalau bisa yang diatas, yang dibawah-bawah kadang mereka masuk dalam jaringan bukan karena kesengajaan,&quot; sambungnya.

Bivitri menegaskan, KPK harus mengincar aktor paling besar (kelas kakap) dengan alat bukti yang kuat sehingga bisa ditangkap jaringannya yang  berantai hingga ke bawah.

&quot;Saya khawatir kalau yang kena hanya di bawah kaki tangan, yang diatas akan bertahan terus. Sulit dikatakan mana hulu dan hilir karena ini seperti jaringan laba-laba yang berkaitan. Yang kakap yang harus ditangkap,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>


JAKARTA - Peneliti Senior dan Ahli Hukum Tata Negara Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Bivitri Susanti menganggap korupsi seperti jaring laba-laba, yang tidak bisa ditentukan mana yang hulu, dan mana yang hilirnya.

&quot;Dalam jaringan (korupsi) itu bayangkan jaringan laba-laba tidak bisa dibedakan juga, jaringan mana yang hulu dan hilir. Mereka saling berkelit aja gitu,&quot; kata Bivitri kepada wartawan di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/12/2015).

&quot;KPK menurut saya harus berani menjatuhkan satu dari jaringan besar ini. Kalau bisa yang diatas, yang dibawah-bawah kadang mereka masuk dalam jaringan bukan karena kesengajaan,&quot; sambungnya.

Bivitri menegaskan, KPK harus mengincar aktor paling besar (kelas kakap) dengan alat bukti yang kuat sehingga bisa ditangkap jaringannya yang  berantai hingga ke bawah.

&quot;Saya khawatir kalau yang kena hanya di bawah kaki tangan, yang diatas akan bertahan terus. Sulit dikatakan mana hulu dan hilir karena ini seperti jaringan laba-laba yang berkaitan. Yang kakap yang harus ditangkap,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
