<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Yaman-Houti Setuju Gencatan Senjata Selama Seminggu</title><description>Pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houthi dijadwalkan melakukan gencatan senjata mulai malam ini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/15/18/1267956/yaman-houti-setuju-gencatan-senjata-selama-seminggu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/15/18/1267956/yaman-houti-setuju-gencatan-senjata-selama-seminggu"/><item><title>Yaman-Houti Setuju Gencatan Senjata Selama Seminggu</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/15/18/1267956/yaman-houti-setuju-gencatan-senjata-selama-seminggu</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/15/18/1267956/yaman-houti-setuju-gencatan-senjata-selama-seminggu</guid><pubDate>Selasa 15 Desember 2015 15:37 WIB</pubDate><dc:creator>Silviana Dharma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/15/18/1267956/yaman-houti-setuju-gencatan-senjata-selama-seminggu-2S3JmmsO8K.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Koalisi Saudi tuntut pemberontak patuhi gencatan senjata. (Foto: BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/15/18/1267956/yaman-houti-setuju-gencatan-senjata-selama-seminggu-2S3JmmsO8K.jpg</image><title>Koalisi Saudi tuntut pemberontak patuhi gencatan senjata. (Foto: BBC)</title></images><description>SANA&amp;rsquo;A &amp;ndash; Pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houthi dijadwalkan melakukan gencatan senjata mulai malam ini, Selasa (15/12/2015) pukul 21.00 GMT sampai Senin, 21 Desember 2015.
Gencatan senjata ini merupakan hasil perundingan damai yang dimediasi PBB di Jenewa Swiss beberapa bulan yang lalu.
Terkait gencatan senjata ini, Pemerintah Arab Saudi menyatakan, tidak akan segan-segan menindak pemberontak yang melanggar kesepakatan tersebut.
Dilansir BBC, Selasa (15/12/2015), gencatan senjata ini diberlakukan setelah komandan militer Saudi dan seorang perwira Emirat dilaporkan telah tewas bersama dengan sejumlah militer Teluk Arab, Yaman dan Sudan kemarin, Senin, 14 Desember 2015. Diduga mereka terbunuh oleh rudal yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi di Provinsi Taiz.
Seperti diketahui, konflik Yaman dan pemberontak telah bergulir sejak Arab Spring pada 2010. Bermula dari ketidakpuasan warga Timur Tengah atas pemerintahan di Arab yang bersifat diktator. Negara-negara Arab pun berlomba-lomba menggulingkan presiden mereka.
Di Yaman, masyararakat protes di jalan, menuntut Presiden Yaman saat itu, Ali Abdullah Saleh untuk mundur dari jabatannya.  Protes-protes yang terjadi menimbulkan banyak korban jiwa, yakni mencapai 2.000 orang lebih.
Sebulan kemudian, Presiden Abdullah turun, digantikan Wakilnya, Abd Rabbo Mansour Hadi. Penunjukan Hadi sebagai Presiden Yaman langsung mendapat reaksi keras dari AQAP yang menuduhnya antek Amerika Serikat (AS).
Ketidakstabilan politik yang terjadi di Yaman inilah yang menjadi celah bagi kelompok pemberontak Houthi yang beraliran Syiah untuk coba merebut kekuasaan dari pemerintah.
Mansour Hadi sempat mundur dari jabatannya ketika pemberontakan terus memuncak di negaranya. Kekuasaan di Yaman kosong dan Houthi mencoba mengusung pemimpin baru. Namun, warga Saana sendiri menolak pembentukan kekuasaan baru tersebut. Negara-negara sahabat bahkan menutup kedutaan-kedutaan besar Yaman.
Pada 2015, Hadi bersedia mencabut pengunduran dirinya dan kembali menduduki kursi kepresidenan di Yaman. Namun begitu, pemberontakan terus bergejolak.
Yaman kemudian dibantu Arab Saudi memerangi pemberontak Houthi dan sekutunya. Sedikitnya, 6.000 orang telah tewas akibat perang saudara ini, hampir setengah dari mereka adalah warga sipil.</description><content:encoded>SANA&amp;rsquo;A &amp;ndash; Pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak Houthi dijadwalkan melakukan gencatan senjata mulai malam ini, Selasa (15/12/2015) pukul 21.00 GMT sampai Senin, 21 Desember 2015.
Gencatan senjata ini merupakan hasil perundingan damai yang dimediasi PBB di Jenewa Swiss beberapa bulan yang lalu.
Terkait gencatan senjata ini, Pemerintah Arab Saudi menyatakan, tidak akan segan-segan menindak pemberontak yang melanggar kesepakatan tersebut.
Dilansir BBC, Selasa (15/12/2015), gencatan senjata ini diberlakukan setelah komandan militer Saudi dan seorang perwira Emirat dilaporkan telah tewas bersama dengan sejumlah militer Teluk Arab, Yaman dan Sudan kemarin, Senin, 14 Desember 2015. Diduga mereka terbunuh oleh rudal yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi di Provinsi Taiz.
Seperti diketahui, konflik Yaman dan pemberontak telah bergulir sejak Arab Spring pada 2010. Bermula dari ketidakpuasan warga Timur Tengah atas pemerintahan di Arab yang bersifat diktator. Negara-negara Arab pun berlomba-lomba menggulingkan presiden mereka.
Di Yaman, masyararakat protes di jalan, menuntut Presiden Yaman saat itu, Ali Abdullah Saleh untuk mundur dari jabatannya.  Protes-protes yang terjadi menimbulkan banyak korban jiwa, yakni mencapai 2.000 orang lebih.
Sebulan kemudian, Presiden Abdullah turun, digantikan Wakilnya, Abd Rabbo Mansour Hadi. Penunjukan Hadi sebagai Presiden Yaman langsung mendapat reaksi keras dari AQAP yang menuduhnya antek Amerika Serikat (AS).
Ketidakstabilan politik yang terjadi di Yaman inilah yang menjadi celah bagi kelompok pemberontak Houthi yang beraliran Syiah untuk coba merebut kekuasaan dari pemerintah.
Mansour Hadi sempat mundur dari jabatannya ketika pemberontakan terus memuncak di negaranya. Kekuasaan di Yaman kosong dan Houthi mencoba mengusung pemimpin baru. Namun, warga Saana sendiri menolak pembentukan kekuasaan baru tersebut. Negara-negara sahabat bahkan menutup kedutaan-kedutaan besar Yaman.
Pada 2015, Hadi bersedia mencabut pengunduran dirinya dan kembali menduduki kursi kepresidenan di Yaman. Namun begitu, pemberontakan terus bergejolak.
Yaman kemudian dibantu Arab Saudi memerangi pemberontak Houthi dan sekutunya. Sedikitnya, 6.000 orang telah tewas akibat perang saudara ini, hampir setengah dari mereka adalah warga sipil.</content:encoded></item></channel></rss>
