<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menghilang Sejak 1982, Ini Jejak Jalur Kereta Api Madiun-Ponorogo</title><description>Sebagian besar rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo yang terakhir digunakan pada tahun 1982  telah terkubur.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/18/519/1270263/menghilang-sejak-1982-ini-jejak-jalur-kereta-api-madiun-ponorogo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/18/519/1270263/menghilang-sejak-1982-ini-jejak-jalur-kereta-api-madiun-ponorogo"/><item><title>Menghilang Sejak 1982, Ini Jejak Jalur Kereta Api Madiun-Ponorogo</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/18/519/1270263/menghilang-sejak-1982-ini-jejak-jalur-kereta-api-madiun-ponorogo</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/18/519/1270263/menghilang-sejak-1982-ini-jejak-jalur-kereta-api-madiun-ponorogo</guid><pubDate>Jum'at 18 Desember 2015 11:34 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/18/519/1270263/menghilang-sejak-1982-ini-jejak-jalur-kereta-api-madiun-ponorogo-gea2rmntOT.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Di wilayah ini pada 1982 tertanam jalur rel kereta api jurusan Madiun-Ponorogo, sekarang tertimbun halte (foto: Madiunpos)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/18/519/1270263/menghilang-sejak-1982-ini-jejak-jalur-kereta-api-madiun-ponorogo-gea2rmntOT.jpg</image><title>Di wilayah ini pada 1982 tertanam jalur rel kereta api jurusan Madiun-Ponorogo, sekarang tertimbun halte (foto: Madiunpos)</title></images><description>MADIUN &amp;ndash; Sebagian besar rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur (Jatim) yang terakhir digunakan pada tahun 1982 telah terkubur bangunan permukiman. Namun jalur besi yang sudah menjadi sejarah Madiun itu bisa kembali hidup jika sewaktu-waktu Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghendaki.
Berdasarkan penelusuran Madiunpos.com atas sejarah Madiun itu,  bekas rel percabangan jalur menuju Ponorogo di timur Stasiun Besar Madiun masih dalam kondisi baik. Namun, tidak terlalu jauh, tepatnya di ujung Jl. Ploso, Kelurahan Oro-oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, rel tidak lagi bisa terlihat karena telah tertimbun aspal dan permukiman warga.
Salah seorang warga RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-oro Ombo, Tomo, 52, mengatakan bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo dari arah Stasiun Besar Madiun tidak lagi bisa terlihat mulai dari bangunan Pos Kamling RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-Oro Ombo. Menurut dia, bekas rel yang sudah jadi sejarah Madiun itu mulai ditindih dengan tanah atau bangunan rumah sejak 20 tahun silam.
Halte Kota
Seorang warga RW 006 Kelurahan Oro-oro Ombo, Endro Winarto, 60, mengonfirmasi Halte Kota jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo berada di Jl. Pudak yang bangunannya saat ini telah menjadi gudang milik sebuah CV. Menurut dia, bangunan Halte Kota tersebut telah mengalami perubahan drastis sejak dimanfaatkan masyarakat atau pihak tertentu.
&amp;ldquo;Dulu saya sering naik kereta ke Ponorogo lewat sini [Halte Kota]. Sudah lama tidak digunakan lalu berubah fungsi menjadi gudang. Bangunannya [Halte Kota] tentu sudah berubah. Di belakang [Halte Kota] malah sekarang sudah dibangun rumah-rumah baru. Rel kereta api yang keluar dari Halte Kota sudah tidak bisa dilihat,&amp;rdquo; jelas Endro.
Tidak jauh dari bangunan yang dikabarkan pernah menjadi Halte Kota, sebagian rel bekas jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo kembali bisa dilihat, yakni muncul di badan Jl. Diponegoro masuk ke Jl. Halmahera, Kelurahan Oro-oro Ombo. Namun, bekas rel lagi bisa ditemukan di sepanjang Jl. Halmahera yang tekah dipenuhi rumah penduduk. Hanya sedikit rel kembali tampak di seberang rumah pencipta lagu Hymne Guru, Alm. Sartono di ujung Jl. Halmahera.
Halte Patoman
Setelah mengikuti jalur ke arah selatan hingga simpang empat Jaitan  atau Tugu Jeruk, bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo  kembali terpantau. Jalur rel tersebut berbelok ke arah barat masuk Jl.  Jenderal Sudirman. Berdasarkan peta Madiun tahun 1918, terdapat Halte  Patoman di sisi utara Jl. Jenderal Sudirman tidak jauh dari Tugu Jeruk,  tetapi sudah tidak tampak bekasnya.
Nasib serupa Halte Patoman menimpa pula Halte Prapatan yang telah  berubah menjadi bangunan pertokoan di sekitar toko oleh-oleh Mirasa.  Bukan hanya bangunan halte, bekas rel jalur kereta api jurusan  Madiun-Ponorogo di Jl. Jenderal Sudirman itu telah menyatu dengan jalan  raya. Keberadaan bekas rel kereta api berada agak di tengah Jl. Jenderal  Sudirman.
Kembali menyaksikan peta Madiun tahun 1917, rel jalur kereta api  bercabang menjadi dua saat akan memasuki Alun-Alun Kota Madiun. Rel  jelur kereta api pertama lurus hingga ke arah Kauman, sedangkan yang   kedua berbelok ke selatan menuju Jl. Agus Salim. Bekas jalur yang menuju  ke Kauman diprediksi menuju ke gudang karena tidak adanya bekas halte  yang ditertera di peta.
Sementara itu, rel jalur kereta api yang menuju Pasar Besar Madiun  juga tidak lagi tampak bekasnya. Berdasarkan peta Madiun tahun 1917,  lokasi Halte Pasar Besar atau dulu disebut Halte Passar Besar tersebut  berada di selatan bangunan pasar dan di utara lokasi kediaman Letnan  Cina yang saat ini telah berubah menjadi Kantor Perpustakaan Umum dan  Arsip Daerah Kota Madiun.Stasiun Sleko
Bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo sulit terpantau   setelah dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun karena   telah terdesak oleh bangunan-bangunan permanen. Berdasarkan informasi   yang diperolehMadiunpos.com, rel jalur kereta api dari Kantor   Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun terus lurus hingga melewati   sekitar Pasar Sleko, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman.
Pengayuh becak di Pasar Sleko, Sayeran, 50, menyebut bangunan rumah   makan dan karaoke Kiss di sebelarng Pasar Sleko atau Jl. Trunojoyo   merupakan bekas Stasiun Sleko. Laki-laki kelahiran Kelurahan Nambangan   Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, tersebut mengaku pernah naik   kereta api semasa anak-anak dari Stasiun Sleko.
&amp;ldquo;Bangunan Stasiun Sleko sekarang sudah tidak ada, berubah menjadi   pertokoan bertingkat seperti ini. Sayang sekali kan? Banunan pertokoan   ini sekarang malah sudah tidak lagi digunakan. Pengusaha rumah makan dan   karaoke ceritanya mengalami bangkrut,&amp;rdquo; kata Sayeran kepada   Madiunpos.comdi sekitar Pasar Sleko, Minggu siang.
Rawan Kecelakaan?
Sementara itu, pengelola laman Dolanwae.wordpress.com yang memuat   banyak hal terkait sejarah kereta api Indonesia, Tinthony Rizan Ghani,   menilai bekas jalur rel di tengah Kota Madiun telah lenyap karena   tertimbun aspal jalan yang disebabkan proyek pelebaran jalan. Selain   itu, lanjut dia, rel jalur kereta yang berada di pinggir atau sedikit   lebih ke tengah jalan tergusur atau dimatikan karena dianggap sebagai   penyebab kemacetan dan rawan kecelakaan.
&amp;ldquo;Untuk bekas halte sendiri kemungkinan telah hilang jauh sebelum   jalur ini mati, karena pada foto tahun 70-an yang sempat saya lihat   menunjukkan bahwa jalur tersebut memang sudah penuh dengan bangunan   pertokoan, sehingga tidak mudah bangunan sekelas halte dipertahankan   untuk hidup,&amp;rdquo; terang Tinthony Rizan Ghani yang gemar melacak sejarah   Madiun itu.</description><content:encoded>MADIUN &amp;ndash; Sebagian besar rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur (Jatim) yang terakhir digunakan pada tahun 1982 telah terkubur bangunan permukiman. Namun jalur besi yang sudah menjadi sejarah Madiun itu bisa kembali hidup jika sewaktu-waktu Direktorat Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghendaki.
Berdasarkan penelusuran Madiunpos.com atas sejarah Madiun itu,  bekas rel percabangan jalur menuju Ponorogo di timur Stasiun Besar Madiun masih dalam kondisi baik. Namun, tidak terlalu jauh, tepatnya di ujung Jl. Ploso, Kelurahan Oro-oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, rel tidak lagi bisa terlihat karena telah tertimbun aspal dan permukiman warga.
Salah seorang warga RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-oro Ombo, Tomo, 52, mengatakan bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo dari arah Stasiun Besar Madiun tidak lagi bisa terlihat mulai dari bangunan Pos Kamling RT 009/RW 002 Kelurahan Oro-Oro Ombo. Menurut dia, bekas rel yang sudah jadi sejarah Madiun itu mulai ditindih dengan tanah atau bangunan rumah sejak 20 tahun silam.
Halte Kota
Seorang warga RW 006 Kelurahan Oro-oro Ombo, Endro Winarto, 60, mengonfirmasi Halte Kota jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo berada di Jl. Pudak yang bangunannya saat ini telah menjadi gudang milik sebuah CV. Menurut dia, bangunan Halte Kota tersebut telah mengalami perubahan drastis sejak dimanfaatkan masyarakat atau pihak tertentu.
&amp;ldquo;Dulu saya sering naik kereta ke Ponorogo lewat sini [Halte Kota]. Sudah lama tidak digunakan lalu berubah fungsi menjadi gudang. Bangunannya [Halte Kota] tentu sudah berubah. Di belakang [Halte Kota] malah sekarang sudah dibangun rumah-rumah baru. Rel kereta api yang keluar dari Halte Kota sudah tidak bisa dilihat,&amp;rdquo; jelas Endro.
Tidak jauh dari bangunan yang dikabarkan pernah menjadi Halte Kota, sebagian rel bekas jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo kembali bisa dilihat, yakni muncul di badan Jl. Diponegoro masuk ke Jl. Halmahera, Kelurahan Oro-oro Ombo. Namun, bekas rel lagi bisa ditemukan di sepanjang Jl. Halmahera yang tekah dipenuhi rumah penduduk. Hanya sedikit rel kembali tampak di seberang rumah pencipta lagu Hymne Guru, Alm. Sartono di ujung Jl. Halmahera.
Halte Patoman
Setelah mengikuti jalur ke arah selatan hingga simpang empat Jaitan  atau Tugu Jeruk, bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo  kembali terpantau. Jalur rel tersebut berbelok ke arah barat masuk Jl.  Jenderal Sudirman. Berdasarkan peta Madiun tahun 1918, terdapat Halte  Patoman di sisi utara Jl. Jenderal Sudirman tidak jauh dari Tugu Jeruk,  tetapi sudah tidak tampak bekasnya.
Nasib serupa Halte Patoman menimpa pula Halte Prapatan yang telah  berubah menjadi bangunan pertokoan di sekitar toko oleh-oleh Mirasa.  Bukan hanya bangunan halte, bekas rel jalur kereta api jurusan  Madiun-Ponorogo di Jl. Jenderal Sudirman itu telah menyatu dengan jalan  raya. Keberadaan bekas rel kereta api berada agak di tengah Jl. Jenderal  Sudirman.
Kembali menyaksikan peta Madiun tahun 1917, rel jalur kereta api  bercabang menjadi dua saat akan memasuki Alun-Alun Kota Madiun. Rel  jelur kereta api pertama lurus hingga ke arah Kauman, sedangkan yang   kedua berbelok ke selatan menuju Jl. Agus Salim. Bekas jalur yang menuju  ke Kauman diprediksi menuju ke gudang karena tidak adanya bekas halte  yang ditertera di peta.
Sementara itu, rel jalur kereta api yang menuju Pasar Besar Madiun  juga tidak lagi tampak bekasnya. Berdasarkan peta Madiun tahun 1917,  lokasi Halte Pasar Besar atau dulu disebut Halte Passar Besar tersebut  berada di selatan bangunan pasar dan di utara lokasi kediaman Letnan  Cina yang saat ini telah berubah menjadi Kantor Perpustakaan Umum dan  Arsip Daerah Kota Madiun.Stasiun Sleko
Bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo sulit terpantau   setelah dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun karena   telah terdesak oleh bangunan-bangunan permanen. Berdasarkan informasi   yang diperolehMadiunpos.com, rel jalur kereta api dari Kantor   Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun terus lurus hingga melewati   sekitar Pasar Sleko, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman.
Pengayuh becak di Pasar Sleko, Sayeran, 50, menyebut bangunan rumah   makan dan karaoke Kiss di sebelarng Pasar Sleko atau Jl. Trunojoyo   merupakan bekas Stasiun Sleko. Laki-laki kelahiran Kelurahan Nambangan   Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, tersebut mengaku pernah naik   kereta api semasa anak-anak dari Stasiun Sleko.
&amp;ldquo;Bangunan Stasiun Sleko sekarang sudah tidak ada, berubah menjadi   pertokoan bertingkat seperti ini. Sayang sekali kan? Banunan pertokoan   ini sekarang malah sudah tidak lagi digunakan. Pengusaha rumah makan dan   karaoke ceritanya mengalami bangkrut,&amp;rdquo; kata Sayeran kepada   Madiunpos.comdi sekitar Pasar Sleko, Minggu siang.
Rawan Kecelakaan?
Sementara itu, pengelola laman Dolanwae.wordpress.com yang memuat   banyak hal terkait sejarah kereta api Indonesia, Tinthony Rizan Ghani,   menilai bekas jalur rel di tengah Kota Madiun telah lenyap karena   tertimbun aspal jalan yang disebabkan proyek pelebaran jalan. Selain   itu, lanjut dia, rel jalur kereta yang berada di pinggir atau sedikit   lebih ke tengah jalan tergusur atau dimatikan karena dianggap sebagai   penyebab kemacetan dan rawan kecelakaan.
&amp;ldquo;Untuk bekas halte sendiri kemungkinan telah hilang jauh sebelum   jalur ini mati, karena pada foto tahun 70-an yang sempat saya lihat   menunjukkan bahwa jalur tersebut memang sudah penuh dengan bangunan   pertokoan, sehingga tidak mudah bangunan sekelas halte dipertahankan   untuk hidup,&amp;rdquo; terang Tinthony Rizan Ghani yang gemar melacak sejarah   Madiun itu.</content:encoded></item></channel></rss>
