<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Syarifah Melawan Terjangan Tsunami saat Berbadan Dua</title><description>Cerita Syarifah yang berhasil lolos dari ganasnya terjangan tsunami di Aceh, 11 tahun lalu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/27/340/1275342/cerita-syarifah-melawan-terjangan-tsunami-saat-berbadan-dua</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2015/12/27/340/1275342/cerita-syarifah-melawan-terjangan-tsunami-saat-berbadan-dua"/><item><title>Cerita Syarifah Melawan Terjangan Tsunami saat Berbadan Dua</title><link>https://news.okezone.com/read/2015/12/27/340/1275342/cerita-syarifah-melawan-terjangan-tsunami-saat-berbadan-dua</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2015/12/27/340/1275342/cerita-syarifah-melawan-terjangan-tsunami-saat-berbadan-dua</guid><pubDate>Minggu 27 Desember 2015 05:53 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2015/12/27/340/1275342/cerita-syarifah-melawan-terjangan-tsunami-saat-berbadan-dua-4CdyO7wGbv.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2015/12/27/340/1275342/cerita-syarifah-melawan-terjangan-tsunami-saat-berbadan-dua-4CdyO7wGbv.jpg</image><title></title></images><description>BANDA ACEH &amp;ndash; Masih segar di ingatan Syarifah Nargis akan peristiwa tragis 11 tahun lalu, saat laut mengamuk menerjang pesisir Aceh. Kakak dan dua keponakannya jadi korban, dia sendiri selamat setelah berjuang dengan maut.
Minggu pagi, 26 Desember 2004, Syarifah berkumpul di rumah  keluarganya di Gampong Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.
Gempa 9,2 skala richter mengguncang, mereka berhamburan keluar. Beberapa menit kemudian gempa reda dan mereka sekeluarga kembali masuk ke dalam rumah. Namun tiba-tiba teriakan air laut naik bersahutan dan orang-orang berlarian terdengar, kepanikan kembali melanda.
&amp;ldquo;Lihat orang berlarian, kita juga pengen lari. Tapi tidak tahu mau lari kemana,&amp;rdquo; kenang guru SMP Negeri 1 Banda Aceh usai mengikuti latihan simulasi mitigasi tsunami beberapa waktu lalu.

Belum sempat keluar menyelamatkan diri, lidah air sudah sampai ke rumahnya yang terpaut 1,5 kilometer dari bibir pantai. Gelombang tsunami kemudian menggulung dan menyeret tubuhnya yang sedang hamil tua ke ruangan dapur.
Dia sempat terjepit dalam air, namun sebuah kotak kue menopang perutnya dan mengangkat tubuhnya ke atas hingga kepalanya tertahan di platfon rumah.
Jarak air dengan platfon hanya sejengkal dan di antara itulah Syarifah terus berupaya bernafas sambil bermunajat kepada Allah. Selanjutnya dia tak tahu apa yang sedang terjadi karena keadaan tiba-tiba menjadi gelap.
&amp;ldquo;Kita pikir memang sudah kiamat,&amp;rdquo; ingatnya.
Setelah air surut, dia baru sadar bahwa rumahnya sudah lenyap disapu   gelombang bersama seisi kampung. Yang tersisa hanya dapur tempat ia   terjebak. Keadaan sekelilingnyat tak ubah seperti korban pembantaian.   Mayat bergelimpangan di mana-mana, di antara tumpukan sampah-sampah   tsunami.
Hanya dalam hitungan detik, tsunami telah menghancurkan 800 kilometer   pesisir Aceh atau setara panjangnya Jakarta hingga Surabaya, menelan   beberapa pemukiman. Bukan hanya Aceh, pesisir 14 negera sekitar Samudera   Hindia juga terkena dampak. Lebih 200 ribu nyawa melayang.

Syarifah ikut kehilangan tiga dari empat anggota keluarga yang   tinggal di rumahnya. Kakak dan dua keponakannya jadi korban. Suami,   anak, serta ibunya selamat. Ia sendiri sempat tidak percaya masih bisa   hidup. &amp;ldquo;Allah masih memberi kesempatan kepada saya,&amp;rdquo; katanya.
Tiga hari usai tsunami ia diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat   Hercules TNI. Keluarganya di kampung mengira Syarifah, suami dan anaknya   telah tiada. Mereka sempat menggelar keduri dan samadiah, ritual adat   di Aceh untuk mengenang arwah.
Dinas Pendidikan, tempat instansi Syarifah bekerja juga sudah   memasukkan namanya dalam daftar pegawai-pegawai yang meninggal dalam   tsunami.
Tiga pekan di Jakarta, Syarifah melahirkan anak keduanya. Empat bulan   kemudian dia kembali ke Aceh dengan pikiran yang masih trauma. &amp;ldquo;Kalau   ke Banda Aceh rasanya airnya naik lagi gitu,&amp;rdquo; tuturnya.
Dia lalu memilih tinggal sementara di Montasik, Aceh Besar, sekira 19   kilometer dari Banda Aceh, sambil melatih pemulihan psikologis.  &amp;ldquo;Trauma  tidak bisa dihilangkan secara begitu saja,&amp;rdquo; ungkapnya.
Selain lewat sentuhan keagamaan, Syarifah juga banyak melibatkan diri   dalam kegiatan-kegiatan pelatihan kebencanaan untuk pemulihan.  Baginya,  terlibat dalam latihan simulasi mitigasi bencana adalah cara  ampuh  untuk menghilangkan trauma.
Awalnya, kata dia, ada beberapa guru yang menangis bahkan pingsan   ketika mengikuti latihan. Namun lama kelamaan rasa trauma guru-guru yang   pernah jadi korban tsunami itu bisa terkendali.
Bahkan dalam simulasi terakhir 17 Desember lalu, tak ada lagi guru   yang menangis. Mereka leluasa mengarahkan siswa-siswa bagaimana cara   menyelamatkan diri setelah gempa besar disusul tsunami, dengan berlari   ke daerah yang lebih tinggi.
Syarifah mengatakan, penting bagi masyarakat untuk belajar tentang   bencana dan cara menghindarinya. Tsunami 11 tahun lalu, kata dia, banyak   menelan korban karena minimnya pemahaman masyarakat tentang tsunami.  (day)Setelah air surut, dia baru sadar bahwa rumahnya sudah lenyap disapu  gelombang bersama seisi kampung. Yang tersisa hanya dapur tempat ia  terjebak. Keadaan sekelilingnyat tak ubah seperti korban pembantaian.  Mayat bergelimpangan di mana-mana, di antara tumpukan sampah-sampah  tsunami.
Hanya dalam hitungan detik, tsunami telah menghancurkan 800 kilometer  pesisir Aceh atau setara panjangnya Jakarta hingga Surabaya, menelan  beberapa pemukiman. Bukan hanya Aceh, pesisir 14 negera sekitar Samudera  Hindia juga terkena dampak. Lebih 200 ribu nyawa melayang.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2015/12/12/22442/140291_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sisa Kedahsyatan Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Syarifah ikut kehilangan tiga dari empat anggota keluarga yang  tinggal di rumahnya. Kakak dan dua keponakannya jadi korban. Suami,  anak, serta ibunya selamat. Ia sendiri sempat tidak percaya masih bisa  hidup. &amp;ldquo;Allah masih memberi kesempatan kepada saya,&amp;rdquo; katanya.
Tiga hari usai tsunami ia diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat  Hercules TNI. Keluarganya di kampung mengira Syarifah, suami dan anaknya  telah tiada. Mereka sempat menggelar keduri dan samadiah, ritual adat  di Aceh untuk mengenang arwah.
Dinas Pendidikan, tempat instansi Syarifah bekerja juga sudah  memasukkan namanya dalam daftar pegawai-pegawai yang meninggal dalam  tsunami.
Tiga pekan di Jakarta, Syarifah melahirkan anak keduanya. Empat bulan  kemudian dia kembali ke Aceh dengan pikiran yang masih trauma. &amp;ldquo;Kalau  ke Banda Aceh rasanya airnya naik lagi gitu,&amp;rdquo; tuturnya.
Dia lalu memilih tinggal sementara di Montasik, Aceh Besar, sekira 19  kilometer dari Banda Aceh, sambil melatih pemulihan psikologis. &amp;ldquo;Trauma  tidak bisa dihilangkan secara begitu saja,&amp;rdquo; ungkapnya.
Selain lewat sentuhan keagamaan, Syarifah juga banyak melibatkan diri  dalam kegiatan-kegiatan pelatihan kebencanaan untuk pemulihan. Baginya,  terlibat dalam latihan simulasi mitigasi bencana adalah cara ampuh  untuk menghilangkan trauma.
Awalnya, kata dia, ada beberapa guru yang menangis bahkan pingsan  ketika mengikuti latihan. Namun lama kelamaan rasa trauma guru-guru yang  pernah jadi korban tsunami itu bisa terkendali.
Bahkan dalam simulasi terakhir 17 Desember lalu, tak ada lagi guru  yang menangis. Mereka leluasa mengarahkan siswa-siswa bagaimana cara  menyelamatkan diri setelah gempa besar disusul tsunami, dengan berlari  ke daerah yang lebih tinggi.
Syarifah mengatakan, penting bagi masyarakat untuk belajar tentang  bencana dan cara menghindarinya. Tsunami 11 tahun lalu, kata dia, banyak  menelan korban karena minimnya pemahaman masyarakat tentang tsunami.  (day)</description><content:encoded>BANDA ACEH &amp;ndash; Masih segar di ingatan Syarifah Nargis akan peristiwa tragis 11 tahun lalu, saat laut mengamuk menerjang pesisir Aceh. Kakak dan dua keponakannya jadi korban, dia sendiri selamat setelah berjuang dengan maut.
Minggu pagi, 26 Desember 2004, Syarifah berkumpul di rumah  keluarganya di Gampong Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.
Gempa 9,2 skala richter mengguncang, mereka berhamburan keluar. Beberapa menit kemudian gempa reda dan mereka sekeluarga kembali masuk ke dalam rumah. Namun tiba-tiba teriakan air laut naik bersahutan dan orang-orang berlarian terdengar, kepanikan kembali melanda.
&amp;ldquo;Lihat orang berlarian, kita juga pengen lari. Tapi tidak tahu mau lari kemana,&amp;rdquo; kenang guru SMP Negeri 1 Banda Aceh usai mengikuti latihan simulasi mitigasi tsunami beberapa waktu lalu.

Belum sempat keluar menyelamatkan diri, lidah air sudah sampai ke rumahnya yang terpaut 1,5 kilometer dari bibir pantai. Gelombang tsunami kemudian menggulung dan menyeret tubuhnya yang sedang hamil tua ke ruangan dapur.
Dia sempat terjepit dalam air, namun sebuah kotak kue menopang perutnya dan mengangkat tubuhnya ke atas hingga kepalanya tertahan di platfon rumah.
Jarak air dengan platfon hanya sejengkal dan di antara itulah Syarifah terus berupaya bernafas sambil bermunajat kepada Allah. Selanjutnya dia tak tahu apa yang sedang terjadi karena keadaan tiba-tiba menjadi gelap.
&amp;ldquo;Kita pikir memang sudah kiamat,&amp;rdquo; ingatnya.
Setelah air surut, dia baru sadar bahwa rumahnya sudah lenyap disapu   gelombang bersama seisi kampung. Yang tersisa hanya dapur tempat ia   terjebak. Keadaan sekelilingnyat tak ubah seperti korban pembantaian.   Mayat bergelimpangan di mana-mana, di antara tumpukan sampah-sampah   tsunami.
Hanya dalam hitungan detik, tsunami telah menghancurkan 800 kilometer   pesisir Aceh atau setara panjangnya Jakarta hingga Surabaya, menelan   beberapa pemukiman. Bukan hanya Aceh, pesisir 14 negera sekitar Samudera   Hindia juga terkena dampak. Lebih 200 ribu nyawa melayang.

Syarifah ikut kehilangan tiga dari empat anggota keluarga yang   tinggal di rumahnya. Kakak dan dua keponakannya jadi korban. Suami,   anak, serta ibunya selamat. Ia sendiri sempat tidak percaya masih bisa   hidup. &amp;ldquo;Allah masih memberi kesempatan kepada saya,&amp;rdquo; katanya.
Tiga hari usai tsunami ia diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat   Hercules TNI. Keluarganya di kampung mengira Syarifah, suami dan anaknya   telah tiada. Mereka sempat menggelar keduri dan samadiah, ritual adat   di Aceh untuk mengenang arwah.
Dinas Pendidikan, tempat instansi Syarifah bekerja juga sudah   memasukkan namanya dalam daftar pegawai-pegawai yang meninggal dalam   tsunami.
Tiga pekan di Jakarta, Syarifah melahirkan anak keduanya. Empat bulan   kemudian dia kembali ke Aceh dengan pikiran yang masih trauma. &amp;ldquo;Kalau   ke Banda Aceh rasanya airnya naik lagi gitu,&amp;rdquo; tuturnya.
Dia lalu memilih tinggal sementara di Montasik, Aceh Besar, sekira 19   kilometer dari Banda Aceh, sambil melatih pemulihan psikologis.  &amp;ldquo;Trauma  tidak bisa dihilangkan secara begitu saja,&amp;rdquo; ungkapnya.
Selain lewat sentuhan keagamaan, Syarifah juga banyak melibatkan diri   dalam kegiatan-kegiatan pelatihan kebencanaan untuk pemulihan.  Baginya,  terlibat dalam latihan simulasi mitigasi bencana adalah cara  ampuh  untuk menghilangkan trauma.
Awalnya, kata dia, ada beberapa guru yang menangis bahkan pingsan   ketika mengikuti latihan. Namun lama kelamaan rasa trauma guru-guru yang   pernah jadi korban tsunami itu bisa terkendali.
Bahkan dalam simulasi terakhir 17 Desember lalu, tak ada lagi guru   yang menangis. Mereka leluasa mengarahkan siswa-siswa bagaimana cara   menyelamatkan diri setelah gempa besar disusul tsunami, dengan berlari   ke daerah yang lebih tinggi.
Syarifah mengatakan, penting bagi masyarakat untuk belajar tentang   bencana dan cara menghindarinya. Tsunami 11 tahun lalu, kata dia, banyak   menelan korban karena minimnya pemahaman masyarakat tentang tsunami.  (day)Setelah air surut, dia baru sadar bahwa rumahnya sudah lenyap disapu  gelombang bersama seisi kampung. Yang tersisa hanya dapur tempat ia  terjebak. Keadaan sekelilingnyat tak ubah seperti korban pembantaian.  Mayat bergelimpangan di mana-mana, di antara tumpukan sampah-sampah  tsunami.
Hanya dalam hitungan detik, tsunami telah menghancurkan 800 kilometer  pesisir Aceh atau setara panjangnya Jakarta hingga Surabaya, menelan  beberapa pemukiman. Bukan hanya Aceh, pesisir 14 negera sekitar Samudera  Hindia juga terkena dampak. Lebih 200 ribu nyawa melayang.
&amp;lt;img src=&quot;http://i.okezone.tv/photos/2015/12/12/22442/140291_medium.jpg&quot; alt=&quot;Sisa Kedahsyatan Tsunami&quot;&amp;nbsp; width=&quot;100%&quot; /&amp;gt;
Syarifah ikut kehilangan tiga dari empat anggota keluarga yang  tinggal di rumahnya. Kakak dan dua keponakannya jadi korban. Suami,  anak, serta ibunya selamat. Ia sendiri sempat tidak percaya masih bisa  hidup. &amp;ldquo;Allah masih memberi kesempatan kepada saya,&amp;rdquo; katanya.
Tiga hari usai tsunami ia diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat  Hercules TNI. Keluarganya di kampung mengira Syarifah, suami dan anaknya  telah tiada. Mereka sempat menggelar keduri dan samadiah, ritual adat  di Aceh untuk mengenang arwah.
Dinas Pendidikan, tempat instansi Syarifah bekerja juga sudah  memasukkan namanya dalam daftar pegawai-pegawai yang meninggal dalam  tsunami.
Tiga pekan di Jakarta, Syarifah melahirkan anak keduanya. Empat bulan  kemudian dia kembali ke Aceh dengan pikiran yang masih trauma. &amp;ldquo;Kalau  ke Banda Aceh rasanya airnya naik lagi gitu,&amp;rdquo; tuturnya.
Dia lalu memilih tinggal sementara di Montasik, Aceh Besar, sekira 19  kilometer dari Banda Aceh, sambil melatih pemulihan psikologis. &amp;ldquo;Trauma  tidak bisa dihilangkan secara begitu saja,&amp;rdquo; ungkapnya.
Selain lewat sentuhan keagamaan, Syarifah juga banyak melibatkan diri  dalam kegiatan-kegiatan pelatihan kebencanaan untuk pemulihan. Baginya,  terlibat dalam latihan simulasi mitigasi bencana adalah cara ampuh  untuk menghilangkan trauma.
Awalnya, kata dia, ada beberapa guru yang menangis bahkan pingsan  ketika mengikuti latihan. Namun lama kelamaan rasa trauma guru-guru yang  pernah jadi korban tsunami itu bisa terkendali.
Bahkan dalam simulasi terakhir 17 Desember lalu, tak ada lagi guru  yang menangis. Mereka leluasa mengarahkan siswa-siswa bagaimana cara  menyelamatkan diri setelah gempa besar disusul tsunami, dengan berlari  ke daerah yang lebih tinggi.
Syarifah mengatakan, penting bagi masyarakat untuk belajar tentang  bencana dan cara menghindarinya. Tsunami 11 tahun lalu, kata dia, banyak  menelan korban karena minimnya pemahaman masyarakat tentang tsunami.  (day)</content:encoded></item></channel></rss>
